Flux

Jika bisa, saya akan terus duduk meluruskan kaki yang menopang buku ini. Kemudian menghiraukan angin yang berhembus membawa kabar dari kian penjuru itu. Sambil ditemani oleh beberapa turats yang hendak dijamah. Berdua saja bersama oase yang airnya takkan menipis, lalu bersandar pada pohon tua. Yang terdengar hanya suara gemuruh angin Рsesekali pula kertas yang tertiup. Terus-menerus membaca lembaran demi lembaran penggalan kisah para pendahulu. Begitu seterusnya, terhempas angin di tengah gurun, hingga tertutup oleh pepasir. Menyatu dengan debu. Tapi sholat tak menjadikan saya terkubur di pepasir bersama kesunyian. Kemudian lenyap dan terlupakan.

Iklan

Perahu Waktu

Entah kenapa saya suka dengan perumpamaan bahwa hidup ini layaknya berada di atas perahu. Sedangkan lautan ini ialah dunianya.

Hanya Tuhan yang tahu seberapa besar ukuran perahu kita. Ada perahu besar yang bisa membawa banyak perbekalan, ada pula perahu kecil yang hanya sekadar menampung tubuh kita sendiri. Maka kadang tidak heran ada orang yang menaikkan ikan, harta, dan hal lainnya dari lautan tetapi ia tidak tenggelam. Meski hakikat apa yang dicari dari laut sebetulnya hanyalah sebatas untuk menyambung hidup. Tapi ada pula yang menaikkan beberapa saja langsung tenggelam. Itulah mengapa akan ada waktunya saat keserakahan akan menenggelamkan seseorang. Saat ia menaikkan hal yang tidak seharusnya ke atas perahunya.

Perahu waktu terus membawa kita. Bisa saja kita berusaha mendayung yang notabene kita sendiri mengetahui betul bahwa ombak lebih kuat ketimbang otot. Agak lucu, seperti ikhtiarnya seseorang yang menentang takdir.

Dan di sinilah bagaimana Tuhan berperan. Sebesar apapun upaya seseorang yang berada di tengah lautan, lautan tidak akan pernah bisa dikendalikan. Maka benar Imam Ghazali mengajarkan bahwa perumpamaan dalam berdoa seharusnya bagaikan seseorang yang berada di tengah lautan dengan terombang-ambing di atas sebuah kayu. Iya, tiada kekuatan lain yang dapat menolong selain Tuhan, maka berserah dirilah dalam kehidupan.

Saat kita merasa sendirian, percayalah kita memang sendirian. Perahu yang kita tumpangi sejatinya memang untuk kita sendiri. Terkecuali memang ada saatnya kita membangun bahtera rumah tangga. Ada saat-saat dimana kita mengarungi lautan tidak lagi sendirian. Tetapi kelak mungkin kita akan sendirian lagi. Saat anak-anak kita sudah tak bisa lagi kita tampung dalam bahtera. Sehingga agar tidak tenggelam, ia membangun perahunya sendiri. Dan dalam takdir yang telah ditentukan, pasangan kita pun bisa meninggalkan kita lebih dahulu. Atau mungkin kita yang lebih dulu.

Kalau begitu, siapa yang akan selamat?

Mereka yang selamat ialah mereka yang menjaga dirinya agar tidak tenggelam. Hingga pada akhirnya mereka sampai di tempat tujuan yang seharusnya. Mungkin saja itu terjadi kepada kerabat kita yang lebih dahulu mendahului kita, mungkin pula pasangan kita, atau mungkin nanti kita bersamaan mereka.

***

Entahlah, tapi kali ini saya ingin mengarungi lautan ini sendiri. Mungkin dalam waktu yang cukup lama. Karena beberapa kali mencoba mengarungi bersama dengan orang yang diharapkan, yang didapat hanya kekecewaan dan keadaan dimana hampir tenggelam.