Artefak

 

 

Heart shaped tree on open book

Sesekali aku ini ingin menjadi malaikat, yang selalu patuh kepada Tuhan agar terus mendampingimu. Tapi apa asiknya bila dibandingkan menjadi orang yang mencintaimu meski tak selalu ada disampingmu.

***

Kamu terjebak dalam setiap neuron, setiap arteri, dan setiap syaraf yang aku punya. Dan cara aku mengeluarkanmu, adalah dengan menuliskan semua tentangmu.

***

Selama ini aku bertopeng keluguan, bukan sebagai seorang penipu. Melainkan agar berpura-pura tidak mengetahui kekuranganmu agar kamu tetap nyaman.

***

Ada alasan Tuhan menyembunyikan masa depan, agar kita tetap berusaha. Setiap masa memiliki ujian dan musibahnya masing-masing.

***

Sebuah keajaiban bukan ada sekadar untuk cinta atau dapatnya pujian manusia. Ia ada agar kita kembali kepada Tuhan.

***

Akan ada banyak pilihan agar dapat disebut rupawan. Tetapi cukup dengan satu pilihan agar dapat disebut setia.

***

Setiap orang pasti menghargai harta. Dan investasi yang paling berharga itu kepercayaan.

***

Hidup itu tentang pilihan. Dan sejatinya manusia hanya ingin memilih agar tidak menyesal.

***

Seorang ibu pasti menyukai anaknya apa adanya. Tubuhnya, jiwanya, tawanya, tangisnya, kelebihannya, maupun kekurangannya. Tidak ada ibu yang menyukai darah dagingnya dengan seperlunya. Belajarlah arti cinta dari seorang ibu.

***

Kelak selain di dunia, air mata tidaklah berharga. Menangislah sesukamu bila memang itu baik.

***

Aku akan selalu peduli kemanapun kau pergi. Selama kamu sadar bahwa aku adalah tempat kau pulang.

***.

Batasan keputusan untuk bertahan dapat dikatakan bodoh atau bijak hanyalah persoalan saat kita masih dihargai atau tidak.

***

Bila kelak kita menemukan orang yang pantas untuk dicintai seumur hidup, sejatinya kita telah mendapatkan sebuah pencapaian yang indah dalam hidup.

***

Musuh adalah guru yang mengajarkan bahwa hidup tak selalu tentang cinta.

***

Tidak perlu harus jauh mendaki sebuah puncak. Menatap dirimu saja sudah cukup.

***

Menyebut namamu adalah reflek yang sulit kukendalikan setelah menyebut Tuhan dan utusan-Nya dalam setiap doaku.

***

Jikalau mengingatmu membuatku mengingat Tuhan, aku pikir ini cinta.

***

Alasan dari munculnya rasa bosan manusia adalah karena tidak menghasilkan apapun. 

***

Buanglah apa yang membuatmu takut. Meski sulit, setidaknya itu tidak akan membuahkan penyesalan.

***

Cinta itu indah karena kesuciannya. Dan akan semakin indah bila kita sabar.

***

Sebuah “maaf” tak pernah salah meski diucapkan berulang-kali, apalagi untuk Tuhan. 

***

Hanya karena kamu mencintai langit karena tinggi dan indahnya, kamu sampai lupa daratan. Padahal bila kamu kenal langit, apa yang ada di atas sana jauh akan lebih berbahaya untukmu.

***

Cinta itu memang ada bagian pengorbanannya. Bila merasa menjadi korban, itu belum bisa disebut cinta.

***

Cinta itu seperti ekosistem. Ada yang harus tumbang untuk melindungi mereka yang harus bertahan.

***

Rindu itu duri yang digenggam. Sedangkan merindukan masa lalu itu seakan kita sedang menonjok sesuatu dengan tangan yang memegang duri itu.

***

Mengingat kematian itu membuat seseorang menjadi memiliki visi yang elegan.

***

Ada kalanya kita harus egois soal cinta. Karena cinta yang dibagi-bagi itu terlalu aneh. Kalaupun ingin selalu berbagi, berbagilah kebahagiaan.

***

Cinta adalah jawaban yang mengalahkan hal logis. Mirip seperti sihir. Yang membedakan adalah dalam cinta memiliki elemen harapan.

***

Rasanya aku ingin sekali pergi ke tanah lapang. Meneriakkan namamu. Hingga aku sadar bahwa kamu tidak ada. 

