Butuh Cermin

Seorang senior pernah menyampaikan hal yang cukup membuat saya tersenyum. “Perowi bukan membohongi kucing. Saat tangan seorang perowi memberikan isyarat kepada seekor kucing agar kemudian si-kucing menghampirinya, itu memang sedari awal sang perowi ingin bermain dengan kucing. Tapi malah perowi dianggap bohong dengan alasan si-kucing menganggap bahwa isyarat tangan yang dimaksud adalah ingin memberinya makan. Dan saat menyadari di tangan perowi tidak ada makanan, merasa dibohongi. Padahal perowi gak PHP, ya memang kucingnya saja yang geer.

***

Kenyataan kadang memang sulit untuk dipahami. Terutama di zaman modern ini muncul istilah-istilah yang sejatinya mengabu-abukan empati.

Orang takut peduli karena takut dibilang kepo.

Orang takut tersakiti karena takut dibilang baper.

Orang takut ramah karena takut dibilang sok asik.

Orang takut kreatif karena takut dibilang alay.

Orang takut empati karena takut dibilang modus.

Orang takut diam karena takut dibilang kaku.

Orang takut menasihati karena takut dibilang sok iya.

Orang takut bijak karena takut dibilang sok suci.

Atau

Orang takut berkenalan lebih jauh karena takut dibilang PHP.

Dan takut merespon lebih jauh karena takut dibilang geer.

Terlalu banyak rambu-rambu yang mengatur manusia. Sehingga lama-kelamaan orang jadi malas hidup di dunia nyata. Kemudian menciptakan kepribadian idealnya sendiri di media sosial yang seolah lahir tanpa cacat. Dengan rupa yang dibuat sebagus mungkin dan kalimat yang disusun seindah mungkin. Berikutnya energi untuk saling merasa bahwa dirinya sempurna pun tumbuh. Sehingga bila menemukan teman sosial medianya salah sedikit, akhirnya dihujat, dicaci, bahkan dimusuhi.

Dan akhirnya muncul sebuah energi negatif baru yang belum pernah ada pada zaman sebelumnya. Inilah ilusi kebencian. Kebencian yang hadir meski sejatinya tidak ada sebab yang benar-benar pasti. Kebencian kepada sosok yang sebenarnya tidak pernah ada.

Sepertinya kita perlu bercermin untuk melihat bahwa diri kita adalah ciptaan Tuhan yang sudah sempurna dengan kadar kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Sehingga kesadaran ini akan menimbulkan rasa saling menghargai, empati, dan memunculkan sebuah energi semangat perdamaian yang baru.

***

Betul-betul sulit memberikan batasan agar tidak terjebak PHP dan geer. Tetapi bila kita tarik garis lurus, selama ini memang perowi yang disalahkan. Karena sudah qodratnya makhluk hidup memiliki sifat untuk selalu berharap. Jikalau memang tidak mau kucingnya geer, ya jangan dibuat berharap.

Meskipun begitu, saya adalah orang yang cukup mudah untuk dibuat geer. Dan sudah puas untuk terus-terusan dicaci karena ke-geer-an. Rasanya ingin bertobat saja. Sehingga bila suatu malam saya harus melewati sebuah lokasi pemakaman umum, kemudian terdengar suara panggilan menyebut nama saya. Maka saya tidak perlu takut, tidak perlu menoleh, dan abaikan saja! Karena kalau saya merespon, mungkin lagi-lagi saya akan disebut geer!

Epiphanot

Rencana yang hebat adalah rencana yang tidak terlaksana.

Pagi ini saya dibangunkan dengan cara yang cukup berbeda – tertimpa helm di kepala. Dengan sekejap saya menoleh pada jam dinding yang menunjukkan pukul 02.10. Karena mengantuk, sakit akibat pukulan tadi rasanya tidak terlalu mengena, walaupun cukup efektif untuk membuat saya terjaga. Pandangan pun beralih pada helm yang masih bergoyang. Tidak seperti biasanya, helm yang diletakkan pada posisi aman di atas lemari bisa terjatuh. Mungkin tidur saya agresif hingga menggetarkan lemari. Agak lucu juga, saat mengingat fungsi helm yang seharusnya melindungi kepala kini justru kebalikannya. Mungkin ada pesan berharga dibalik ini semua – mungkin juga tidak.

