Sekat

Aku tak benar-benar ke dalam. Aku hanya memanggilmu dari luar, dari balik penghalang saja.

Aku tak benar-benar pergi. Aku hanya membangun penghalang saja.

Dan aku tak benar-benar pernah kehilangan. Aku hanya terbatasi oleh sebuah penghalang saja.

Aku selalu ada. Meski penghalangnya berbeda-beda.

IMG_3609

Iklan

Panggung yang Runtuh

Sekarang ini aku menjadi penakut sebelum bicara. Takut apa yang keluar adalah hal yang tidak pernah ada.

Saya pernah menjadi seorang pembohong yang dimuliakan khalayak. Kebohongan demi kebohongan keluar dari lisan layaknya menceritakan hal yang benar-benar terjadi. Semua terbius dalam  gambaran manis yang dikemas pada kata-kata yang terlontar. Tetapi paling tidak, tulisan saya tidak pernah berdusta. Mungkin karena lebih banyak keluar dari benak yang terdalam.

Kadang saya menjelaskan diri saya terlalu jauh dari kenyataan. Jika saya terlambat atau tidak menghadiri sesuatu yang penting karena tertidur, saya beralasan bahwa saya sedang sibuk. Jika saya mendapat nilai buruk, saya selalu mengatakan nilai saya sangat memuaskan. Jika saya tidak mengerjakan apa yang diamanahkan karena malas, saya beralasan saya sedang sakit. Dan apapun saya katakan agar orang memandang saya sebagai orang baik.

Adapun kebohongan lain yang saya lakukan yaitu mengatakan bahwa saya telah melakukan hal-hal hebat, meski sebenarnya bukan saya yang melakukan. Adapula menjelaskan hal buruk yang dikerjakan oleh orang lain padahal diri saya sendiri. Kadang saya pun melebih-lebihkan sebuah cerita agar terdengar lebih lucu dan lebih menarik. Terlebih kadang mengatakan bahwa saya sedang tidak mencintai siapapun disaat saya sedang jatuh cinta pada seseorang. Dan tentunya semua kebohongan yang kadang hampir ketahuan itu saya tutupi dengan kebohongan yang lain. Meski ada pula yang terlanjur diketahui orang.

Sampai akhirnya tiba di satu malam hampir dua tahun lalu, saya berharap sesuatu yang belum pernah saya lakukan.

Tuhan, aku ingin semua ini selesai. Aku lelah membohongi banyak orang setiap hari. Aku lelah menutupi ini setiap hari. Tetapi aku takut semuanya terbongkar begitu saja. Maka saat itu terjadi, kuatkanlah aku, Ya Tuhan Yang Maha Mengetahui Lagi Maha Melihat. Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.

Bodohnya diri saya, saya masih berbohong di esoknya. Masih saja terlalu takut untuk mengatakan yang sebenarnya. Tetapi lambat-laun, mereka pun tahu. Atau mungkin selama ini telah tahu, namun tidak ingin membuat saya merasa terlalu bersalah. Meski kian hari, satu demi satu, semua orang mulai menjauh. Teman dekat meninggalkan, rekan pun tak lagi menyapa. Hingga yang tersisa dari mereka hanya sangat sedikit. Di saat inilah saya mulai berani untuk memulai berkata apa adanya.

Tibalah hari-hari di saat ibu saya sakit keras setahun yang lalu. Kami berdua menghabiskan hari-hari bersama di rumah sakit. Pembicaraan dan lelucon yang selama ini tidak kami utarakan selama ini semuanya benar-benar tertuntaskan seolah kami memang tidak akan saling bicara lagi untuk selamanya. Dan kamipun menyadari, bahwa penyakit yang diderita sangat lain dari yang sebelumnya. Betul-betul seolah tiada harapan untuk sembuh. Sampai kemudian sebelum kesadaran beliau benar-benar hilang, saya memegang tangannya dengan erat tetapi malah masih sempat-sempatnya mengatakan hal bohong.

Emak akan sembuh. Semua akan baik-baik saja.