***

Aku ingin benar-benar ingin berhenti bila mencintai itu sakit. Paling tidak, aku bisa berhenti sejenak untuk beristirahat kemudian kembali mencintai lagi.

***

Kenangan itu manis saat kau tidak bisa menggapainya dikarenakan waktulah yang membuatnya tidak bisa, bukan karena pernah ada kebencian di dalamnya.

***

Tuhan memberikan waktu kesendirian untuk memperbaiki diri. Bukan untuk meratapi apa yang memang tidak diberikan Tuhan kepadamu.

***

Aku ini seperti berada di sebuah panggung “pura-pura kuat” dalam sebuah acara bertajuk “kesabaran menghadapi kenyataan”.

***

Kadang ada masa saat aku ditinggalkan seseorang. Itulah saatnya mengejar ketertinggalan, bukan mengejar ia yang meninggalkan.

***

Mencintai ajaran Tuhan dan diri sendiri adalah dua cinta yang selalu terbalas.

***

Untuk menjadi sadar, perjalanannya cukup panjang. Dari mulai merendah, bersabar, bersyukur, beribadah, bergaul, berkarya, bahkan sampai pergi ketempat yang sangat jauh. Hingga akhirnya aku mengetahui betul bahwa karunia terindah adalah apa yang diperjuangkan kemudian disyukuri.

Iklan

Yang Tidak Berubah

Sampai pada jam pasir ini telah habis seluruhnya

Sampai pelangi ini pun usai dilukis

Sampai akhirnya usia ini pun mulai terkikis

Darahmu ini tetap menyakitimu

Tulangmu ini terus memebanimu

Jemari ini pun bahkan belum selesai menodaimu

Dan engkau selalu sama saja

Balasan sayang masih tetap terasa sama

Meskipun kini keriput itu mulai mencoba menutupinya

Senyumanmu tetap yang terbaik

Ibu

Butuh Cermin

Seorang senior pernah menyampaikan hal yang cukup membuat saya tersenyum. “Perowi bukan membohongi kucing. Saat tangan seorang perowi memberikan isyarat kepada seekor kucing agar kemudian si-kucing menghampirinya, itu memang sedari awal sang perowi ingin bermain dengan kucing. Tapi malah perowi dianggap bohong dengan alasan si-kucing menganggap bahwa isyarat tangan yang dimaksud adalah ingin memberinya makan. Dan saat menyadari di tangan perowi tidak ada makanan, merasa dibohongi. Padahal perowi gak PHP, ya memang kucingnya saja yang geer.

***

Kenyataan kadang memang sulit untuk dipahami. Terutama di zaman modern ini muncul istilah-istilah yang sejatinya mengabu-abukan empati.

Orang takut peduli karena takut dibilang kepo.

Orang takut tersakiti karena takut dibilang baper.

Orang takut ramah karena takut dibilang sok asik.

Orang takut kreatif karena takut dibilang alay.

Orang takut empati karena takut dibilang modus.

Orang takut diam karena takut dibilang kaku.

Orang takut menasihati karena takut dibilang sok iya.

Orang takut bijak karena takut dibilang sok suci.

Atau

Orang takut berkenalan lebih jauh karena takut dibilang PHP.

Dan takut merespon lebih jauh karena takut dibilang geer.

Terlalu banyak rambu-rambu yang mengatur manusia. Sehingga lama-kelamaan orang jadi malas hidup di dunia nyata. Kemudian menciptakan kepribadian idealnya sendiri di media sosial yang seolah lahir tanpa cacat. Dengan rupa yang dibuat sebagus mungkin dan kalimat yang disusun seindah mungkin. Berikutnya energi untuk saling merasa bahwa dirinya sempurna pun tumbuh. Sehingga bila menemukan teman sosial medianya salah sedikit, akhirnya dihujat, dicaci, bahkan dimusuhi.

Dan akhirnya muncul sebuah energi negatif baru yang belum pernah ada pada zaman sebelumnya. Inilah ilusi kebencian. Kebencian yang hadir meski sejatinya tidak ada sebab yang benar-benar pasti. Kebencian kepada sosok yang sebenarnya tidak pernah ada.

Sepertinya kita perlu bercermin untuk melihat bahwa diri kita adalah ciptaan Tuhan yang sudah sempurna dengan kadar kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Sehingga kesadaran ini akan menimbulkan rasa saling menghargai, empati, dan memunculkan sebuah energi semangat perdamaian yang baru.

