Semesta Diri

Back from Safari - Jacek Yerka

Duhai yang sedang melawan kekhawatiran.

Aku di sini menantimu.

Sekalipun kegelapan membuatku tak begitu jelas melihatmu

Tapi aku membawa matahariku sendiri.

Raih saja tanganku.

Ada beberapa semesta yang akan kutunjukkan padamu.

Tidak mengapa kalau kau tak suka.

Paling tidak, kamu jangan redup lagi.

Ayo berjalan bersamaku.

Aku juga punya gula-gula yang mungkin kau suka.

Sembari keliling. Lama juga tak mengapa.

Musim hujan tidak masalah bagiku.

Jangan di belakang, di sampingku saja.

Nanti kamu sulit melihat sinar di wajahku.

Dan aku ingin melihat gemerlap bintang di matamu.

Mari kita mulai dengan berjalan kecil saja.

Apa kamu lelah? Aku bisa menggendongmu.

Oh iya, aku ingat sebuah cerita.

Tentang seorang Ratu yang jatuh hati pada pencuri yang kelaparan.

Rasanya terbesit aku juga jadi ingin mencuri.

Ah, kita sudah sampai.

Terang sekali bukan? Seperti mentari.

Itu kan cahaya mataharimu. Lupa ya?

Coba tolong silangkan tanganmu di leherku.

Jangan di lepaskan. Karena kali ini aku akan terbang.

Maaf membuatmu takut.

Tapi panorama saat seperti ini teramat indah. Aku suka.

Terlebih aku makin suka jika kamu tersenyum.

Itu buat aku menjadi tidak terkalahkan.

Dan sebentar lagi dari sini kita akan dengar simponi.

Apa kau yakin kali ini tidak ingin bernyanyi?

Eh, coba lihat itu!

Ikan-ikan itu mengikuti kita.

Tapi mereka tidak akan memanjat gunung dengan itu.

Ngomong-ngomong sepertinya kamu tampak sehat lagi.

Kalau tidak salah.

Seharusnya sehabis ini ada wewangian bunga.

Ah, ini dia. Sempurna!

Terlebih langit di sini selalu biru.

Sudah kubilang, kau akan suka.

Semua ini kan, kenangan manismu.

Baiklah kalau begitu, aku akan ke tempat terakhir.

Pakaianmu sekarang tidak gelap lagi.

Karena cahaya ribuan galaksi yang sempat redup tadi telah kembali.

Aku harap kamu bisa lebih lama tampil semempesona ini.

Maaf, ya. Aku memang suka begini.

Suka banyak bicara.

Dan di sini, aroma ini, melodi ini, panorama ini.

Semua akan kamu rasakan sekaligus.

Aduh, maaf malah membuatmu menangis.

Tapi sepertinya tangismu berbeda kali ini.

Ada-ada saja.

Oh, iya. Maaf aku sampai lupa.

Perkenalkan, aku adalah harapanmu.

Sosok yang akan mengantarkanmu ke tempat ini lagi jika kau tersesat.

Tempat ini adalah impianmu.

Kalau kau ingin bertemu lagi denganku,

Kau hanya perlu punya keinginan

Untuk sampai ke sini.

Dan satu lagi.

Terima kasih karena telah terlahir ke dunia ini.

Iklan

Dual

Vladimir Kush

Vladimir Kush

 

Cahaya paling terang akan menghasilkan bayangan paling gelap. Sedang orang yang paling sering membuat orang sekitarnya bahagia, cenderung menyimpan penderitaan paling kelam.

 

Dasar dari sifat dunia ini hampir keseluruhannya berpasangan. Bukan tentang pria-wanita, tapi lebih universal dari itu. Seperti terang-gelap, baik-buruk, senang-sedih, mudah-sulit, bahagia-derita, dsb. Sebagian nilai tadi standarnya dibuat oleh manusia, sebagiannya lagi Tuhan Semesta Alam.

Kehidupan bagaikan roda berputar. Kadang ada saatnya saat kita berada di titik terendah dari asa, sehingga yang ada hanyalah derita. Sementara  berangsur-angsur kita pun akan kembali naik pada titik tertinggi, yaitu bahagia. Dan akan terus begitu, bergantian dengan pasangannya. Siapapun yang mendapatkan satu sifat dari dunia ini, pasti akan mendapatkan hal yang berlawanan dari apa yang ia dapat.

Disukai atau tidak, hal yang demikian dasarnya sudah berpasangan, tidak akan pernah bisa dipisahkan. Di dunia akan selalu ada orang yang mendukung dan yang menjatuhkan. Akan ada yang menang dan ada yang harus kalah. Jika ingin sebuah cinta, maka harus siap menghadapi kebencian, jika ingin sebuah perdamaian, maka harus siap menghadapi peperangan. Jika ingin menciptakan persatuan, maka harus menciptakan perselisihan dengan satu musuh bersama. Tapi mengambil jalan pintas untuk menjadi Sympathetic Villain untuk mencapai perdamaian dengan memulai perang juga bukan sesuatu yang dibenarkan.

Semua sifat dari dunia ini datang dengan keniscayaan, tidak bisa ditebak –  tidak ada jalan pintas. Cepat atau lambat akan datang menghampiri. Akan tiba saatnya kita akan dihadapkan pada sebuah pilihan yang lebih dilematis dan nan rumit. Tetapi cobalah untuk selalu berada pada jalan yang baik. Kalaupun kita berbuat buruk, maka selalu ada yang meluruskan. Kalaupun pada masanya kita harus berada di jalan yang buruk, maka berbuatlah yang baik sampai kemudian kita kembali di jalan baik. Akan ada masanya saat kita akan mengusahakan sebuah perdamaian dengan cara peperangan. Dan di saat itu terjadi, berdirilah di pihak yang benar.

Setiap harinya manusia berperang dengan sunyi dalam dirinya sendiri.