Apabila diingat, ternyata kejadian seperti ini adalah yang kedua kali. Pertama, adalah saat tertidur di mushola saat sekolah dulu. Bisa-bisanya. Padahal kondisinya, tidak jauh dari tempat saya tidur, sedang ada grup diskusi yang cukup besar. Tentu hal yang akhirnya menarik perhatian dan memalukan saat akhirnya saya tertimpa helm. Rupanya sang mentor saat itu sedang berdiskusi tentang cita-cita. Dikiranya saya merupakan peserta diskusi, akhirnya di tengah-tengah tawa para peserta diskusi pun saya ditanya mengenai keinginan saya. Masih dalam kondisi setengah sadar, saya menjawab “cuma pengen makan Nasi Padang”. Jawaban saya justru membuat para peserta semakin terbahak-bahak. “Iya, saya pengen makan Nasi Padang di restoran milik sendiri yang berlokasi di Saudi bersama dengan para ulama dan para kaum dhuafa. Lagipula apalah arti sebuah cita-cita kalo lepas dari tanggung-jawab. Sejauh ini, kebanyakan keinginan seseorang buat jadi orang yang diimpikan kan hanya sebuah keinginan kosong, biar kedengeran keren. Padahal gak sama sekali. Atau mungkin jawaban singkat dari orang yang sempit inspirasi. Ingin menjawab supaya ada jawabannya, jadi akhirnya aman karena punya jawaban. Buktinya, banyak orang yang nyebutin cita-cita hebat tapi gak kesampean. Bukan mau nyindir, kalau mau diplomatis, tadi maunya sih jawab khusnul khotimah” Saya lanjut. Sejenak semuanya terdiam.

Kalau diingat-ngat, ternyata jawaban saya cukup kejam – efek benturan dari helm. Dan malam ini mengingatkan saya kembali pada kejadian itu. Mungkin Tuhan ingin saya mempertimbangkan apabila ditanya hal yang sama soal keinginan atau cita-cita di masa mendatang. Dan saya mengakui satu hal.

Ternyata saya salah. Rencana yang hebat itu bukan rencana yang tidak terlaksana. Tetapi rencana untuk membahagiakan orang lain.

Kalau boleh punya kesempatan untuk menjawab sekali lagi tentang keinginan, jawabannya

Aku ingin kita berdua bahagia bersama.

 

Kisah Nabi Daud dan Dua Orang Pemuda

Dahulu kala pada zaman Nabi Daud A.S., terdapat dua orang pemuda yang sedang berdebat. Karena itulah akhirnya mereka menghadap kepada nabi Daud A.S., yang juga merupakan seorang raja, untuk meminta jawaban atas pertanyaan mereka.

Salah seorang dari mereka berkata: “Yaa Nabi Allah Daud, kami meminta kepada paduka untuk menjawab satu pertanyaan yang kami perdebatkan”.

“Apakah itu?” Nabi Daud A.S. balik bertanya.

“Seperti apakah akhir dari dunia ini?”

tanya mereka. “Sampai saat ini kami belum menemukan jawabannya.”

Setelah meminta petunjuk kepada Allah, nabi Daud A.S. pun menjawab: “Datanglah besok pagi, akan aku berikan jawabannya.”

Keesokkan paginya, kedua pemuda itu pun datang kembali. Nabi Daud A.S. menyerahkan kepada mereka masing-masing satu buah karung, dan memerintahkan mereka untuk pergi berlawanan arah. Yang satu ke suatu tempat di Timur, yang lainnya ke arah Barat.

Nabi Daud A.S. berpesan: “Apabila kalian telah sampai di tujuan, segeralah berbalik arah untuk kembali, dan masukkan seluruh batu yang kalian temui selama perjalanan.”