Tepat di hari Jumat, ibu saya masuk ICU. Tak henti-hentinya doa saya panjatkan demi sebuah keajaiban. Hingga kemudian keamanan dan perawat ICU memanggil pihak keluarga untuk memasuki ruang ICU. Saat itu ruang tunggu seketika berubah menjadi lebih dingin. Perlahan saya memasuki ruang ICU. Saya menyadari saat ini akan tiba. Saya membisikkan kalimat kesaksian di telinga ibu saya berulang kali. Sampai dokter menepuk pundak saya sambil berkata ibu sudah tidak ada. Dan saya teringat bahwa saya telah berbohong dengan berkata bahwa beliau akan sembuh. Jam menunjukkan pukul 23:28.

Di saat itu panggung sandiwara yang selama ini saya mainkan benar-benar runtuh. Sampai dengan seratus hari kematian beliau adalah hari-hari yang sangat berat bagi diri saya. Hingga kemudian secara tidak saya sadari, saya telah berubah karena lebih banyak bungkam. Saya berhenti berbohong demi diri saya sendiri untuk selama-lamanya. Terima kasih Tuhan.

Peduli

 

Kau tak perlu kenal untuk menjadi sayang.

Kau hanya perlu peduli.

Kau tak perlu sayang untuk menjadi cinta.

Kau hanya perlu menjadi sangat peduli.

Kau tak perlu putus cinta untuk patah hati.

Kau hanya terlalu peduli.

Kau tak perlu menunggu seseorang terlalu lama.

Kalau dia tidak peduli.

Kalau bisa, aku tidak peduli.

Peduli atau tidak. Rasa peduli itu bukan kita yang atur.

Mantra

Biarlah samudra itu menunjukkan bahwa ia tak mampu menenggelamkan rasaku sebagaimana candamu melakukannya.

Biarlah petir itu bersaksi bahwa ia tak mampu menyambar kesadaranku sebagaimana setiap panggilanmu melakukannya.

Biarlah gunung itu bersaksi bahwa ia tak mampu meluluhlantakkan egoku sebagaimana setiap rayuanmu melakukannya.

Jikalau hari ini ada karena kumpulan detik, maka detik-detik denganmu adalah kesempurnaan hariku.

Jikalau mentari itu adalah kumpulan masa hingga menjadikannya bercahaya, maka masa-masa yang kulalui denganmu ialah cahaya yang menerangiku di setiap lembaran usia.

Berpikir tentangmu kadang membuatku melakukan hal-hal aneh. Seperti tersenyum menatap jendela. Seakan seisi dunia ini tampak membuatku bahagia.

Berpikir tentangmu kadang membuatku melakukan hal-hal aneh. Seperti bernyanyi di hadapan cermin. Seakan seisi dunia ini sedang memujaku.

Satu alasan mengapa kau adalah yang terbaik ialah kau membuatku tak bisa lagi melirik bahkan kepada yang baik-baik!

Satu alasan mengapa kau adalah yang terindah ialah dengan mengingatmu saja segalanya tampak menjadi lebih indah!

***

Hai kamu, iya!

Setiap pagi dan sorenya menjelma doa

Agar kamu memimpin hati ini dengan tahta

Permaisuri dengan cipta dan cinta

Yang mengangkatku menjadi pemahat kata

Sekaligus Raja

Hai kamu, iya!

Setiap siangnya menjadi tenaga

Agar aku memiliki kuasa

Yang selalu memacu asa

Semangat dalam kerja

Hai kamu!

Setiap malamnya menjelma rindu

Sayangku

Ini tentang kamu, aku

Selalu

Bumi Itu Kamu

1607084

Sampai saat ini
Atmosfer itu hanya ada padamu
Hingga rasanya seperti sesak bila jauh darimu.
Cobalah sesekali melambai padaku
Bukankah gemulai tanganmu begitu ayu
Layaknya ukiran batu dan pasir di Arizona

Di tengah yang terang kau layaknya mutiara
Pada yang gelap, kau nampak layaknya aurora.
Selalu sejuk bagai oasis di tengah Sahara
Mengalihkan perhatianku bagai kompas yang selalu ke arah Utara

Senyummu mengingatkanku pada lengkungan di cakrawala
Sesekali tampak gigimu yang laksana permata
Kadang juga seperti matahari di kala senja
Inginkah kau menyapa?
Nanti aku terbang ke Antartika

Kau membuatku lupa akan setiap pendakianku
Wajahmu lebih cantik dari panorama yang ada
Tampaknya aku jatuh padamu
Ada gravitasi yang menyelimutimu
Bisakah kau menatapku
Agar aku tahu sepasang amethyst matamu itu?

