Kompetisi

Kita adalah generasi pertengahan. Yang dilahirkan diantara sejarah dua perang besar – yang pernah terjadi dan yang akan terjadi. Dan setiap perang pada dasarnya diawali oleh sebuah kompetisi semu. Kemenangan demi sebuah kekuatan, minyak, laut, tanah, dan kekuasaan. Sedangkan hakikatnya perang hanyalah sebuah kompetisi yang sejatinya membuat keduanya kalah sebelum perang itu benar-benar berakhir dengan jalan damai.

Pada sebuah perenungan yang panjang, penghargaan manusia kadang membuat saya bimbang.

Seseorang dipaksa menempuh pendidikan yang tidak ia minati, untuk mendapatkan pekerjaan yang tidak ia sukai, dan membeli barang yang tidak dia butuhkan, hanya untuk memenangkan sebuah penghargaan yang bahkan tidak ada dalam kenyataan.

Lain pula ada orang yang panjang perencanaan. Bicara dua puluh lima sampai tiga puluh tahun ke depan. Sementara masalah yang ada di hari ini lebih banyak ia kesampingkan. Panjang lebar janji ia utarakan pada sebuah perlombaan membuat janji terbaik. Padahal setiap janji hanya akan menjadi beban yang pikul sendiri. Sementara diluar sana, mereka siap tertawa kala ia jatuh. Semuanya demi penghargaan yang bahkan tidak jelas siapa yang memberikan.

Di sisi lain, sesorang mencoba untuk menjadi seorang rupawan. Menempelkan pernak-pernik di sekujur tubuhnya untuk tampil elok menawan. Sedangkan keluarganya ia abaikan. Semua demi sebuah penghargaan yang bahkan sejatinya tidak ada pemenangnya.

Ada pula seseorang yang membangun rumahnya sedemikian besar dan megah. Agar kelak ia bisa puas tidak merasa sebagai orang yang tertindas. Berharap ia bisa tidur pulas, dengan aroma ruangan semerbak, dihiasi pajangan-pajangan mahal yang indah dan berkelas. Padahal di rumahnya ia mungkin hanya tujuh sampai delapan jam dari dua puluh empat jam dalam sehari. Hanya tiga hari dari tujuh hari dalam seminggu. Hanya dua pekan dalam empat pekan dalam sebulan. Dan hanya dua bulan dalam dua belas bulan dalam setahun. Jadi apa yang sebenarnya ia anggap menang jika sebenarnya tidak ada yang ia kalahkan?

Kadang pula saya pun terjebak dalam sebuah kompetisi semu. Memperebutkan cinta yang tidak menjamin keselamatan dan kebahagiaan saya sendiri. Dan mungkin masih ada pula di luar sana kolega saya yang saling berlomba pada cinta yang mungkin saja tidak patut untuk diperjuangkan. Padahal diantara kita mungkin sebenarnya saling menyaadari bahwa sebenarnya tidak pernah ada yang namanya kompetisi. Hingga saya pun mengundurkan diri dari perlombaan yang hakikatnya tidak ada ini.

Cobalah tenang, berpikir jernih dan kemudian bertanya “sudahkah kita bahagia dengan ini semua?”

Tidak ada persaingan yang benar-benar jelas diantara manusia terkecuali diciptakan oleh manusia itu sendiri. Hingga akhirnya menyadari itu semua, saya menarik nafas begitu dalam dan malah justru benar-benar merasa kalah. Bukan kalah dari kompetisi yang digeluti selama ini. Tapi kalah oleh kompetisi versi saya sendiri. Karena perlombaan sebenarnya adalah tentang perlombaan antara persaingan amal baik dan amal buruk. Tuhan adalah jurinya, Kitab dan Utusan-Nya adalah pedomannya. Sementara hari penghakiman adalah pengumumannya. Dan mengingat ini, rasanya saya jauh dari menang.

Perahu Waktu

Entah kenapa saya suka dengan perumpamaan bahwa hidup ini layaknya berada di atas perahu. Dan lautan inilah dunianya.

Hanya Tuhan yang tahu seberapa besar ukuran perahu kita. Ada perahu besar yang bisa membawa banyak perbekalan, ada pula perahu kecil yang hanya sekadar menampung tubuh kita sendiri. Maka kadang tidak heran ada orang yang menaikkan ikan, harta, dan hal lainnya dari lautan tetapi ia tidak tenggelam. Meski hakikat apa yang dicari dari laut sebetulnya hanyalah sebatas untuk menyambung hidup. Itulah mengapa akan ada waktunya saat keserakahan akan menenggelamkan seseorang. Saat ia menaikkan hal yang tidak seharusnya ke atas perahunya.

