Sunset Behind Book

image

Kurang lebih memasuki pekan ketiga setelah ayah tiada. Pada sebuah kondisi yang tidak bisa dijelaskan, saya adalah satu-satunya anggota yang justru tidak meneteskan air mata. Bukan berarti tak memiliki kesedihan, tetapi memang mungkin ekspresi kesedihan itu telah lelah menggerogoti saya jauh sebelum ayah meninggal. Katakanlah dulu saya yang sering menangis. Sehingga sepertinya air mata ini telah habis. Hanya bersisakan sebuah bayangan. Sebuah bayangan seakan sosok ayah yang telah meninggal itu hanyalah sedang pergi ke tempat yang tak terlalu jauh, dan sebentar lagi akan kembali pulang.

Ada kalanya bayang-bayang akan kematian justru bukan membuat saya merasa kehilangan, melainkan ketakutan. Bukan ketakutan terhadap siksa yang para pendahulu telah kisahkan. Melainkan takut untuk bertemu Tuhan. Mungkin agak sedikit aneh dan menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana mungkin ada seorang hamba yang meyakini bahwa Tuhan-nya adalah Maha Pengasih tetapi justru takut untuk menemui-Nya? Jawaban saya adalah takut untuk ditanya. Saya takut akan pertanyaan berupa alasan atau motif pada setiap perbuatan yang saya lakukan. Tuhan yang selama ini telah memberikan banyak titipan tetapi malah saya salah gunakan. Sejujurnya, saya takut untuk ditanya, melebihi takut daripada neraka-Nya.

Kenyataan yang saya hadapi sekarang adalah babak baru yang saya tulis pada sebuah buku catatan. Bilamana rencana hidup diibaratkan sebagai halaman berikutnya, mungkin ini seperti melongkap dua-tiga halaman, dan tiba pada halaman yang baru yang masih kosong. Saya memutuskan untuk menulis ulang kisah saya. Mungkin akan lebih banyak orang-orang baru yang saya cantumkan. Tentu saja beberapa tokoh memang, saya pertahankan untuk tetap saya tulis hingga hari tua. Hari-hari dimana hanya sedikit hal yang bisa dilakukan karena keterbatasan fisik. Dan di hari itu, buku ini akan kembali dibaca berulang-kali. Hingga akhirnya saya bertekat untuk tetap teguh, agar senja nanti kita tetap mengingat akan tulisan pada buku. Sebuah buku catatan amal.

Iklan

Katarsis dalam Nasihat

Di sudut lapangan, dari kejauhan saya pandangi kerumunan berseragam batik sekolah Islam terpadu yang telah usai menerima berita di hari pengumuman kelulusan. Rasanya seperti sebuah de javu. Tiba-tiba terbesit ketika dahulu saya pun pernah merasakan euforia kelulusan. Namun tentunya bukan diiringi dengan canda-tawa, melainkan berpikir. Di era yang serba bablas, kiranya dimulai dari situlah saya lebih suka meng-alienasi diri dengan kembali membaca buku-buku pemikiran zaman kegelapan. Tidak ada alasan lain terkecuali isinya yang memang bagus dan relevan. Mungkin perjalanan spiritual saya memang harus begitu.

***

Sejenak rasanya seperti terhipnotis dan kembali terdengar suara diri sendiri yang sedang membacakan sebuah paragraf tentang nilai kebijaksanaan dan kharisma yang mulai hilang dari retorika. Kiranya nanti akan sering sekali kita dengar kembali para tokoh yang bicara mengenai religi, moral, maupun etika dihadapan sebuah bangsa yang terkagum-kagum akan kesusastraannya tetapi sejatinya mereka telah tertipu daya pada keindahan bahasanya. Sehingga lupa akan maksud dari kalimat yang disampaikan.

Seseorang bijak pernah berkata “Orang yang menasihati seharusnya takut akan keindahan kata-katanya. Karena manakala nanti ia tak lagi mengindahkan bahasanya, orang lain justru tak mau lagi mendengar nasihatnya”. Lagipula yang bagus di dengar belum tentu benar. Sekalipun benar, maka belum tentu baik. Sejatinya nasihat yang baik itu bukan yang bagus bahasanya, melainkan yang telah dikerjakan terlebih dahulu oleh orang yang menyampaikannya.