***

Betul-betul sulit memberikan batasan agar tidak terjebak PHP dan geer. Tetapi bila kita tarik garis lurus, selama ini memang perowi yang disalahkan. Karena sudah qodratnya makhluk hidup memiliki sifat untuk selalu berharap. Jikalau memang tidak mau kucingnya geer, ya jangan dibuat berharap.

Meskipun begitu, saya adalah orang yang cukup mudah untuk dibuat geer. Dan sudah puas untuk terus-terusan dicaci karena ke-geer-an. Rasanya ingin bertobat saja. Sehingga bila suatu malam saya harus melewati sebuah lokasi pemakaman umum, kemudian terdengar suara panggilan menyebut nama saya. Maka saya tidak perlu takut, tidak perlu menoleh, dan abaikan saja! Karena kalau saya merespon, mungkin lagi-lagi saya akan disebut geer!

Imaji, Nona

fishy_love_by_monika_es-d5yl3oo

Aku bingung bagaimana cara romantis. Meski begitu, aku benar-benar masa bodo, Nona.

Meski marmut mampu belly dance, anak kucing menyanyi qosidah, atau pinguin bermain Catur Jawa. Wajahmu itu tetap yang paling imut.

Andai bumi memang datar, mata Illuminati kemudian belekan, atau Pokémon artinya “aku baper”. Maka memikirkanmu itu lebih penting.

Walau suatu saat kuntilanak pakai bikini, pocong terkena obesitas, dan tuyul jadi dosen matematika. Maka kehilangan dirimu itu tetap lebih kutakuti.

Sampai Einstein pakai bocoran UN, Donald Trump ngefans sama Jarwo, Mr. Krab jadi karyawan Bank Indonesia. Tertawamu itu lebih kunantikan.

Meskipun nanti Ichigo jadi wakil Kurapika dalam pemilu Turki. Atau Cucu Sasuke jadi bintang sinetron Uttaran. Kabar tentangmu ialah tetap yang utama.

Pada hari dimana Saitama bertarung melawan Ipman, ninja Hatori dilantik jadi Hokage, dan Annabelle berhijab syar’i. Menyaksikanmu tetap jauh lebih istimewa.

Jika nanti Harry Panca ternyata ayahnya Upin dan Ipin, atau Stephen Hawking ternyata korban vaksin palsu. Maka itu tak lebih penting daripada membuatmu ceria.

Sampai semua hiu dibehel, semua ular kena pholio, dan semua sapi jadi anoreksia. Maka mencintaimu belum bisa kuhentikan.

Hingga nanti test TOEFL dijadikan ujian chunin, Detective Conan main kuda reot, dan Spiderman bunuh diri pakai Baygon. Biarkan aku tetap memujamu.

Meski Kim Jong Un buka bimbingan belajar, Mark Zuckerberg buka Biro Jasa STNK, dan Putin buka kedai seblak. Aku lebih tertarik dengan pesona dan aktivitasmu.

Masa bodo dulunya Valak pernah main Tamiya, Superman pakai celana dalam di kepala, atau Ariana Grande menge-chat pribadi. Apa yang kita lalui nanti adalah kenangan yang membuat orang lain iri.

Tetapi, sekalipun aspartame dan detergen dipadukan air laut dan cuka untuk kujadikan obat tetes mata, maka air mata ini jelas tak akan lebih banyak ketimbang mengetahui bahwa aku telah menyakitimu, Nona.

Dilema antara Tetap Konsisten atau Melakukan Resolusi

Sudah menjadi hal yang cukup latah bagi saya bilamana setelah usai sholat berjamaah di masjid, maka saya mundur menuju barisan paling belakang. Tak lain untuk mempersilakan bagi jamaah yang belum/ingin menunaikan sholat agar bisa melaksanakannya di barisan depan. Selain itu saya pun nyaman untuk melanjutkan berdoa tanpa harus khawatir mengganggu mereka yang sedang melaksanakan sholat. Lagipula, di barisan yang paling belakang ini saya justru punya kesempatan mengamati bagaimana cara para jamaah melaksanakan sholat. Bagi orang yang tahu banyak tentang saya, tatapan saya saat seperti ini merupakan hal yang cukup menyeramkan. Mungkin karena mereka tahu biasanya setelah ini saya pasti berkomentar.