Perahu waktu terus membawa kita. Bisa saja kita berusaha mendayung yang notabene kita sendiri mengetahui betul bahwa ombak lebih kuat ketimbang otot. Agak lucu, seperti ikhtiarnya seseorang yang menentang takdir.

Dan disinilah bagaimana Tuhan berperan. Sebesar apapun upaya seseorang yang berada di tengah lautan, lautan tidak akan pernah bisa dikendalikan. Maka benar Imam Ghazali mengajarkan bahwa perumpamaan dalam berdoa seharusnya bagaikan seseorang yang berada di tengah lautan dengan terombang-ambing di atas sebuah kayu. Iya, tiada kekuatan lain yang dapat menolong selain Tuhan, maka berserah dirilah dalam kehidupan.

Saat kita merasa sendirian, percayalah kita memang sendirian. Perahu yang kita tumpangi sejatinya memang untuk kita sendiri. Terkecuali memang ada saatnya kita membangun bahtera rumah tangga. Ada saat-saat dimana kita mengarungi lautan tidak lagi sendirian. Tetapi kelak mungkin kita akan sendirian lagi. Saat anak-anak kita sudah tak bisa lagi kita tampung dalam bahtera. Sehingga agar tidak tenggelam, ia membangun perahunya sendiri. Dan dalam takdir yang telah ditentukan, pasangan kita pun bisa meninggalkan kita lebih dahulu. Atau mungkin kita yang lebih dulu.

Kalau begitu, siapa yang akan selamat?

Mereka yang selamat ialah mereka yang menjaga dirinya agar tidak tenggelam. Hingga pada akhirnya mereka sampai di tempat tujuan yang seharusnya tanpa harus tenggelam. Mungkin saja itu terjadi kepada kerabat kita yang lebih dahulu mendahului kita, mungkin pula pasangan kita, atau mungkin nanti kita bersamaan mereka.

***

Entahlah, tapi kali ini saya ingin mengarungi lautan ini sendiri. Mungkin dalam waktu yang cukup lama. Karena beberapa kali mencoba mengarungi bersama dengan orang yang diharapkan, yang didapat hanya kekecewaan dan keadaan dimana hampir tenggelam.

Karena Begitulah Lelaki

13782158_10201897274990999_1189968039369598390_n

Kadang hanya demi terlihat istimewa, seorang lelaki justru lupa akan jati dirinya.

Setiap lelaki adalah tulang punggung. Kelak nantinya akan mencari nafkah. Jati diri lelaki adalah bekerja. Laki-laki dinilai dari produktifitas dan kesibukannya. Seorang laki-laki sudah qodratnya untuk mencari uang dan wajib memberikannya kepada mereka yang memang berhak. Hal yang aneh bila seorang lelaki justru menghabiskan uangnya hanya untuk kepuasan diri mereka semata. Maka wajar bila seseorang mempertanyakan kepada lelaki akan kemana saja ia menggunakan uangnya. Ini bukan tentang besar-tidaknya penghasilan. Ini tentang prinsip lelaki yang berjuang mencari untuk memberi. Karena apalah guna penghasilan tinggi bila ia gunakan sendiri.

Kelak lelaki adalah pemimpin keluarga. Jati diri lelaki adalah amanah yang diembannya. Jikalau amanahnya saja sering ia tinggalkan, bagaimana mungkin lelaki dapat dipercaya untuk mengemudi bathera rumah tangga? Setiap jiwa adalah amanah. Lelaki yang tidak mampu untuk menjaga dirinya sejatinya tidak akan mampu menjaga apapun. Berlaku pula lelaki yang tidak mampu menjaga perasaannya, maka ia tak akan mampu menjaga perasaan siapapun. Begitulah kodrat lelaki. Apalah arti lelaki rupawan jika itu hanyalah tumpuan untuk menyakiti setiap perempuan.