Aku bingung, pakaianmu selalu serasi
Seperti danau tiga warna
Setiap untaian kata yang kau buat
Benar-benar menenggelamkanku bagai Niagara
Kadang juga menenangkan seperti Katatumbo
Tapi tetap indah layaknya Raja Ampat

Kau pasti wanita yang setegar Maunakea
Kau memiliki hati sedalam palung Mariana
Kesabaran seluas Eurasia
Pengetahuan setinggi dirgantara
Biarkan aku bernaung padamu
Karena Bumi itu kamu

*nb: Sedangkan aku hanyalah ampas jus mengkudu

Artefak

 

 

Heart shaped tree on open book

Sesekali aku ini ingin menjadi malaikat, yang selalu patuh kepada Tuhan agar terus mendampingimu. Tapi tak lebih asyik bila dibandingkan menjadi orang yang mencintaimu meski tak selalu ada disampingmu.

***

Kamu terjebak dalam setiap neuron, setiap arteri, dan setiap syaraf yang aku punya. Dan caraku mengeluarkanmu ialah dengan menuliskan semua tentangmu.

***

Dihadapanmu aku bertopeng keluguan, bukan sebagai seorang penipu. Melainkan agar berpura-pura tidak mengetahui kekuranganmu.

***

Ada alasan Tuhan menyembunyikan masa depan, agar kita tetap berusaha. Setiap masa memiliki ujian dan musibahnya masing-masing. Kalaupun kita tahu, kita belum tentu siap dengan kenyataan.

***

Sebuah keajaiban bukan ada sekadar untuk cinta atau dapatnya pujian manusia. Ia ada agar kita kembali kepada Tuhan.

***

Akan ada banyak pilihan agar dapat disebut rupawan. Tetapi cukup dengan satu pilihan agar dapat disebut setia.

***

Setiap orang pasti menghargai harta. Tapi investasi yang paling berharga itu kepercayaan.

***

Hidup itu tentang pilihan. Dan sejatinya manusia hanya ingin memilih agar tidak menyesal.

***

Seorang ibu pasti menyukai anaknya apa adanya. Tubuhnya, jiwanya, tawanya, tangisnya, kelebihannya, maupun kekurangannya. Tiada ibu yang menyukai darah dagingnya dengan seperlunya. Belajarlah arti cinta dari seorang ibu.

***

Kelak selain di dunia, air mata tidaklah berharga. Menangislah sesukamu bila memang itu baik.

***

Aku akan selalu peduli kemanapun kau pergi. Selama kamu sadar bahwa aku adalah tempat kau pulang.

***.

Batasan keputusan untuk bertahan dapat dikatakan bodoh atau bijak hanyalah persoalan saat kita masih dihargai atau tidak.

***

Bila kelak kita menemukan orang yang pantas untuk dicintai seumur hidup, sejatinya kita telah mendapatkan sebuah pencapaian yang indah dalam hidup.

***

Musuh adalah guru yang mengajarkan bahwa hidup tak selalu tentang cinta.

***

Tidak perlu harus jauh mendaki sebuah puncak. Menatap dirimu saja sudah cukup.

***

Menyebut namamu adalah reflek yang sulit kukendalikan setelah menyebut Tuhan dan utusan-Nya dalam setiap doaku.

***

Jikalau mengingatmu membuatku mengingat Tuhan, aku pikir ini cinta.

***

Alasan dari munculnya rasa bosan manusia adalah karena tidak menghasilkan apapun. 

***

Buanglah apa yang membuatmu takut. Meski sulit, setidaknya itu tidak akan membuahkan penyesalan.

***

Cinta itu indah karena kesuciannya. Dan akan semakin indah bila kita sabar.

***

Kesalahan adalah kesalahan. Tapi jangan salahkan sebuah “maaf”.

***

Hanya karena kamu mencintai langit karena tinggi dan indahnya, kamu sampai lupa daratan. Padahal bila kamu kenal langit, apa yang ada di atas sana jauh akan lebih berbahaya untukmu.

***

Cinta itu memang ada bagian pengorbanannya. Bila merasa menjadi korban, itu belum bisa disebut cinta.