Setelah sekain lama kedua pemuda tersebut pergi, akhirnya mereka pun tiba. Nabi Daud A.S. melihat adanya perbedaan pada mereka. Satu pemuda terlihat kepayahan karena memanggul karung yang berisi batu yang banyak. Sedangkan pemuda lainnya tampak santai karena karungnya berisi batu yang sedikit.

Kemudian Nabi Daud A.S. meminta mereka untuk membuka karungnya. Dan alangkah terkejutnya mereka, ternyata isi karung mereka pun telah berubah menjadi emas.

Kemudian Nabi Daud A.S. bertanya kepada mereka: “Bagaimana perasaan kalian?”

“Yaa Nabi Allah Daud, aku sangat menyesal! Karena tadi aku sedikit sekali mengambil batu. Seandainya aku tahu bahwa batu itu akan berubah menjadi emas, tentulah aku akan memenuhi karungku!” jawab pemuda yang karungnya berisi sedikit.

Pemuda yang karungnya penuh menjawab : “Yaa Nabi Allah Daud, aku juga sangat menyesal! Seandainya aku tahu bahwa batu itu akan berubah menjadi emas, tentulah aku akan membawa gerobak dan membawa berkarung-karung batu”.

Akhirnya, Nabi Daud A.S. berkata:

“Itulah jawaban pertanyaan kalian. Sesungguhnya akhir dunia adalah penyesalan, yang sedikit beramal baik, akan menyesal kenapa tidak lebih banyak beramal. Yang banyak beramal, akan menyesal kenapa tidak lebih banyak beramal lagi”.

Syarat Bermaksiat

Suatu hari, Al-Imam Ibrahim bin Adham didatangi oleh seorang lelaki yang gemar melakukan maksiat. Lelaki tersebut bernama Jahdar bin Rabi’ah. Ia meminta nasehat kepada al imam Ibrahim agar ia dapat menghentikan perbuatan maksiatnya. Ia berkata, “Ya Aba Ishak, aku ini seorang yang suka melakukan perbuatan maksiat. Aku ingin Bertobat, Aku minta tolong kepadamu, Tolong berikan aku cara yang ampuh untuk menghentikannya!”

Setelah merenung sejenak, Ibrahim berkata, “Jika kau mampu melaksanakan lima syarat yang ku ajukan, aku tidak keberatan kau berbuat dosa.” Tentu saja dengan penuh rasa ingin tahu yang besar Jahdar balik bertanya, “Apa saja syarat-syarat itu, ya Aba Ishak?”

Ibrahim bin Adham berkata:

Syarat pertama, jika engkau melaksanakan perbuatan maksiat, janganlah kau memakan rezeki Allah.

Jahdar mengernyitkan dahinya lalu berkata, “Lalu aku makan dari mana? Bukankah segala sesuatu yang berada di bumi ini adalah rezeki Allah?” “Benar,” jawab Ibrahim dengan tegas. “Bila engkau telah mengetahuinya, masih pantaskah engkau memakan rezeki-Nya, sementara kau terus-menerus melakukan maksiat dan melanggar perintah-perintahnya?” “Baiklah,” jawab Jahdar tampak menyerah. “Kemudian apa syarat yang kedua?” Kemudian Ibrahim lebih tegas lagi.

Kalau kau bermaksiat kepada Allah, janganlah kau tinggal di bumi-Nya.

Syarat yang kedua ini membuat Jahdar lebih kaget lagi. “Apa? Syarat ini lebih hebat lagi. Lalu aku harus tinggal di mana? Bukankah bumi dengan segala isinya ini milik Allah?” “Benar wahai hamba Allah. Karena itu, pikirkanlah baik-baik, apakah kau masih pantas memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, sementara kau terus berbuat maksiat?” tanya Ibrahim. “Kau benar Aba Ishak,” ucap Jahdar kemudian. “Lalu apa syarat ketiga?” tanya Jahdar dengan penasaran.

Kalau kau masih bermaksiat kepada Allah, tetapi masih ingin memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, maka carilah tempat bersembunyi dimana Allah swt tidak bisa melihatmu.