Harga diri lelaki adalah setiap kata-katanya. Seseorang teman pernah berkata “seorang lelaki dilihat dari kata-katanya. Jika kata-katanya saja tidak bisa dijadikan pegangan, lantas apalagi yang bisa dilihat darinya?” Seseorang perempuan mungkin akan berbohong demi menyelamatkan banyak orang. Tetapi seseorang lelaki yang berbohong justru akan menyakiti banyak perasaan. Saat seorang lelaki berubah menjadi lebih baik, maka apa yang diperbuat di masa lalunya mungkin tidaklah terlalu penting. Namun apa yang pernah dikatakan di masa lalunya tetap menjadi hal yang penting.

Suatu saat nanti, lelaki adalah pemegang keputusan dalam keluarga. Meski bukan seorang ulama, ucapan laki-laki adalah fatwa bagi keluarganya. Sedangkan sebuah keputusan butuh ilmu. Maka jati diri lelaki adalah dilihat dari apa yang ia ketahui. Apa yang seseorang ketahui berasal dari apa yang ia lihat dan dengar. Maka hal yang lumrah bila mempertanyakan kepada seorang lelaki atas perihal kepada siapa ia berguru, apa saja yang biasa ia tonton dan dengarkan, apa saja yang telah ia baca, dan apa saja yang telah ia pelajari. Ini bukan tentang gelar di perguruan tinggi. Ini tentang sejauh mana seseorang lelaki mengetahui apa yang ia perbuat.

Setiap lelaki adalah wakil keluarga dalam masyarakat. Maka jati diri lelaki adalah pergaulannya. Lelaki diukur dari loyalitasnya terhadap pergaulan. Terlebih lagi perihal dengan siapa ia bergaul. Karena pergaulan lelaki adalah sebagian dari imannya. Apalah arti sebuah ketenaran seorang lelaki yang sejatinya tidak memiliki sahabat-sahabat yang akan menolongnya saat dalam kesusahan. Loyalitas lelaki adalah harga dari seorang lelaki. Terutama loyalitasnya kepada ibunya.

Ternyata menjadi lelaki memang tidak mudah. Itulah mengapa Tuhan menciptakan perempuan. Tentu untuk menyempurnakan harga diri lelaki. Ketahuilah, seseorang lelaki yang menghargai perempuan bukan berarti harga dirinya akan jatuh. Justru boleh jadi kelak perempuan yang dihargai oleh lelaki itulah yang akan bersaksi kepada Tuhan bahwa lelaki tersebut memang layak untuk diberikan derajat dan harga diri yang tinggi.

Mantra

Biarlah samudra itu menunjukkan bahwa ia tak mampu menenggelamkan rasaku sebagaimana hatimu melakukannya.

Biarlah petir itu bersaksi bahwa ia tak mampu menyambar kesadaranku sebagaimana setiap panggilanmu melakukannya.

Biarlah gunung itu bersaksi bahwa ia tak mampu meluluhlantakkan egoku sebagaimana setiap rayuanmu melakukannya.

Jikalau hari ini ada karena kumpulan detik, maka detik-detik denganmu adalah kesempurnaan hariku.

Jikalau mentari itu adalah kumpulan masa hingga menjadikannya bercahaya, maka masa-masa yang kulalui denganmu ialah cahaya yang menerangiku di setiap lembaran usia.

Berpikir tentangmu kadang membuatku melakukan hal-hal aneh. Seperti tersenyum menatap jendela. Seakan seisi dunia ini tampak membuatku bahagia.

Berpikir tentangmu kadang membuatku melakukan hal-hal aneh. Seperti bernyanyi di hadapan cermin. Seakan seisi dunia ini sedang memujaku.

Satu alasan mengapa kau adalah yang terbaik ialah kau membuatku tak bisa lagi melirik bahkan kepada yang baik-baik!

Satu alasan mengapa kau adalah yang terindah ialah dengan mengingatmu saja segalanya tampak menjadi lebih indah!

***

Hai kamu, iya!

Setiap pagi dan sorenya menjelma doa

Agar kamu memimpin hati ini dengan tahta

Permaisuri dengan cipta dan cinta

Yang mengangkatku menjadi pemahat kata

Sekaligus Raja

Hai kamu, iya!

Setiap siangnya menjadi tenaga

Agar aku memiliki kuasa

Yang selalu memacu asa

Semangat dalam kerja

Hai kamu!