***

Cinta itu seperti ekosistem. Ada yang harus tumbang untuk melindungi mereka yang harus bertahan.

***

Rindu itu duri yang digenggam. Sedangkan merindukan masa lalu itu seakan kita sedang menonjok dengan tangan yang menggenggam duri.

***

Mengingat kematian itu membuat seseorang menjadi memiliki visi yang elegan.

***

Ada kalanya kita harus egois soal cinta. Karena cinta yang dibagi-bagi itu terlalu aneh. Kalaupun ingin selalu berbagi, berbagilah kebahagiaan.

***

Cinta adalah jawaban yang mengalahkan hal logis. Mirip seperti sihir. Yang membedakan adalah dalam cinta memiliki elemen harapan.

***

Rasanya aku ingin sekali pergi ke tanah lapang. Meneriakkan namamu. Hingga aku sadar bahwa kamu tidak ada. 

***

Aku ingin benar-benar ingin berhenti bila mencintai itu sakit. Paling tidak, aku bisa berhenti sejenak untuk beristirahat kemudian kembali mencintai lagi.

***

Kenangan itu manis saat kau tidak bisa menggapainya.

***

Tuhan memberikan waktu kesendirian untuk memperbaiki diri. Bukan untuk meratapi apa yang memang tidak diberikan Tuhan.

***

Aku ini seperti berada di sebuah panggung “pura-pura kuat” dalam sebuah acara bertajuk “kesabaran menghadapi kenyataan”.

***

Kadang ada masa saat aku ditinggalkan seseorang. Itulah saatnya mengejar ketertinggalan, bukan mengejar ia yang meninggalkan.

***

Mencintai ajaran Tuhan dan diri sendiri adalah dua cinta yang selalu terbalas.

***

Untuk menjadi sadar, perjalanannya cukup panjang. Dari mulai merendah, bersabar, bersyukur, beribadah, bergaul, berkarya, bahkan sampai pergi ketempat yang sangat jauh. Hingga akhirnya aku mengetahui betul bahwa karunia terindah adalah apa yang diperjuangkan kemudian disyukuri.

Yang Tidak Berubah

Sampai pada jam pasir ini telah habis seluruhnya

Sampai pelangi ini pun usai dilukis

Sampai akhirnya usia ini pun mulai terkikis

Darahmu ini tetap menyakitimu

Tulangmu ini terus memebanimu

Jemari ini pun bahkan belum selesai menodaimu

Dan engkau selalu sama saja

Balasan sayang masih tetap terasa sama

Meskipun kini keriput itu mulai mencoba menutupinya

Senyumanmu tetap yang terbaik

Ibu

Imaji, Nona

fishy_love_by_monika_es-d5yl3oo

Aku bingung bagaimana cara romantis. Meski begitu, aku benar-benar masa bodo, Nona.

Meski marmut mampu belly dance, anak kucing menyanyi qosidah, atau pinguin bermain Catur Jawa. Wajahmu itu tetap yang paling imut.

Andai bumi memang datar, mata Illuminati kemudian belekan, atau Pokémon artinya “aku baper”. Maka memikirkanmu itu lebih penting.

Walau suatu saat kuntilanak pakai bikini, pocong terkena obesitas, dan tuyul jadi dosen matematika. Maka kehilangan dirimu itu tetap lebih kutakuti.

Sampai Einstein pakai bocoran UN, Donald Trump ngefans sama Jarwo, Mr. Krab jadi karyawan Bank Indonesia. Tertawamu itu lebih kunantikan.

Meskipun nanti Ichigo jadi wakil Kurapika dalam pemilu Turki. Atau Cucu Sasuke jadi bintang sinetron Uttaran. Kabar tentangmu ialah tetap yang utama.

Pada hari dimana Saitama bertarung melawan Ipman, ninja Hatori dilantik jadi Hokage, dan Annabelle berhijab syar’i. Menyaksikanmu tetap jauh lebih istimewa.

Jika nanti Harry Panca ternyata ayahnya Upin dan Ipin, atau Stephen Hawking ternyata korban vaksin palsu. Maka itu tak lebih penting daripada membuatmu ceria.

Sampai semua hiu dibehel, semua ular kena pholio, dan semua sapi jadi anoreksia. Maka mencintaimu belum bisa kuhentikan.