“Tadi imamnya salah bacaannya.” tiba-tiba selentingan tersebut keluar dari jamaah yang ada di sebelah. Mendengar hal itu saya pun membenarkan hal yang ia katakan barusan, karena memang saya pun menyadarinya. Tapi tetap saya lanjutkan sholat sebagai bentuk menyempurnakan rukun.Memang benar dalam sholat berjamaah keputusan bisa diambil dengan mudah seperti demikian. Tetapi kadang dalam episode kehidupan, posisi seperti ini bisa diibaratkan sebuah dilema.

***

Pastinya seseorang pernah mengalami sebuah jebakan pikiran antara memilih ‘dikerjakan salah, tapi butuh’ atau ‘ditinggalkan mungkin benar, tapi sengsara’. Dalam kondisi lain yaitu dilema antara memilih untuk tetap konsisten atau melakukan resolusi. Atau seperti memilih antara yang terjamin tetapi sedikit atau yang berisiko terapi banyak. Dan masih banyak lagi kondisi senada yang sebenarnya memang tak akan lepas dari kodrat manusia.

Percayalah bahwa Tuhan Maha Adil, karena masih memberikan kesempatan bagi hambanya untuk memilih dan tidak harus melulu me-robot. Hanya saja dalam memilih kadang timbul keraguan. Keraguan itu datangnya dari ketakutan. Umumnya muncul dari ketakutan akan kehilangan apa yang telah dimiliki. Seperti kehilangan uang, teman, rasa aman, waktu luang, atau mungkin cinta.

Bilamana hidup diibaratkan sebuah buku, maka disinilah guna halaman sebelumnya. Yaitu agar kita bisa memahami apa yang ada pada halaman berikutnya. Sejatinya ketakutan adalah sebuah ilusi karena kita tidak mengerti akan mengatasi sebuah bahaya. Pada sebuah pilihan yang sulit, sebenarnya yang perlu dilakukan adalah belajar. Kita ragu karena kita belum banyak belajar. Maka tiada salahnya bila kita belajar terlebih dahulu sebelum memutuskan. Itulah mengapa belajar menjadi hal yang diwajibkan bagi setiap manusia. Agar kita tidak bingung, ragu, atau takut. Bukan untuk menjadikan pintar apalagi sombong.

Sebuah pilihan selalu punya risiko. Kadang juga butuh pengorbanan. Dan kadang juga memaksa kita untuk kehilangan. Tetapi mengapa harus merasa kehilangan bilamana kita sadar bahwa semua hanya sekadar titipan. Bila kita jeli, sesuatu yang dikorbankan adalah hal yang cenderung tergantikan. Memang benar, pada sebuah kondisi dimana seseorang telah konsisten selama bertahun-tahun pastinya membuat seseorang tersebut punya banyak keraguan untuk melangkah mengambil perubahan. Tetapi bila memang baik, mengapa tidak justru disegerakan. Belajarlah dari anak kelas 6 SD. Bila mereka takut masuk SMP karena khawatir kehilangan teman, guru, atau kebahagian masa kecilnya, maka mereka mungkin tidak akan menjadi apapun.

***

Sejujurnya bila saya tidak memahami bagaimana kaidah saat imam melakukan kesalahan saat sholat berjamaah, mungkin saat itu saya pun berada pada dilema antara ‘melanjutkan tapi takut gak sah’ atau ‘memisahkan diri tapi jadi gak dapet pahala berjamaah’. Disinilah contoh peran bagaimana ilmu menyelamatkan kegalauan seseorang. Untungnya, bagi saya, memilih kamu adalah bentuk menyelamatkan diri dari sebuah kegalauan.. Uhuk!

Sejauh Kepada Siapa Kita Mendengar

 

Seseorang pernah merespon sebuah nasihat dengan berkata, “Bicara itu mudah, melakukannya itu yang susah.” Saya yang mendengar ia berucap hal tersebut langsung saja percaya terhadap kalimat yang barusan ia katakan, tetapi saat itu pula saya tidak percaya kepadanya. Karena meski benar sekalipun, ia menyampaikannya disaat yang tidak tepat. Lagipula, kalimat itu lebih cocok untuk dipedengarkan untuk diri sendiri, bukan untuk orang-lain.