Setiap malamnya menjelma rindu

Sayangku

Ini tentang kamu, aku

Selalu

Bumi Itu Kamu

1607084

Sampai saat ini
Atmosfer itu hanya ada padamu
Hingga rasanya seperti sesak bila jauh darimu.
Cobalah sesekali melambai padaku
Bukankah gemulai tanganmu begitu ayu
Layaknya ukiran batu dan pasir di Arizona

Di tengah yang terang kau layaknya mutiara
Pada yang gelap, kau nampak layaknya aurora.
Selalu sejuk bagai oasis di tengah Sahara
Mengalihkan perhatianku bagai kompas yang selalu ke arah Utara

Senyummu mengingatkanku pada lengkungan di cakrawala
Sesekali tampak gigimu yang laksana permata
Kadang juga seperti matahari di kala senja
Inginkah kau menyapa?
Nanti aku terbang ke Antartika

Kau membuatku lupa akan setiap pendakianku
Wajahmu lebih cantik dari panorama yang ada
Tampaknya aku jatuh padamu
Ada gravitasi yang menyelimutimu
Bisakah kau menatapku
Agar aku tahu sepasang amethyst matamu itu?

Aku bingung, pakaianmu selalu serasi
Seperti danau tiga warna
Setiap untaian kata yang kau buat
Benar-benar menenggelamkanku bagai Niagara
Kadang juga menenangkan seperti Katatumbo
Tapi tetap indah layaknya Raja Ampat

Kau pasti wanita yang setegar Maunakea
Kau memiliki hati sedalam palung Mariana
Kesabaran seluas Eurasia
Pengetahuan setinggi dirgantara
Biarkan aku bernaung padamu
Karena Bumi itu kamu

*nb: Sedangkan aku hanyalah ampas jus mengkudu

Artefak

 

 

Heart shaped tree on open book

Sesekali aku ini ingin menjadi malaikat, yang selalu patuh kepada Tuhan agar terus mendampingimu. Tapi apa asiknya bila dibandingkan menjadi orang yang mencintaimu meski tak selalu ada disampingmu.

***

Kamu terjebak dalam setiap neuron, setiap arteri, dan setiap syaraf yang aku punya. Dan cara aku mengeluarkanmu, adalah dengan menuliskan semua tentangmu.

***

Selama ini aku bertopeng keluguan, bukan sebagai seorang penipu. Melainkan agar berpura-pura tidak mengetahui kekuranganmu agar kamu tetap nyaman.

***

Ada alasan Tuhan menyembunyikan masa depan, agar kita tetap berusaha. Setiap masa memiliki ujian dan musibahnya masing-masing.

***

Sebuah keajaiban bukan ada sekadar untuk cinta atau dapatnya pujian manusia. Ia ada agar kita kembali kepada Tuhan.

***

Akan ada banyak pilihan agar dapat disebut rupawan. Tetapi cukup dengan satu pilihan agar dapat disebut setia.

***

Setiap orang pasti menghargai harta. Dan investasi yang paling berharga itu kepercayaan.

***

Hidup itu tentang pilihan. Dan sejatinya manusia hanya ingin memilih agar tidak menyesal.

***

Seorang ibu pasti menyukai anaknya apa adanya. Tubuhnya, jiwanya, tawanya, tangisnya, kelebihannya, maupun kekurangannya. Tidak ada ibu yang menyukai darah dagingnya dengan seperlunya. Belajarlah arti cinta dari seorang ibu.

***

Kelak selain di dunia, air mata tidaklah berharga. Menangislah sesukamu bila memang itu baik.

***

Aku akan selalu peduli kemanapun kau pergi. Selama kamu sadar bahwa aku adalah tempat kau pulang.

***.

Batasan keputusan untuk bertahan dapat dikatakan bodoh atau bijak hanyalah persoalan saat kita masih dihargai atau tidak.

***

Bila kelak kita menemukan orang yang pantas untuk dicintai seumur hidup, sejatinya kita telah mendapatkan sebuah pencapaian yang indah dalam hidup.

***

Musuh adalah guru yang mengajarkan bahwa hidup tak selalu tentang cinta.

***

Tidak perlu harus jauh mendaki sebuah puncak. Menatap dirimu saja sudah cukup.

***

Menyebut namamu adalah reflek yang sulit kukendalikan setelah menyebut Tuhan dan utusan-Nya dalam setiap doaku.

***

Jikalau mengingatmu membuatku mengingat Tuhan, aku pikir ini cinta.

***

Alasan dari munculnya rasa bosan manusia adalah karena tidak menghasilkan apapun. 

***

Buanglah apa yang membuatmu takut. Meski sulit, setidaknya itu tidak akan membuahkan penyesalan.