Hingga nanti test TOEFL dijadikan ujian chunin, Detective Conan main kuda reot, dan Spiderman bunuh diri pakai Baygon. Biarkan aku tetap memujamu.

Meski Kim Jong Un buka bimbingan belajar, Mark Zuckerberg buka Biro Jasa STNK, dan Putin buka kedai seblak. Aku lebih tertarik dengan pesona dan aktivitasmu.

Masa bodo dulunya Valak pernah main Tamiya, Superman pakai celana dalam di kepala, atau Ariana Grande menge-chat pribadi. Apa yang kita lalui nanti adalah kenangan yang membuat orang lain iri.

Tetapi, sekalipun aspartame dan detergen dipadukan air laut dan cuka untuk kujadikan obat tetes mata, maka air mata ini jelas tak akan lebih banyak ketimbang mengetahui bahwa aku telah menyakitimu, Nona.

Keraguan

Bila suatu hari engkau bertemu seorang pelacur yang mengatakan “aku melakukan ini demi menghidupi kebutuhan anak-anakku.” Kemudian engkau pun menjadi ragu untuk mengatakan bahwa prostitusi itu salah. …

Bila suatu hari engkau bertemu seorang pedagang curang yang mengatakan “aku melakukan ini demi menghidupi istri dan anak-anakku.” Kemudian engkau pun menjadi ragu untuk mengatakan bahwa kecurangan itu salah. …

Dan bila suatu hari engkau bertemu lesbian yang mengatakan “cinta tak memandang apa pun. Aku diciptakan Tuhan seperti ini”. Kemudian engkau pun menjadi ragu untuk mengatakan bahwa LGBT itu salah. …

Dan bila suatu hari engkau melihat bila pemukiman kumuh digusur secara paksa dengan alasan “perbaikan sistem” dibalik kepentingan kaum borjuis, kemudian engkau pun menjadi ragu bahwa penindasan itu salah. …

Maka saat itu sebenarnya aku pun mulai meragukanmu.

Sebab bilamana suatu hari nanti aku melakukan kesalahan dan kau tak lagi menegurku karena terlalu banyak keraguan di kepalamu, maka aku akan sangat takut.

Karena boleh jadi Tuhan-lah yang akan langsung memberi teguran.

image

Cakrawala

Sewaktu kecil dulu, aku pernah bertanya-tanya kepada benak yang menjawab ala kadarnya itu, tentang apa yang menanti di ujung dunia. Sepertinya aku harus mulai berjalan untuk mencari jawaban itu. Dan rasanya yakin semudah menapaki jalan yang lurus saja hingga akhirnya menemukan apa yang ku mau. Terus berjalan sampai lupa akan siapa, kapan, dan dimana.

Hanya batas kemampuan diri yang menegur untuk berhenti untuk kembali melanjutkan. Dan semakin dikejar, semakin banyak kehilangan. Meski daratan dan lautan itu sudah kuarungi. Semua jerih payah ini sedikit demi sedikit mulai membuahkan penyesalan.

Dan kala saya telah lelah, ternyata dunia ini memang tiada ujungnya. Hanya sebuah perjalan panjang yang akhirnya kembali pada titik dimana kita memulai. Kemauan ini yang ku anggap sebagai ketidakpuasan. Seharusnya aku hanya perlu bersyukur.

Bisik hati yang terdalam, bukankah dunia memang seperti itu?
Semakin kita kejar, semakin tiada habisnya.
Semakin kita ingin lebih banyak, justru hal yang sudah kita dapatkan justru kita tinggalkan.
Semakin kita berjuang, yang kita dapat hanya lelah.

Aku pada akhirnya mengerti, dimanapun aku berdiri, maka aku ada di ujung dunia. Boleh jadi apa yang aku miliki adalah impian yang selama ini orang idam-idamkan, atau mungkin akulah impian itu.

Tempatku berdiri adalah dunia yang ingin oranglain tuju. Dan ia ada di belahan dunia yang lain – ujung dunia juga.

Dan sejujurnya, mengejar dunia itu melelahkan. Kalau boleh sekali lagi aku mengejar dunia, aku akan ke rumahmu saja.

Yang ku tahu, kamu sebaik-baiknya perhiasan dunia.

image