Retorika seharusnya hanya dipakai jika perlu – seperti menyanyi. Aneh saja rasanya bila ada orang yang setiap berbicara selalu dilagukan. Yang disebut sebagai Raja dangdut pun tidak sampai sebegitunya. Jadi retorika pun sama – tak perlu sampai begitu. Bila harus menanggapi jika bertemu yang seperti itu, mungkin saya akan berkata Mau banget sampe dibilang “Widih!” sama orang lain?

Mungkin ada kepuasan tersendiri bagi mereka yang mengindahkan bahasa dalam penyampaian nasihat. Seperti menambah bumbu ke dalam sebuah air yang jernih. Padahal tidak semua air jernih akan semakin nikmat bila ditambah bumbu. Air yang jernih punya manfaat yang lebih besar ketimbang dibumbui. Karena air yang jernih itulah air yang justru menyembuhkan dan menyucikan. Dan nasihat ibarat air jernih. Jadi untuk apa dibumbui?

***

Suara kerumunan itu pun menyadarkan saya. Tampak adanya kelegaan di raut wajah mereka. Sepertinya hari pengumuman kelulusan sekolah itu merupakan hari baik bagi mereka. Tentunya sebelum mereka benar-benar sadar bahwa sistem telah mengatur kelulusan sekolah hanyalah awal dari bersekolah lagi di satuan pendidikan yang baru.

image

How media take your act

Silent

Nasi yang sudah ada di hadapan saya sejak tadi ini belum juga mengajak diri ini memakannya. Bukan hal yang tidak biasa bagi saya untuk menunda makan meski memakan adalah hal semudah mengambil apa yang memang sudah siap untuk disantap. Kalau memang tidak niat, meski diberi kemudahan pun tetap rasanya tidak ada keinginan untuk berbuat.

Seperti kalau dimisalkan, bilamana saat saya tidak berniat untuk bertindak sementara harus memilih antara menjadi menyenangkan atau berdiam diri, maka saya memutuskan dengan menjawab “Aku adalah bagian dari senyap”. Mungkin keputusan yang mengecewakan.

Tapi kadang sebuah keputusan tak bisa diberi penilaian se-ego-is itu. Ya emang sih, kita bukanlah satu-satunya pemilik rasa kecewa – orang lain juga punya. Dan ada keharusan bagi setiap manusia untuk menghindari kekecewaan orang lain. Walau kadang kekecewaan bukanlah hal yang bisa dihindari, tetapi paling tidak kita tidak memilih untuk menjadi mengecewakan.

Dan seseorang yang baik memberikan nasi beserta lauk dan sayurnya ini kepada saya. Mungkin berharap besar agar saya memakannya dan berkata “enak”. Namun pengalaman membawa saya pada sebuah tindakan untuk tidak memakannya, justru membungkusnya dan memberikannya kepada pengemis di seberang sana. Kemudian saya berjalan menuju sudut yang hening dari kerumunan – menyatu dengan yang senyap dengan kesendirian. Dan berniat untuk melakukan hal lain lagi tanpa mengecewakan.

Kita adalah pemilik dari apa yang sejatinya tidak benar-benar kita miliki.

Hal yang indah dalam kesendirian adalah melepaskan sesuatu tanpa kehilangan sesuatu apapun

Apa yang Penting?

image

Kegilaan itu banyak macamnya. Salah satunya mencoba menemukan kebahagiaan yang sejatinya diciptakan, bukan justru dicari.

Kurang lebih memasuki tahun ketiga untuk melakukan pembiasaan diri menggunakan sepeda sebagai alat transportasi. Kini bukannya menjadi terbiasa justru malah jadi candu. Untungnya kecanduan yang seperti ini masih tergolong hal yang bisa ditolelir, karena masih bisa berdalih penghematan. Mengingat dewasa ini kebutuhan manusia bukanlah hanya sandang, papan, dan pangan yang sejak dahulu menjadi doktrin guru kepada anak sekolah dasar.

Cobalah kita membuka mata. Ada beberapa hal lain yang tak kalah penting. Kadang orang senantiasa lupa apa yang sebenarnya penting dan apa yang sepatutnya diabaikan. Dengan menganggap bahwa sandang, pangan, dan papan merupakan satu-satunya kebutuhan utama manusia, orang pun akhirnya beranggapan bahwa memiliki rumah mewah itu lebih baik dibandingkan bertindak jujur. Atau pakaian glamour itu lebih penting ketimbang menutup aurat. Atau bahkan hidangan lezat dan mahal itu lebih penting dibandingkan sekadar mengeluarkan kocek untuk bersedekah.