***

Cinta itu indah karena kesuciannya. Dan akan semakin indah bila kita sabar.

***

Sebuah “maaf” tak pernah salah meski diucapkan berulang-kali, apalagi untuk Tuhan. 

***

Hanya karena kamu mencintai langit karena tinggi dan indahnya, kamu sampai lupa daratan. Padahal bila kamu kenal langit, apa yang ada di atas sana jauh akan lebih berbahaya untukmu.

***

Cinta itu memang ada bagian pengorbanannya. Bila merasa menjadi korban, itu belum bisa disebut cinta.

***

Cinta itu seperti ekosistem. Ada yang harus tumbang untuk melindungi mereka yang harus bertahan.

***

Rindu itu duri yang digenggam. Sedangkan merindukan masa lalu itu seakan kita sedang menonjok sesuatu dengan tangan yang memegang duri itu.

***

Mengingat kematian itu membuat seseorang menjadi memiliki visi yang elegan.

***

Ada kalanya kita harus egois soal cinta. Karena cinta yang dibagi-bagi itu terlalu aneh. Kalaupun ingin selalu berbagi, berbagilah kebahagiaan.

***

Cinta adalah jawaban yang mengalahkan hal logis. Mirip seperti sihir. Yang membedakan adalah dalam cinta memiliki elemen harapan.

***

Rasanya aku ingin sekali pergi ke tanah lapang. Meneriakkan namamu. Hingga aku sadar bahwa kamu tidak ada. 

***

Aku ingin benar-benar ingin berhenti bila mencintai itu sakit. Paling tidak, aku bisa berhenti sejenak untuk beristirahat kemudian kembali mencintai lagi.

***

Kenangan itu manis saat kau tidak bisa menggapainya dikarenakan waktulah yang membuatnya tidak bisa, bukan karena pernah ada kebencian di dalamnya.

***

Tuhan memberikan waktu kesendirian untuk memperbaiki diri. Bukan untuk meratapi apa yang memang tidak diberikan Tuhan kepadamu.

***

Aku ini seperti berada di sebuah panggung “pura-pura kuat” dalam sebuah acara bertajuk “kesabaran menghadapi kenyataan”.

***

Kadang ada masa saat aku ditinggalkan seseorang. Itulah saatnya mengejar ketertinggalan, bukan mengejar ia yang meninggalkan.

***

Mencintai ajaran Tuhan dan diri sendiri adalah dua cinta yang selalu terbalas.

***

Untuk menjadi sadar, perjalanannya cukup panjang. Dari mulai merendah, bersabar, bersyukur, beribadah, bergaul, berkarya, bahkan sampai pergi ketempat yang sangat jauh. Hingga akhirnya aku mengetahui betul bahwa karunia terindah adalah apa yang diperjuangkan kemudian disyukuri.

Yang Tidak Berubah

Sampai pada jam pasir ini telah habis seluruhnya

Sampai pelangi ini pun usai dilukis

Sampai akhirnya usia ini pun mulai terkikis

Darahmu ini tetap menyakitimu

Tulangmu ini terus memebanimu

Jemari ini pun bahkan belum selesai menodaimu

Dan engkau selalu sama saja

Balasan sayang masih tetap terasa sama

Meskipun kini keriput itu mulai mencoba menutupinya

Senyumanmu tetap yang terbaik

Ibu

Imaji, Nona

fishy_love_by_monika_es-d5yl3oo

Aku bingung bagaimana cara romantis. Meski begitu, aku benar-benar masa bodo, Nona.

Meski marmut mampu belly dance, anak kucing menyanyi qosidah, atau pinguin bermain Catur Jawa. Wajahmu itu tetap yang paling imut.

Andai bumi memang datar, mata Illuminati kemudian belekan, atau Pokémon artinya “aku baper”. Maka memikirkanmu itu lebih penting.

Walau suatu saat kuntilanak pakai bikini, pocong terkena obesitas, dan tuyul jadi dosen matematika. Maka kehilangan dirimu itu tetap lebih kutakuti.

Sampai Einstein pakai bocoran UN, Donald Trump ngefans sama Jarwo, Mr. Krab jadi karyawan Bank Indonesia. Tertawamu itu lebih kunantikan.

Meskipun nanti Ichigo jadi wakil Kurapika dalam pemilu Turki. Atau Cucu Sasuke jadi bintang sinetron Uttaran. Kabar tentangmu ialah tetap yang utama.

