Prolog

Aku melihat segalanya, padahal memejamkan mata.

Paradoks!

Diam-diam aku memperhatikan, dan mulai tahu kebenaran

akan sebuah dunia yang begitu tajam, kejam,

ternyata hanya sebuah mata pisau yang punya sisi lain. Lebih tumpul nan ramah.


 

Persepsi. Semua orang mampu menjadi juri di dunia ini.

Sayangnya banyak dari mereka tak melihat kedua sisi.

Lebih mengedepankan ego dan pembenaran diri.

Aku tidak boleh membiarkan ini lagi dan lagi.

Karena bila ini terus dibiarkan terjadi,

nanti akan banyak hati yang mati.


Ternyata tadi aku hanya bermimpi // Satu demi satu tahu tadi mulai terlupa // Sebenarnya ini tidak pantas bagi seorang athazagoraphobia //

Waktunya mencari cara // Agar mimpi tadi abadi dalam nyata // Menulis jawabnya // Kiranya walau harus menjadi filosofilia // Mencintai mencinta //


Kalau bingung, yang di atas jangan dibaca. Terlanjur ya? Ya nikmati saja, nanti juga jadi khazanah. Namanya juga untaian pshycedelic. Haha.

Saya bukan penulis. Boleh dibilang tukang corat-coret. Hanya ingin memperkuat ingatan sendiri. Itu saja. Karena cerita tidak ada yang sama. Ingatan memang tak berubah. Tapi ingatan tidaklah abadi. Bilamana ingatan abadi, kitanya kan tidak.

Suatu hari nanti. Ketika ingatan akan sebuah cerita dan opini telah tiada. Maka sebuah karya akan kembali membuat ingatan itu hadir. Musik, gambar, dan tulisan misalnya.

Bila kita telah tiada dan tak lagi mampu ada.

Untuk bercerita.

Maka karyalah yang berbicara.

santri

Iklan

One thought on “Prolog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s