Kebutuhan hanyalah alasan klasik dalam menetapkan standar sesuatu menjadi penting atau tidak. Karena butuh, maka penting. Memang ada benarnya, tetapi cobalah jawab pertanyaan berikutnya “Emangnya butuh banget? Kalo gak begitu, mati? Lebih milih harta berlimpah tapi sakit-sakitan atau kesederhanaan tapi hidup sehat?”

Lantas apa yang penting?

Tidak penting mewah atau tidaknya sebuah rumah. Yang penting adalah cara mendapatkannya, apa kegunaannya, dan ketenangan bagi yang tinggal di dalamnya. Bukankah rumah adalah tempat dimana kita disambut oleh orang-orang yang peduli di dalamnya, bisa tertawa selebar-lebarnya, menangis sejadi-jadinya, atau beribadah sebanyak-banyaknya?

Tidak penting enak atau tidaknya makanan. Yang penting adalah baik atau tidaknya, sehat atau tidaknya, serta kepada siapa hendaknya kita berbagi. Bukankah selalu ada kisah di setiap berbagi makanan?

Tidak penting apa yang kamu pakai. Yang penting adalah cara memakainya. Itulah makna dari sebuah pakaian, bukan “jenisnya” tapi “cara pakainya”. Kalau lebih mementingkan jenisnya, namanya “jenisan” bukan “pakaian”. Apalah arti gaya pakaian “terbuka” dengan dalih hak asasi kalau ujungnya kriminalitas diawali dari hal-hal semacam ini? Hak asasi mana yang dibela? Suruh ibumu gunakan bikini, barulah kau teriakan hak asasi! Engkau yang terlalu banyak bicara di televisi adalah kebanyakan orang-orang yang jarang menziarahi makam orangtuanya sendiri. Sehingga lupa bahwa saat mati, kain kafan sesungguhnya adalah pakaian yang tertutup.

Tidak penting kendaraan apa yang kau naiki. Yang penting adalah kemana kamu pergi, untuk apa, dan apa yang kamu lakukan ketika perjalanan.

Kembali kepada urusan sepeda. Kenapa saya malah jadi candu? Pertama, hemat. Kedua, lebih banyak waktu untuk berpikir sembari bepergian. Ketiga, sehat (asal tidak memaksa tubuh). Keempat, lebih memperhatikan sekeliling. Kelima, penting.

Bukankah hidup hemat, sehat, peduli sekitar, dan banyak berpikir untuk mengambil keputusan adalah hal yang penting?

Luka

Lupa

Beritahu aku bila kau tahu apa itu luka. Boleh jadi aku tidak tahu arti sebenarnya dari sebuah luka sehingga sebegitu mudahnya aku melukaimu.

Tapi jangan pernah beritahu aku apa itu sakit. Karena sebegitu benarnya sekalipun kamu menjelaskan tentang sakit. Itu hanya berasal dari pengetahuan dan yang kamu rasakan. Bukan yang orang lain rasakan. Bukan pula dari yang ku rasakan.

Memang benar aku percaya bila mencegah lebih mudah daripada mengobati. Tetapi rasanya lebih sulit bila menahan untuk tidak tersakiti. Terlebih lagi, menahan untuk berpura-pura tidak sakit.

Ku tahu bahwa luka itu menyakitkan. Dan ada beberapa luka yang tak bisa hilang dan akan terus terasa sakit. Seseorang yang terluka tetapi tidak sakit adalah orang yang tidak sadar atau mungkin lupa. Lupa bahwa dirinya sedang terluka.

Apakah mustahil bagi kita untuk tidak saling melukai? Bila mustahil, mungkin lebih mudah bila kita bisa untuk saling melupakan.

Jangan beritahu aku apa itu lupa. Kamu hanya cukup mengajariku agar aku tahu bahwa sisi baikmu masih dapat menutupi sisimu yang senantiasa menyakitiku.

Jadi, ajari saja aku lupa. Agar aku bisa tertawa bahagia walau dengan luka yang menganga.

Loneliness

Saat ada seribu orang di sekitarku, aku merasa sendiri.

Saat ada seratus orang di sekitarku, aku merasa sendiri.

Saat ada sepuluh orang di sekitarku, aku merasa sendiri.

Saat hanya ada seseorang di sebelahku, aku merasa sendiri.

Saat aku merasa sendiri, aku sadar Tuhan menemaniku.

