Flux

Jika bisa, saya akan terus duduk meluruskan kaki yang menopang buku ini. Kemudian menghiraukan angin yang berhembus membawa kabar dari kian penjuru itu. Sambil ditemani oleh beberapa turats yang hendak dijamah. Berdua saja bersama oase yang airnya takkan menipis, lalu bersandar pada pohon tua. Yang terdengar hanya suara gemuruh angin – sesekali pula kertas yang tertiup. Terus-menerus membaca lembaran demi lembaran penggalan kisah para pendahulu. Begitu seterusnya, terhempas angin di tengah gurun, hingga tertutup oleh pepasir. Menyatu dengan debu. Tapi sholat tak menjadikan saya terkubur di pepasir bersama kesunyian. Kemudian lenyap dan terlupakan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s