Pada hari dimana Saitama bertarung melawan Ipman, ninja Hatori dilantik jadi Hokage, dan Annabelle berhijab syar’i. Menyaksikanmu tetap jauh lebih istimewa.

Jika nanti Harry Panca ternyata ayahnya Upin dan Ipin, atau Stephen Hawking ternyata korban vaksin palsu. Maka itu tak lebih penting daripada membuatmu ceria.

Sampai semua hiu dibehel, semua ular kena pholio, dan semua sapi jadi anoreksia. Maka mencintaimu belum bisa kuhentikan.

Hingga nanti test TOEFL dijadikan ujian chunin, Detective Conan main kuda reot, dan Spiderman bunuh diri pakai Baygon. Biarkan aku tetap memujamu.

Meski Kim Jong Un buka bimbingan belajar, Mark Zuckerberg buka Biro Jasa STNK, dan Putin buka kedai seblak. Aku lebih tertarik dengan pesona dan aktivitasmu.

Masa bodo dulunya Valak pernah main Tamiya, Superman pakai celana dalam di kepala, atau Ariana Grande menge-chat pribadi. Apa yang kita lalui nanti adalah kenangan yang membuat orang lain iri.

Tetapi, sekalipun aspartame dan detergen dipadukan air laut dan cuka untuk kujadikan obat tetes mata, maka air mata ini jelas tak akan lebih banyak ketimbang mengetahui bahwa aku telah menyakitimu, Nona.

Sejauh Kepada Siapa Kita Mendengar

 

Seseorang pernah merespon sebuah nasihat dengan berkata, “Bicara itu mudah, melakukannya itu yang susah.” Saya yang mendengar ia berucap hal tersebut langsung saja percaya terhadap kalimat yang barusan ia katakan, tetapi saat itu pula saya tidak percaya kepadanya. Karena meski benar sekalipun, ia menyampaikannya disaat yang tidak tepat. Lagipula, kalimat itu lebih cocok untuk dipedengarkan untuk diri sendiri, bukan untuk orang-lain.

Seorang murid pernah bertanya kepada gurunya yang bijaksana, “bagaimana cara agar terhindar dari berbuat buruk manakala kita sedang sendirian?” Sang guru pun memberikan jawaban yang cukup singkat “sering-seringlah untuk mengajak bicara kepada diri sendiri.” Sebuah logika komunikasi yang cukup sederhana, bagaimana mungkin seseorang akan menyapa atau tak sungkan mengajak berbicara bilamana kita sendiri pun tidak pernah mengajaknya berbicara. Pada situasi yang sama, ternyata berlaku juga kepada diri sendiri.

Seseorang yang tidak akan mengkhianati kita hanyalah diri kita sendiri. Ia akan mencoba untuk membangunkan kita manakala sedang jatuh, dan membuat kita untuk tetap tersenyum manakala kita sedang menangis. Tapi disisi lain, ia juga dapat membawa pengaruh buruk manakala kita sedang baik. Hal yang mempengaruhinya tak lain adalah seberapa sering kita mengajak diri sendiri berbicara hal-hal yang baik. Ini mungkin terdengar mirip Jessica Method, meskipun bukan.

Apa yang seringkali terbalik adalah terlalu menganggap bahwa diri sendiri ini telah melakukan banyak hal, masih punya banyak waktu, atau mudah dimaafkan oranglain. Bila ada seseorang yang tak pernah berubah tabiat buruknya ketika sedang sendirian walaupun ia telah membaca, menyimak, maupun sering berucap kalimat yang baik. Mungkin selama ini ia melakukannya bukan untuk dirinya sendiri.

Ada milyaran kalimat bagus di luar sana, jutaan yang kita dengar, ribuan yang kerap kali kita  ulang-ulang agar didengar dan dibaca oleh ratusan orang. Tapi mungkin hanya beberapa yang kita sampaikan untuk diri sendiri.

Rasa

Yang kaya buang-buang harta. Yang miskin buang-buang air mata.

Yang jujur makin makin menderita. Yang zholim makin membabi-buta.

Yang tahu malah meragu. Yang bodoh malah mengganggu.

Yang berparas begitu sombong. Yang jelek begitu songong.

Yang rajin semakin futur. Yang malas semakin hancur.

Ini Dunia. Mirip Neraka. Kata si-Surga.