-Ibnu Tarmudi-

Rowi

jam asa

Perintah orang tua kali ini membuat saya menjamah kembali barang-barang lama yang tersimpan apik dalam lemari. Satu demi satu saya keluarkanlemari yang sebelumnya digunakan untuk menyimpan berkas-berkas lama ini harus dikosongkan untuk keperluan lain. Ada hal yang membuat saya tersenyum. Benda-benda yang saya cari dulu, kini baru saya temukan di tempat yang tidak saya sangka ini. Entah mengapa tiba-tiba pikiran saya melayang pada percakapan Harry dan Luna saat mencari sepatu di akhir film Harry Potter and The Order of The Phoenix.

Beberapa barang yang saya temukan membuat saya bingung terhadap niatan di masa lalu kenapa-dulu-gua-beli-ini. Tapi ada rasa syukur yang saya panjatkan. Ternyata saya bisa move on dari masa-masa mengejar hasrat akan kebendaan. Paradoks terjadi, karena di lain sisi rasa syukur, saya menyesal karena barang-barang ini tak mampu dijual kembali di olx(dot)com.

“Kalo gak kepake, buang aja.” ujar Ibu. Saat itu Ibu saya sedang sakit dan hanya dapat bergerak terbatas dalam teritori kasurnya. Pada kondisi ini, seorang anak seperti saya rasanya ingin bertukar posisi. Lebih baik saya yang sakit, daripada harus melihat Ibu terbaring dan bangun hanya sebatas melaksanakan kewajiban dan ke kamar mandi.

Setelah sekian waktu, akhirnya semua barang tadi terapihkan (sebenarnya tidak cocok juga bila dikatakan rapih) dalam sebuah bungkus yang siap dibuang. Paling tidak, saya tidak boleh menyesal atas apa yang saya lakukan barusan. Mengingat beberapa barang memang sebenarnya membuat saya mampu mengenang dan bercerita panjang lebar akan sebuah riwayat.

Di hadapan saya akhirnya tinggal bersisakan tumpukan buku dan map. Saya terhenti untuk sebuah keputusan. Pertentangan antara membuang segelintir catatan ini atau menyimpannya kembali. Paling tidak, melihat kembali lembaran demi lembaran merupakan keputusan yang pasti. Dan terhenti pada buku berukuran sedang dengan cover hitam yang diwarnai oil pastel, bertuliskan “Catatan Hitam” ditulis dengan tinta putih. Ternyata ini catatan gado-gado lima-enam tahun yang lalu.

Entah mengapa saya sempat lupa pernah membuat buku ini. Isinya berupa puluhan kata-kata, entah itu nasihat atau apalah-itu yang bahkan tidak mampu otak saya (yang sekarang) mengerti. Satu demi satu, ingatan mulai tercerahkan. Sehingga saya tahu, ternyata dulu saya pernah lebih baik hari ini.

Tuhan menciptakan sebuah ketakutan pada diri manusia. Banyak manusia menggadaikan keyakinannya untuk menghindari ketakutan. Sungguh mereka telah salah, dan terjebak pada dimensi ketakutan abadi.

Aris Gunawan, 2008.

Bersahabatlah dengan diri sendiri. Maka kau tidak kehilangan orang untuk terus dinasihati. Di sisi lain, sendirimu tak akan membuahkan rasa kesendirian.

Aris Gunawan, 2008

*catatan: Hanya karena saya memberi judul “Rowi”, bukan berarti saya adalah perowi.

Celana

Mengapa dinamakan celana? Karena Dina terlalu lapar sampai berani mendobrak tradisi sebagai penganut aliran antimainstream. (Salah fokus). Entahlah, memang sejak dahulu celana adalah celana. Hari esok pun tetap disebut celana. Asal katanya yang jelas bukan kependekan dari “mencela dan menghina”, dan bukan juga dari bahasa Arab Betawi “cela ana” atau “celakalah ana”. Bukan pula dari ibu-ibu kita yang mengajari anaknya “nak, ini namanya celana”. Karena ibu saya menyebutnya “nana”, yang mungkin bila saya menuliskan itu sekarang, mungkin orang kira saya sedang bersenandung. Yap, begitulah celana. *kemudian menggaruk celana*

Suatu ketika saya meminta teman untuk berpendapat tentang penampilan saya yang terbilang monotone, sekadar ingin meminta saran untuk menghirup atmosfer baru dalam berpakaian. Karena teman yang sedari dulu mengenal saya pun ternyata memiliki titik jenuh melihat gaya berpakaian saya yang selalu mengenakan celana panjang bahan dalam situasi apapun. Dalam pembicaraan yang begitu ngelantur dan panjang, akhirnya saya pun bertanya.