Seorang murid pernah bertanya kepada gurunya yang bijaksana, “bagaimana cara agar terhindar dari berbuat buruk manakala kita sedang sendirian?” Sang guru pun memberikan jawaban yang cukup singkat “sering-seringlah untuk mengajak bicara kepada diri sendiri.” Sebuah logika komunikasi yang cukup sederhana, bagaimana mungkin seseorang akan menyapa atau tak sungkan mengajak berbicara bilamana kita sendiri pun tidak pernah mengajaknya berbicara. Pada situasi yang sama, ternyata berlaku juga kepada diri sendiri.

Seseorang yang tidak akan mengkhianati kita hanyalah diri kita sendiri. Ia akan mencoba untuk membangunkan kita manakala sedang jatuh, dan membuat kita untuk tetap tersenyum manakala kita sedang menangis. Tapi disisi lain, ia juga dapat membawa pengaruh buruk manakala kita sedang baik. Hal yang mempengaruhinya tak lain adalah seberapa sering kita mengajak diri sendiri berbicara hal-hal yang baik. Ini mungkin terdengar mirip Jessica Method, meskipun bukan.

Apa yang seringkali terbalik adalah terlalu menganggap bahwa diri sendiri ini telah melakukan banyak hal, masih punya banyak waktu, atau mudah dimaafkan oranglain. Bila ada seseorang yang tak pernah berubah tabiat buruknya ketika sedang sendirian walaupun ia telah membaca, menyimak, maupun sering berucap kalimat yang baik. Mungkin selama ini ia melakukannya bukan untuk dirinya sendiri.

Ada milyaran kalimat bagus di luar sana, jutaan yang kita dengar, ribuan yang kerap kali kita  ulang-ulang agar didengar dan dibaca oleh ratusan orang. Tapi mungkin hanya beberapa yang kita sampaikan untuk diri sendiri.

Sunset Behind Book

image

Kurang lebih memasuki pekan ketiga setelah ayah tiada. Pada sebuah kondisi yang tidak bisa dijelaskan, saya adalah satu-satunya anggota yang justru tidak meneteskan air mata. Bukan berarti tak memiliki kesedihan, tetapi memang mungkin ekspresi kesedihan itu telah lelah menggerogoti saya jauh sebelum ayah meninggal. Katakanlah dulu saya yang sering menangis. Sehingga sepertinya air mata ini telah habis. Hanya bersisakan sebuah bayangan. Sebuah bayangan seakan sosok ayah yang telah meninggal itu hanyalah sedang pergi ke tempat yang tak terlalu jauh, dan sebentar lagi akan kembali pulang.

Ada kalanya bayang-bayang akan kematian justru bukan membuat saya merasa kehilangan, melainkan ketakutan. Bukan ketakutan terhadap siksa yang para pendahulu telah kisahkan. Melainkan takut untuk bertemu Tuhan. Mungkin agak sedikit aneh dan menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana mungkin ada seorang hamba yang meyakini bahwa Tuhan-nya adalah Maha Pengasih tetapi justru takut untuk menemui-Nya? Jawaban saya adalah takut untuk ditanya. Saya takut akan pertanyaan berupa alasan atau motif pada setiap perbuatan yang saya lakukan. Tuhan yang selama ini telah memberikan banyak titipan tetapi malah saya salah gunakan. Sejujurnya, saya takut untuk ditanya, melebihi takut daripada neraka-Nya.

Kenyataan yang saya hadapi sekarang adalah babak baru yang saya tulis pada sebuah buku catatan. Bilamana rencana hidup diibaratkan sebagai halaman berikutnya, mungkin ini seperti melongkap dua-tiga halaman, dan tiba pada halaman yang baru yang masih kosong. Saya memutuskan untuk menulis ulang kisah saya. Mungkin akan lebih banyak orang-orang baru yang saya cantumkan. Tentu saja beberapa tokoh memang, saya pertahankan untuk tetap saya tulis hingga hari tua. Hari-hari dimana hanya sedikit hal yang bisa dilakukan karena keterbatasan fisik. Dan di hari itu, buku ini akan kembali dibaca berulang-kali. Hingga akhirnya saya bertekat untuk tetap teguh, agar senja nanti kita tetap mengingat akan tulisan pada buku. Sebuah buku catatan amal.

Generasi Terburu-Buru

Di pagi harinya bangun dengan terburu-buru.

Ia bangun dengan mengerjakan rutinitas pagi dengan terburu-buru.

Agar bisa buru-buru berangkat menuju tempat yang dituju.