Syarat ini membuat lelaki itu terkesima. “Ya Aba Ishak, nasihat macam apa semua ini? Mana mungkin Allah tidak melihat kita?” “Bagus! Kalau kau mengetahui dan yakin bahwa Allah selalu melihat kita, tetapi kau masih terus memakan rezeki-Nya, tinggal di bumi-Nya, dan terus melakukan maksiat kepada-Nya, pantaskah kau melakukan semua itu?” tanya Ibrahim kepada Jahdar yang masih tampak bingung dan terkesima. Semua ucapan itu membuat Jahdar bin Rabi’ah tidak berkutik dan membenarkannya. “Baiklah, ya Aba Ishak, lalu katakan sekarang apa syarat keempat?”

Jika malaikat maut hendak mencabut nyawamu, katakanlah kepadanya bahwa engkau belum mau mati sebelum bertaubat dan melakukan amal sholih.

Jahdar termenung. Tampaknya ia mulai menyadari semua perbuatan yang dilakukannya selama ini. Ia kemudian berkata, “Tidak mungkin… tidak mungkin semua itu aku lakukan.” “Wahai hamba Allah, bila kau tidak sanggup mengundurkan hari kematianmu, lalu dengan cara apa kau dapat menghindari murka Allah?” Tanpa banyak komentar lagi, ia bertanya syarat yang kelima, yang merupakan syarat terakhir. Ibrahim bin Adham untuk kesekian kalinya memberi nasihat kepada lelaki itu.

Yang terakhir, bila malaikat Zabaniyah hendak menggiringmu ke neraka di hari kiamat nanti, janganlah kau bersedia ikut dengannya dan menjauhlah darinya!

Lelaki itu nampaknya tidak sanggup lagi mendengar nasihatnya. Ia menangis penuh penyesalan. Dengan wajah penuh sesal ia berkata, “Cukup, cukup ya Aba Ishak! Jangan kau teruskan lagi. Aku tidak sanggup lagi mendengarnya. Aku berjanji, mulai saat ini aku akan beristighfar dan bertaubat kepada Allah.”

Pulang Sekolah

Tragedi telah terjadi di tengah kesibukkan orang-orang yang dengan jaimnya melantunkan nyanyian syair ilmu yang membuat kepala siswa menjadi berat dan tertahan di atas sebuah meja. Sesekali ku menoleh ke arah jendela nan kotor. Tampak seseorang yang sedang berjalan dengan santainya di koridor membuat konsentrasi para penghuni kelas menjadi semakin tidak terarah. Celetukkan demi celetukkan mewarnai suasana nan rempong ini semakin meriah dan lebih berwarna. Terkadang manusia yang berada jauh di sudut ruangan tiba-tiba bangkit dari duduk dengan gagahnya mendatangi sang guru dan berkata “izin ke belakang bu/pak”.

Waktu berjalan seperti biasa namun anehnya terasa begitu lama. Terkadang emosi semakin meluap-luap terlebih jika sang guru begitu pasif. Ketika ku menoleh ke arah belakang, terkejutnya diriku ketika hanya akulah yang masih bertahan di medan perang ini dengan posisi duduk sempurnaku (yang lain telah tertidur bahkan ada yang benar-benar seperti mayit).

Akhirnya telah tiba..

Ledakkan bunyi bel pulang terdengar dari kutub sekolah. Para pelanggan tidur itu pun segera bangkit dari alam bawah sadar mereka dan berteriak-teriak bahagia namun bagai disiksa. Seluruh kelas dipenuhi rasa senang, bahagia, tangis, haru, galau, semangat. Dan hanya satu orang di antara kerumunan yang masih terpaku diam seribu bahasa dengan menjaga sikapnya. Tidak lain adalah guru yang sudah terlupakan keberadaannya.

Setelah itu, kelas pun kembali tenang dengan paksanya kemudian melakukan tradisi biasa sebelum meninggalkan ruang penjara tersebut. Tentu saja doa khitmat dan salam kita laturkan dengan lantangnya bagai prajurit. Seluruh pikiran kini tertuju kepada hal-hal apa yang akan dilakukan setelah keluar rehabilitasi ini. Di sinilah kelas berakhir, dan di sinilah hidup kami berawal..