Panggung yang Runtuh

Sekarang ini aku menjadi penakut sebelum bicara. Takut apa yang keluar adalah hal yang tidak pernah ada.

Saya pernah menjadi seorang pembohong yang dimuliakan khalayak. Kebohongan demi kebohongan keluar dari lisan layaknya menceritakan hal yang benar-benar terjadi. Semua terbius dalamĀ  gambaran manis yang dikemas pada kata-kata yang terlontar. Tetapi paling tidak, tulisan saya tidak pernah berdusta. Mungkin karena lebih banyak keluar dari benak yang terdalam.

Kadang saya menjelaskan diri saya terlalu jauh dari kenyataan. Jika saya terlambat atau tidak menghadiri sesuatu yang penting karena tertidur, saya beralasan bahwa saya sedang sibuk. Jika saya mendapat nilai buruk, saya selalu mengatakan nilai saya sangat memuaskan. Jika saya tidak mengerjakan apa yang diamanahkan karena malas, saya beralasan saya sedang sakit. Dan apapun saya katakan agar orang memandang saya sebagai orang baik.

Adapun kebohongan lain yang saya lakukan yaitu mengatakan bahwa saya telah melakukan hal-hal hebat, meski sebenarnya bukan saya yang melakukan. Adapula menjelaskan hal buruk yang dikerjakan oleh orang lain padahal diri saya sendiri. Kadang saya pun melebih-lebihkan sebuah cerita agar terdengar lebih lucu dan lebih menarik. Terlebih kadang mengatakan bahwa saya sedang tidak mencintai siapapun disaat saya sedang jatuh cinta pada seseorang. Dan tentunya semua kebohongan yang kadang hampir ketahuan itu saya tutupi dengan kebohongan yang lain. Meski ada pula yang terlanjur diketahui orang.

Sampai akhirnya tiba di satu malam hampir dua tahun lalu, saya berharap sesuatu yang belum pernah saya lakukan.

Tuhan, aku ingin semua ini selesai. Aku lelah membohongi banyak orang setiap hari. Aku lelah menutupi ini setiap hari. Tetapi aku takut semuanya terbongkar begitu saja. Maka saat itu terjadi, kuatkanlah aku, Ya Tuhan Yang Maha Mengetahui Lagi Maha Melihat. Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.

Bodohnya diri saya, saya masih berbohong di esoknya. Masih saja terlalu takut untuk mengatakan yang sebenarnya. Tetapi lambat-laun, mereka pun tahu. Atau mungkin selama ini telah tahu, namun tidak ingin membuat saya merasa terlalu bersalah. Meski kian hari, satu demi satu, semua orang mulai menjauh. Teman dekat meninggalkan, rekan pun tak lagi menyapa. Hingga yang tersisa dari mereka hanya sangat sedikit. Di saat inilah saya mulai berani untuk memulai berkata apa adanya.

Tibalah hari-hari di saat ibu saya sakit keras setahun yang lalu. Kami berdua menghabiskan hari-hari bersama di rumah sakit. Pembicaraan dan lelucon yang selama ini tidak kami utarakan selama ini semuanya benar-benar tertuntaskan seolah kami memang tidak akan saling bicara lagi untuk selamanya. Dan kamipun menyadari, bahwa penyakit yang diderita sangat lain dari yang sebelumnya. Betul-betul seolah tiada harapan untuk sembuh. Sampai kemudian sebelum kesadaran beliau benar-benar hilang, saya memegang tangannya dengan eratĀ tetapi malah masih sempat-sempatnya mengatakan hal bohong.

Emak akan sembuh. Semua akan baik-baik saja.

Tepat di hari Jumat, ibu saya masuk ICU. Tak henti-hentinya doa saya panjatkan demi sebuah keajaiban. Hingga kemudian keamanan dan perawat ICU memanggil pihak keluarga untuk memasuki ruang ICU. Saat itu ruang tunggu seketika berubah menjadi lebih dingin. Perlahan saya memasuki ruang ICU. Saya menyadari saat ini akan tiba. Saya membisikkan kalimat kesaksian di telinga ibu saya berulang kali. Sampai dokter menepuk pundak saya sambil berkata ibu sudah tidak ada. Dan saya teringat bahwa saya telah berbohong dengan berkata bahwa beliau akan sembuh. Jam menunjukkan pukul 23:28.

Di saat itu panggung sandiwara yang selama ini saya mainkan benar-benar runtuh. Sampai dengan seratus hari kematian beliau adalah hari-hari yang sangat berat bagi diri saya. Hingga kemudian secara tidak saya sadari, saya telah berubah karena lebih banyak bungkam. Saya berhenti berbohong demi diri saya sendiri untuk selama-lamanya. Terima kasih Tuhan.

Iklan