Diperjalanan, berkendara dengan terburu-buru.

Rambu-rambu pun tak lagi diindahkan demi tetap melaju cepat sambil terburu-buru.

Tak peduli akan ketidak-sengajaan orang yang menyerempet, langsung terburu-buru menghakimi.

Setelah babak-belur, kemudian ditinggalkannya orang itu dengan terburu-buru.

Sesampainya di tempat kerja, langsung buru-buru buka media sosial.

Melihat status yang menyindir, langsung buru-buru berkomentar.

Mengetahui ternyata sindiran itu tidak ditujukan kepadanya, seketika itu buru-buru dihapus.

Di tempat kerja, makan pun terburu-buru. Supaya waktunya produktif, katanya.

Waktu istirahat tiba, langsung terburu-buru meninggalkan tempat kerjanya.

Sesampainya di luar, buru-buru mencari teman untuk bersenda-gurau.

Saat waktu istirahat habis, langsung buru-buru kembali ke tempat kerja.

Tetapi saat sampai di tempat kerja, justru buru-buru ingin pulang.

Saat jam kerja telah selesai, lagi-lagi terburu-buru pulang meninggalkan tempat kerja.

Di perjalanan pulang pun terburu-buru. Hingga tak jarang keselamatan orang lain pun terancam.

Sesampainya di rumah, terburu-buru ingin istirahat. Waktu bicara dengan keluarga terasa singkat dan dingin.

Saat menunaikan sholat, dikerjakannya pun dengan terburu-buru.

Setelah selesai, tanpa berdoa langsung buru-buru berbaring ke tempat tidur.

Tiba saatnya tidur, maka ia pun berpikir.

“Entah kenapa hidupku terasa melelahkan.”

image

Katarsis dalam Nasihat

Di sudut lapangan, dari kejauhan saya pandangi kerumunan berseragam batik sekolah Islam terpadu yang telah usai menerima berita di hari pengumuman kelulusan. Rasanya seperti sebuah de javu. Tiba-tiba terbesit ketika dahulu saya pun pernah merasakan euforia kelulusan. Namun tentunya bukan diiringi dengan canda-tawa, melainkan berpikir. Di era yang serba bablas, kiranya dimulai dari situlah saya lebih suka meng-alienasi diri dengan kembali membaca buku-buku pemikiran zaman kegelapan. Tidak ada alasan lain terkecuali isinya yang memang bagus dan relevan. Mungkin perjalanan spiritual saya memang harus begitu.

***

Sejenak rasanya seperti terhipnotis dan kembali terdengar suara diri sendiri yang sedang membacakan sebuah paragraf tentang nilai kebijaksanaan dan kharisma yang mulai hilang dari retorika. Kiranya nanti akan sering sekali kita dengar kembali para tokoh yang bicara mengenai religi, moral, maupun etika dihadapan sebuah bangsa yang terkagum-kagum akan kesusastraannya tetapi sejatinya mereka telah tertipu daya pada keindahan bahasanya. Sehingga lupa akan maksud dari kalimat yang disampaikan.

Seseorang bijak pernah berkata “Orang yang menasihati seharusnya takut akan keindahan kata-katanya. Karena manakala nanti ia tak lagi mengindahkan bahasanya, orang lain justru tak mau lagi mendengar nasihatnya”. Lagipula yang bagus di dengar belum tentu benar. Sekalipun benar, maka belum tentu baik. Sejatinya nasihat yang baik itu bukan yang bagus bahasanya, melainkan yang telah dikerjakan terlebih dahulu oleh orang yang menyampaikannya.

Retorika seharusnya hanya dipakai jika perlu – seperti menyanyi. Aneh saja rasanya bila ada orang yang setiap berbicara selalu dilagukan. Yang disebut sebagai Raja dangdut pun tidak sampai sebegitunya. Jadi retorika pun sama – tak perlu sampai begitu. Bila harus menanggapi jika bertemu yang seperti itu, mungkin saya akan berkata Mau banget sampe dibilang “Widih!” sama orang lain?

Mungkin ada kepuasan tersendiri bagi mereka yang mengindahkan bahasa dalam penyampaian nasihat. Seperti menambah bumbu ke dalam sebuah air yang jernih. Padahal tidak semua air jernih akan semakin nikmat bila ditambah bumbu. Air yang jernih punya manfaat yang lebih besar ketimbang dibumbui. Karena air yang jernih itulah air yang justru menyembuhkan dan menyucikan. Dan nasihat ibarat air jernih. Jadi untuk apa dibumbui?

