Kompetisi

Kita adalah generasi pertengahan yang dilahirkan diantara sejarah dua perang besar – yang pernah terjadi dan yang akan terjadi. Dan setiap perang pada dasarnya diawali oleh sebuah kompetisi semu. Kemenangan demi sebuah kekuatan, minyak, laut, tanah, dan kekuasaan. Sedangkan hakikatnya perang hanyalah sebuah kompetisi yang sejatinya membuat keduanya kalah sebelum perang itu benar-benar berakhir dengan jalan damai.

Pada sebuah perenungan yang panjang, penghargaan manusia kadang membuat saya bimbang.

Seseorang dipaksa menempuh pendidikan yang tidak ia minati, untuk mendapatkan pekerjaan yang tidak ia sukai, dan membeli barang yang tidak dia butuhkan, hanya untuk memenangkan sebuah penghargaan yang bahkan tidak ada dalam kenyataan.

Lain pula ada orang yang panjang perencanaan. Bicara dua puluh lima sampai tiga puluh tahun ke depan. Sementara masalah yang ada di hari ini lebih banyak ia kesampingkan. Panjang lebar janji ia utarakan pada sebuah perlombaan membuat janji terbaik. Padahal setiap janji hanya akan menjadi beban yang pikul sendiri. Sementara diluar sana, mereka siap tertawa kala ia jatuh. Semuanya demi penghargaan yang bahkan tidak jelas siapa yang memberikan.

Di sisi lain, sesorang mencoba untuk menjadi seorang rupawan. Menempelkan pernak-pernik di sekujur tubuhnya untuk tampil elok menawan. Sedangkan keluarganya ia abaikan. Semua demi sebuah penghargaan yang bahkan sejatinya tidak ada pemenangnya.

Ada pula seseorang yang membangun rumahnya sedemikian besar dan megah. Agar kelak ia bisa puas tidak merasa sebagai orang yang tertindas. Berharap ia bisa tidur pulas, dengan aroma ruangan semerbak, dihiasi pajangan-pajangan mahal yang indah dan berkelas. Padahal di rumahnya ia mungkin hanya tujuh sampai delapan jam dari dua puluh empat jam dalam sehari. Hanya tiga hari dari tujuh hari dalam seminggu. Hanya dua pekan dalam empat pekan dalam sebulan. Dan hanya dua bulan dalam dua belas bulan dalam setahun. Jadi apa yang sebenarnya ia anggap menang jika sebenarnya tidak ada yang ia kalahkan?

Kadang pula saya pun terjebak dalam sebuah kompetisi semu. Memperebutkan cinta yang tidak menjamin keselamatan dan kebahagiaan saya sendiri. Dan mungkin masih ada pula di luar sana kolega saya yang saling berlomba pada cinta yang mungkin saja tidak patut untuk diperjuangkan. Padahal diantara kita mungkin sebenarnya saling menyaadari bahwa sebenarnya tidak pernah ada yang namanya kompetisi. Hingga saya pun mengundurkan diri dari perlombaan yang hakikatnya tidak ada ini.

Cobalah tenang, berpikir jernih dan kemudian bertanya “sudahkah kita bahagia dengan ini semua?”

Tidak ada persaingan yang benar-benar jelas diantara manusia terkecuali diciptakan oleh manusia itu sendiri. Hingga akhirnya menyadari itu semua, saya menarik nafas begitu dalam dan malah justru benar-benar merasa kalah. Bukan kalah dari kompetisi yang digeluti selama ini. Tapi kalah oleh kompetisi versi saya sendiri. Karena perlombaan sebenarnya adalah tentang perlombaan antara persaingan amal baik dan amal buruk. Tuhan adalah jurinya, Kitab dan Utusan-Nya adalah pedomannya. Sementara hari penghakiman adalah pengumumannya. Dan mengingat ini, rasanya saya jauh dari menang.