Peduli

 

Kau tak perlu kenal untuk menjadi sayang.

Kau hanya perlu peduli.

Kau tak perlu sayang untuk menjadi cinta.

Kau hanya perlu menjadi sangat peduli.

Kau tak perlu putus cinta untuk patah hati.

Kau hanya terlalu peduli.

Kau tak perlu menunggu seseorang terlalu lama.

Kalau dia tidak peduli.

Kalau bisa, aku tidak peduli.

Peduli atau tidak. Rasa peduli itu bukan kita yang atur.

Iklan

Harga Sebuah Pengertian

image

Andai setiap orang saling mengerti. Terbebas dari kalimat “tidak peka” pada realita sosial. Jauh di sana mungkin ada dunia pararel dimana setiap orang dapat langsung mengetahui setiap masalah yang orang lain hadapi hanya dengan memandang wajah. Mungkin seseorang tak perlu duduk menghabiskan tenaga dan waktu berharganya untuk memberikan penjelasan agar dimengerti oleh orang banyak. Karena kita telah sama-sama saling mengerti akan kekurangan satu sama lain.

Tapi disebelah manakah indahnya dunia saat kita tak perlu saling bicara – tak ada tabayyun atau sekadar mencurahkan isi hati? Di sebelah manakah indahnya pengertian bila kita bisa saling mengerti tanpa harus saling berbicara? Bukankah keindahan dari sebuah pengertian adalah saat kita berbicara dan diperhatikan oleh orang yang sejatinya benar-benar peduli kepada kita?

Ya, itulah keindahan sebuah bicara. Agar saling mengerti satu dengan yang lainnya. Tapi dewasa ini orang yang pengertian menjadi langka. Dan sesuatu bisa dikatakan langka bilamana banyak yang membutuhkan tetapi sedikit yang tersedia. Jadi sungguh tidaklah bersyukur bila ada orang yang meninggalkan orang yang pengertian kepadanya.

Sebuah pengertian tak muncul dengan sendirinya. Dalam kondisi apapun, seseorang tak akan pernah mengerti bila ia tidak belajar. Butuh empati untuk dapat saling mengerti, sedang empati tidak bisa diraih dengan mudah. Empati bisa timbul karena berbagi pengalaman hidup yang berharga. Tentu aneh bila seseorang justru meminta pengertian kepada seseorang yang pada dasarnya belum belajar atau tidak pernah diajarkan bagaimana cara agar berempati dan saling mengerti. Mengapa seseorang menggunakan jalan yang teramat sulit untuk akhirnya memilih menggunakan “kode-kode” bila pada akhirnya tujuan daripada diciptakannya lisan adalah sebagai indera manusia untuk memberikan penjelasan? Bukankah lebih baik untuk mempermudah sesuatu, bukan mempersulit termasuk pada urusan penjelasan!?

Jangan mempersulit diri bila ingin dimengerti, orang empati tak semurahan itu. Mereka sedikit dan akan selalu dicari. Mereka sama seperti orang pasa umumnya. Bisa lelah dan bisa menyerah juga. Maka adakah riwayat orang-orang baik terdahulu bila ditanya justru dijawab dengan “kode”? Jikalau tidak ada, lantas mengapa harus menjadikan orang-orang yang peduli terhadap kita sebagai “mainan tebak kode”?

Mungkin orang-orang tidak paham akan hakikat berbicara, sehingga tanpa disadari malah menjadikan orang yang tulus mendengarkannya jadi semakin tidak peduli. Mungkin orang-orang telah lelah untuk peduli dan lama-kelamaan jumlahnya semakin sedikit. Sebenarnya orang-orang pengertian tidaklah sedikit, kitalah yang selama ini membunuh kepedulian mereka.

Harga dari sebuah pengertian sangatlah mahal. Buktinya, kehilangan orang pengertian akan menyakitkan dan kitapun sadar dengan sendirinta bahwa mereka tak tergantikan oleh harta benda.

Bila memang seseorang memang berniat untuk mengerti, tanpa banyak penjelasan pun ia akan tetap mencoba memahami.

Sedangkan bila memang seseorang tidak berniat untuk mengerti, seterampil apapun penjelasannya ia akan tetap tidak peduli.