***

Suara kerumunan itu pun menyadarkan saya. Tampak adanya kelegaan di raut wajah mereka. Sepertinya hari pengumuman kelulusan sekolah itu merupakan hari baik bagi mereka. Tentunya sebelum mereka benar-benar sadar bahwa sistem telah mengatur kelulusan sekolah hanyalah awal dari bersekolah lagi di satuan pendidikan yang baru.

image

How media take your act

Harga Sebuah Pengertian

image

Andai setiap orang saling mengerti. Terbebas dari kalimat “tidak peka” pada sebuah dimensi sosial. Seandainya jauh di sana ada dunia pararel dimana setiap orang dapat langsung mengetahui setiap masalah yang orang lain hadapi hanya dengan memandang wajah. Mungkin seseorang tak perlu duduk menghabiskan tenaga dan waktu berharganya untuk memberikan penjelasan agar dimengerti oleh orang banyak. Karena kita telah sama-sama saling mengerti akan kekurangan satu sama lain.

Tapi disebelah manakah indahnya dunia saat mungkin kita tak perlu saling bicara – tak ada tabayyun atau sekadar mencurahkan isi hati? Di sebelah manakah indahnya pengertian bila kita bisa saling mengerti tanpa harus saling berbicara? Bukankah keindahan dari sebuah pengertian adalah saat kita berbicara dan diperhatikan oleh orang yang sejatinya benar-benar peduli kepada kita?

Ya, itulah keindahan sebuah bicara. Agar saling mengerti satu dengan yang lainnya. Tapi dewasa ini orang yang pengertian menjadi langka. Karena sejatinya butuh empati untuk dapat mengerti. Empati yang timbul karena berbagi kisah hidup yang berharga dan dibentuk menjadi cerita yang sederhana. Dan sesuatu bisa dikatakan langka bilamana banyak yang membutuhkan tetapi sedikit yang tersedia. Bukankah ini merupakan hal yang mendasar dalam sebuah kehidupan? Lantas sungguh tidaklah bersyukur bila ada orang yang meninggalkan orang yang pengertian kepadanya.

Sebuah pengertian tak muncul dengan sendirinya. Dalam kondisi apapun, seseorang tak akan pernah mengerti bila ia tidak belajar. Entah dari pengalamannya sendiri atau diajari. Maka tentulah aneh bilamana seseorang justru meminta pengertian kepada seseorang yang pada dasarnya belum belajar atau tidak pernah diajarkan bagaimana cara agar mengerti. Mengapa seseorang menggunakan jalan yang teramat sulit untuk akhirnya memilih menggunakan “kode-kode” bila pada akhirnya tujuan daripada diciptakannya lisan adalah sebagai indera output manusia untuk memberikan penjelasan? Bukankah lebih baik untuk mempermudah sesuatu, bukan mempersulit termasuk pada urusan penjelasan?!

Jangan mempersulit diri bila ingin dimengerti, orang empati tak semurahan itu. Mereka sedikit dan akan selalu dicari, bisa lelah dan bisa menyerah. Maka adakah riwayat orang-orang baik terdahulu bila ditanya justru dijawab dengan “kode”? Jikalau tidak ada, lantas mengapa harus menjadikan orang-orang yang peduli terhadap kita sebagai “mainan tebak kode”?

Mungkin orang-orang sejatinya tidak paham akan hakikat berbicara sehingga tak menjadikan orang yang mendengarkannya semakin peduli. Mungkin orang-orang telah lelah untuk peduli hingga akhirnya orang-orang yang ingin pengertian justru semakin sedikit. Sebenarnya orang-orang pengertian tidaklah sedikit, kitalah yang selama ini membunuh kepedulian mereka.

Harga dari sebuah pengertian sangatlah mahal. Buktinya, kehilangan orang yang pengertian akanlah menyakitkan dan tak pernah tergantikan oleh harta benda. Namun pada sebuah realita, sesuatu tidak dapat disebut mahal bila orang-orang tidak menghargainya.

Teruntuk hati yang sedang belajar.

Bila memang seseorang ingin mengerti, tanpa banyak penjelasan pun ia akan tetap mencoba memahami.

Bila memang seseorang tak ingin mengerti, sebanyak apapun penjelasannya ia akan tetap tak peduli.