Generasi Terburu-Buru

Di pagi harinya bangun dengan terburu-buru.

Ia bangun dengan mengerjakan rutinitas pagi dengan terburu-buru.

Agar bisa buru-buru berangkat menuju tempat yang dituju.

Diperjalanan, berkendara dengan terburu-buru.

Rambu-rambu pun tak lagi diindahkan demi tetap melaju cepat sambil terburu-buru.

Tak peduli akan ketidak-sengajaan orang yang menyerempet, langsung terburu-buru menghakimi.

Setelah babak-belur, kemudian ditinggalkannya orang itu dengan terburu-buru.

Sesampainya di tempat kerja, langsung buru-buru buka media sosial.

Melihat status yang menyindir, langsung buru-buru berkomentar.

Mengetahui ternyata sindiran itu tidak ditujukan kepadanya, seketika itu buru-buru dihapus.

Di tempat kerja, makan pun terburu-buru. Supaya waktunya produktif, katanya.

Waktu istirahat tiba, langsung terburu-buru meninggalkan tempat kerjanya.

Sesampainya di luar, buru-buru mencari teman untuk bersenda-gurau.

Saat waktu istirahat habis, langsung buru-buru kembali ke tempat kerja.

Tetapi saat sampai di tempat kerja, justru buru-buru ingin pulang.

Saat jam kerja telah selesai, lagi-lagi terburu-buru pulang meninggalkan tempat kerja.

Di perjalanan pulang pun terburu-buru. Hingga tak jarang keselamatan orang lain pun terancam.

Sesampainya di rumah, terburu-buru ingin istirahat. Waktu bicara dengan keluarga terasa singkat dan dingin.

Saat menunaikan sholat, dikerjakannya pun dengan terburu-buru.

Setelah selesai, tanpa berdoa langsung buru-buru berbaring ke tempat tidur.

Tiba saatnya tidur, maka ia pun berpikir.

“Entah kenapa hidupku terasa melelahkan.”

image

Iklan

Raut

Seorang pria tua berpakaian gamis putih datang menghampiri lelaki yang sedang duduk termenung di bangku pinggiran taman kota seraya berkata, “Tuan, waktunya telah tiba. Aku adalah sosok yang akan membawa nyawamu pergi dari dunia ini.” Si lelaki justru membalas dengan menyapanya, “Kau benar. Kedatanganmu adalah sebagai jawaban. Maka sebelum aku pergi, izinkan aku untuk bertanya. Karena ku yakin kawan-kawanmu setelah ini tak akan berbicara terkecuali bertanya.”

“Tuhan memang Maha Adil. Aku percaya. Dan dari kebaikan yang telah ku perbuat selama di dunia, Apakah aku akan masuk surga?” tanya lelaki itu. Masih dengan wajah datarnya, sang malaikat menjawab, “Kabar yang ku terima atas dirimu, kau akan masuk neraka.”

Seketika hening. Wajah lelaki itu lama-kelamaan memerah. Dahinya mulai menekuk seraya matanya mulai berkaca-kaca. Ia pun tertunduk, kalah dengan kesedihannya. Tapi masih berusaha untuk tidak menangis. Pastilah ia paham, bahwa kesedihannya kini tiada berarti. “Jadi, apa yang membuat kita masih menunggu?” tanya sang malaikat memecah keheningan.

Tiba-tiba lelaki itu bangkit dari duduknya. Sorot matanya kini terlihat penuh keyakinan. Tidak di sangka, ia pun berkata, “Baiklah, inilah peradilan Tuhan. Saya siap bila harus masuk ke dalam neraka-Nya. Maaf bila harus menunggu lama hanya untuk pertanyaan yang sudah jelas jawabnya.

Baru saja aku merenung bukan karena merasa bahwa Tuhan tidaklah adil. Tapi aku teringat dengan keluargaku, saudara-saudaraku, kerabat, bahkan musuh-musuhku. Aku mengenal mereka sebagaimana aku tahu kesehariannya. Bilamana aku saja yang telah mantap beribadah pada akhirnya harus masuk ke neraka, lantas bagaimana dengan orang-orang tadi dan orang lainnya?

Sampaikanlah kepada Tuhan dan para penduduk langit, aku rela bila inilah kehendak-Nya. Tapi aku masih punya permintaan. Jika aku di neraka nanti, maka jadikanlah tubuhku teramat-sangat besar agar para malaikat di neraka sibuk menyiksaku dan menelantarkan penghuni neraka lainnya. Kemudian jadikanlah tubuhku lebih besar lagi agar dapat menutupi seluruh api neraka. Kemudian jadikanlah tubuhku lebih besar lagi agar menutupi seluruh penjuru pintu neraka, sehingga orang-orang yang hendak di masukkan ke dalam neraka akan terhalang oleh tubuhku sehingga tidak ada pilihan lain selain ke surga.”