“Ada yang perlu diganti dari cara berpakaian gua?”
“Ada, minimal jangan selalu item-item. Soalnya ngeri, Ris. Orang ngeliat lu kaya penganut aliran hitam gitu.” Sejenak berpikir, “orang” yang dimaksud teman saya itu ya bukan orang lain, melainkan teman saya sendiri yang berpikir seakan-akan menjadi orang lain.

“Trus ada lagi?” “Itu aja dulu. Oiya, coba lu pake jeans. Gua gak pernah liat lu pake jeans.”
“Gua pernah, sampai saat ini udah 3 kali seumur hidup.”

Seharusnya perkataan teman saya tadi tidak perlu ditanggapi dengan serius. Ya karena memang sudah watak asli saya yang memang selalu cari sensasi, akhirnya terbujuk juga.

Keesokan harinya, saya untuk yang ke-empat kalinya menggunakan celana jeans. Entah mengapa justru sayalah yang merasa risih sendiri. Padahal orang lain justru menanggapinya dengan positif, walau dominan dari mereka selalu mengawali perbincangan dengan kata “tumben”.

Saya baru teringat setelah memakai celana ini beberapa jam. Dulu saat memakai celana jeans yang ke-tiga kalinya, saya berpikir tidak akan menggunakannya lagi karena saya merasa tidak nyaman. Bukan karena bahan yang tidak biasa saya kenakan, tetapi lebih kepada “ini bukan diri saya” yang kesehariannya lebih sering bersarung-ria. Akhirnya saya pulang kuliah lebih awal. Sepanjang perjalanan pulang, mata saya terus memindai setiap celana teman saya dan orang-orang lainnya. Dan lucunya, saya menyadari bahwa setiap celana ternyata berkolerasi dengan karakteristik orangnya. Memang tidak pantas bila saya menyimpulkan sesuatu hanya dari luarnya. Tetapi bila sudah tau isinya, saya pun berani mengaitkan dengan cover-nya.

Jauh dalam ingatan, ternyata Tasawuf yang saya pelajari dahulu, seperti inilah gambarannya. Bagaimana karakter seseorang dengan pakaiannya memang saling terkait. Sehingga pertanyaan “mengapa lebaran harus berpakaian terbaik?”, “mengapa menutup aurat?”, dan mengapa-mengapa yang lainnya, ternyata akan berpengaruh dengan si-pemakainya. Karena pada dasarnya, pakaian bukan hanya melindungi tubuh, tetapi juga melindungi jiwa. (syalala~)

Kembali kepada persoalan celana. Setelah melihat, berpikir, dan merasakan apa yang telah terjadi, keesokan harinya saya pun kembali berpakaian seperti biasa. Namun ada pelajaran dari apa yang telah saya lalui.

Bila ingin melihat seseorang secara sederhana, cobalah lihat mulai dari celananya.

pants

Aku yang Selalu Begitu

menyanyi kala hujan

Pertemanan adalah saksi nyata bagi sebuah kehidupan sekaligus juri yang unik dalam menilai perubahan diri sendiri.

-Aris Gunawan-

Sore seperti biasa di musim penghujan. Pemandangan orang berlalu-lalang yang terburu-buru atas dikejarnya oleh jam turun hujan mulai mewarnai. Agak aneh, dalam benakku sempat terpikir bukankah mereka sejak kecil merasakan hujan, mengapa harus takut?

Di selasar, seperti biasa aku lebih sering menatap langit ketika berawan. Hingga tak ku sadari seseorang yang ada di sebelahku sejak tadi merupakan kawan lama. Teman ketika mengenyam di bangku SMP. Tidak ada dua detik kami saling menatap sehingga akhirnya saling menyapa satu sama lain.

“Weh, Aris! Makin tua aja lu. Haha..” sapa temanku yang berinisial D ini.

“Dunia ini juga sudah tua,” jawabku sambil tersenyum.

“Berarti lu beneran Aris, tadinya gua ragu, tau. Tapi dari cara ngomong lu, sekarang gua yakin. Cara lu yang tua. Haha..” sambar D.

Mendengar apa yang ia katakan, sangat benar bila dahulu aku justru selalu menggunakan bahasa yang terkesan ‘tua‘, bahkan dalam pergaulan.

“Eh, gua beda kali kaya dulu. Selain dari muka, isi kantong, sama cara gaul juga beda,” bantahku.

“Udah jadi ustad belum lu?” tanya dia sedikit menduga.

“Aamiin.” jawabku sekenanya. Aku mungkin bisa berbohong tentang hari kemarin sampai saat ini kepadanya, namun orang ini tahu banyak tentang masa laluku. Masa-masa dimana saat itu aku lebih memiliki jiwa berperi-Ketuhanan dan ketaatan (InsyaAllah) ketimbang sekarang. Bisa dibilang ia seorang saksi yang mungkin berpikir bahwa kepribadianku masih seperti yang dulu.

Beberapa detik kami diam dan memandangi sekitar. Apa yang kami lihat bukanlah apa yang ada di kepala kami pastinya. Karena kami saling berpikir tentang bagaimana percakapan berikutnya atau memberhentikan percakapan ini. Saat itu rintik hujan pun sudah mulai turun.

“Ris, lu lagi ngapain emangnya?” tanya dia mematahkan kekakuan.

“Nunggu hujan.” jawabku.

“Lah, udah gede, Ris. Masa takut sama ujan. Lagian mau nunggu sampe kapan, coba? Kan udah sore.” sindir dia.

“Nunggu hujan, mbak. Bukan nunggu reda.” sahutku sambil merapihkan tas di bahu.

“Hujan itu ilusi. Kaya mesin waktu. Berada di tengah hujan bisa bikin lu kembali teringat sama hujan-hujan lu yang udah lalu. Termasuk hujan yang lu rasa ketika bahagia, sedih, capek atau mungkin lagi ribet. Gua cuma lagi pengen hujan ketika gua ketawa pas waktu kecil balik lagi. Gua kangen masa kecil. Hidup dalam cerita yang gampang. Imajinasi gua luas. Gua gak mau kehilangan imajinasi gua.” kataku dengan penuh keyakinan.

“Jadi ini alasan lu dari SMP selalu ujan-ujanan?”

“Yoii.. Bener. Malah gua seneng ujan-ujanan dari SD. Gua duluan ya!”

“Oh ya dah. Ris.” Sambil menggelengkan kepala “lu emang gak ada bedanya dari yang dulu. Haha”

Aku pun membalas hanya dengan senyuman. Sambil kemudian berjalan menuju parkiran, hujan langsung turun dengan derasnya. Senyum yang tersisa kemudian habis. Kubiarkan tubuh dan apa yang kukenakan terbasahi hujan dengan apa adanya. Karena yang ada di benakku saat itu bukan lagi hujan. Melainkan aku yang dahulu lebih baik ketimbang aku yang sekarang. Aku yang berjaya, aku yang budiman, aku yang berakhlak, aku yang sibuk mengingat Tuhan. Seharusnya aku seperti aku yang dulu. Seharusnya aku yang selalu begitu.

Angkot

img_0335

Keterpaksaan di suatu hari dewasa ini membuat saya harus bepergian menggunakan angkot. Entahlah… karena motor sudah menjadi kendaraan yang mendarah-daging, kini naik angkot rasanya bagaikan mendapatkan pengalaman baru. Mungkin pandangan sayalah yang membuatnya demikan. Dulu hanya sebatas duduk dan terangin-angin. Namun kini, saya mampu merasakan sensasi yang lain. Oh Tuhan, ternyata Engkau menyadarkanku ketika naik angkot bahwa aku sudah dewasa.

Angkutan kota, baik di desa atau di necropolis, tetap seperti itu namanya. Mungkin angkot adalah miniatur yang sengaja diciptakan sebagai gambaran dunia saat ini. Ya, semua unsur dan aspek, ada.

Bila Anda ingin menilai suatu kota, maka naiklah angkotnya

Bila suatu kota hancur, hancurlah angkotnya. Bila kota berisi dari orang-orang berpendidikan, supir angkotnya pasti menunjukkan ijazahnya. Bila multikultural, penumpangnya pasti berbeda-beda ras. Bila suatu kota amoral, lihatlah pengamennya. Dan bila suatu kota kumuh, lihatlah kebersihan angkotnya.

Hari ini semakin marak tindak kriminalitas yang terjadi di angkot. Maka tidak bisa kita pungkiri bahwa wilayah tersebut memang penuh tindak kriminal. Sebuah celetukkan tentang benahi angkotnya agar masyarakat naik angkot sepertinya merupakan sebuah kesalahan. Hmm.. Karena angkot merupakan gambaran masyarakat juga, seharusnya benahi dulu masyarakatnya, nanti angkotnya juga akan benar dengan sendirinya. Dari pendapat pribadi, bayangkan yang memiliki kesadaran untuk naik angkot adalah kalangan borjuis, pasti kualitas angkotnya akan naik. Haha..