Mendengar itu, sang malaikat pun menangis. Dalam isaknya, ia berkata, “Begitu istimewanya makhluk golongan manusia. Sungguh telah datang kepadamu sebuah berita menggembirakan. Kepedulian dan kebaikanmu terhadap sesamalah yang menjadikanmu kini sebagai salah satu penghuni surga.”

Hanya ingin jawaban, Nona

pp baru

Nona, kudengar kau adalah sosok yang pintar, kata teman-temanmu. Dan sebagaimana kau tahu tentangku dari teman-temanmu, aku adalah orang yang banyak bicara dan berimajinasi. Tetapi kumohon, Nona. Luangkanlah waktumu kali ini untuk menjawab banyak pertanyaanku.

Kita sering melihat banyak sekali orang yang berani melakukan hal yang berbahaya namun hanya diberikan penghasilan yang pas-pasan. Misalkan saja tukang parkir tikungan. Setiap detik ketika bekerja selalu beresiko tertabrak kendaraan lain. Setiap kesalahan yang dia lakukan bisa mengakibatkan kecelakaan maupun bentrokan. Tetapi mengapa ada orang yang mau melakukannya, Nona? Aku butuh penjelasanmu karena kamu pintar. Aku hanya ingin jawaban, Nona.

Aku juga memperhatikan banyak orang yang rela berlelah-lelah namun mereka miskin. Seperti halnya tukang gali kubur. Mereka bersedia tinggal di tempat hunian terakhir itu. Padahal tempat itu cukup menyeramkan. Mereka rela bekerja kapanpun ketika diminta. Padahal mereka terlepas dengan dunia luar dan hanya bisa duduk diam mengamati nisan. Bukankah itu sangat melelahkan dan membosankan? Aku tahu kamu mudah menjawabnya. Aku hanya ingin jawaban, bukan senyuman, Nona.

Kemudian beberapa hari yang lalu aku melewati jalan baru yang biasa tidak aku lalui. Di sana aku melihat seseorang yang sudah tua sedang menyapu jalanan yang selalu kotor. Bukankah di usia yang tua seharusnya ia sudah tidak bekerja lagi? Kasihan keluarganya di rumah yang menantikan sosok kehadirannya. Bagaimana mengatasi semua itu? Nona, aku tahu kau yang sholehah itu dapat merasakan betapa sulitnya menjadi mereka. Aku hanya ingin jawaban, bukan mata yang tersenyum, Nona.

Namun yang lebih ironi lagi. Aku melihat seseorang yang tidak beradab, bekerja tidak sebesar dan sebanding mereka yang tadi kusebutkan. Tetapi justru mendapatkan penghasilan yang lebih. Bahkan keluarganya ditinggalkan, dan ia justru bersenang-senang dengan uang payah yang ia dapatkan. Ini sangat tidak masuk akal. Apakah itu adil, Nona? Aku tahu kecerdasanmu mengalahkan banyak orang dan aku yakin kau bisa menjawabnya. Aku hanya ingin jawaban, bukan wajahmu yang putih berseri-seri, Nona.

Kata orang, aku ini memang cerdas. Tetapi nalarku tak mampu menjawab semua pertanyaan tadi. Semua itu tidak  masuk akal, Nona. Aku butuh bantuan menjawab banyak pertanyaan dalam hidupku. Dan satu pertanyaan lagi yang pastinya tidak bisa ku jawab sendiri. Aku butuh jawaban, di hadapan guruku dan walimu kini, Nona.

Maukah kau menikah denganku?

Syalala~

Seorang Pemuda di Kereta Api

kereta

Seorang pemuda berusia 24 tahun berteriak sambil melihat keluar dari jendela kereta.

“Ayah, lihat pohon-pohon yang berlalu!”

Si ayah tersenyum, namun pasangan muda yang duduk di dekatnya memperhatikan dengan belas kasihan, melihat pemuda berusia 24 tahun yang masih berperilaku kekanak-kanakan.

Tiba-tiba ia berteriak lagi. “Ayah, terlihat awan yang sedang berjalan dengan kita!”

Pasangan yang tidak bisa menahan diri kemudian berkata kepada orang tuanya.
“Kenapa tidak kau bawa saja anakmu ke dokter ahli?”

Sang orang tua tersenyum seraya berkata.
“Aku sudah melakukannya, dan kami baru saja dari rumah sakit, anakku buta sejak lahir, dia baru dapat melihat hari ini.”

Setiap orang di planet ini memiliki kisahnya masing-masing.

Jangan menilai orang lain sebelum Anda benar-benar mengenal mereka. Kebenaran mungkin akan mengejutkan Anda.

Berpikirlah sebelum Anda mengatakan sesuatu.