Perahu Waktu

Entah kenapa saya suka dengan perumpamaan bahwa hidup ini layaknya berada di atas perahu. Dan lautan inilah dunianya.

Hanya Tuhan yang tahu seberapa besar ukuran perahu kita. Ada perahu besar yang bisa membawa banyak perbekalan, ada pula perahu kecil yang hanya sekadar menampung tubuh kita sendiri. Maka kadang tidak heran ada orang yang menaikkan ikan, harta, dan hal lainnya dari lautan tetapi ia tidak tenggelam. Meski hakikat apa yang dicari dari laut sebetulnya hanyalah sebatas untuk menyambung hidup. Itulah mengapa akan ada waktunya saat keserakahan akan menenggelamkan seseorang. Saat ia menaikkan hal yang seharusnya ke atas perahunya.

Perahu waktu terus membawa kita. Bisa saja kita berusaha mendayung yang notabene kita sendiri tahu bahwa ombak lebih kuat ketimbang otot. Agak lucu, seperti ikhtiarnya seseorang yang menentang takdir.

Dan disitulah bagaimana Tuhan berperan. Sebesar apapun upaya seseorang yang berada di tengah lautan, lautan tidak akan pernah bisa dikendalikan. Maka benar Imam Ghazali mengajarkan bahwa perumpamaan dalam berdoa seharusnya bagaikan seseorang yang berada di tengah lautan dengan terombang-ambing di atas sebuah kayu. Iya, tiada kekuatan lain yang dapat menolong selain Tuhan, maka berserah dirilah dalam kehidupan.

Saat kita merasa sendirian, percayalah kita memang sendirian. Perahu yang kita tumpangi sejatinya memang untuk kita sendiri. Terkecuali memang ada saatnya kita membangun bahtera rumah tangga. Ada saat-saat dimana kita mengarungi lautan tidak lagi sendirian. Tetapi ada saatnya kelak mungkin kita akan sendirian lagi. Saat anak-anak kita sudah tak bisa lagi kita tampung dalam bahtera sehingga agar tidak tenggelam, ia membangun perahunya sendiri. Dan dalam takdir yang telah ditentukan, pasangan kita pun bisa meninggalkan kita lebih dahulu. Atau mungkin kita yang lebih dulu.

Kalau begitu, siapa yang akan selamat?

Mereka yang selamat ialah mereka yang menjaga dirinya agar tidak tenggelam. Hingga pada akhirnya mereka sampai di tempat tujuan yang seharusnya tanpa harus tenggelam. Mungkin saja itu terjadi kepada kerabat kita yang lebih dahulu mendahului kita, mungkin pula pasangan kita, atau mungkin nanti kita bersamaan mereka.

***

Entahlah, tapi kali ini saya ingin mengarungi lautan ini sendiri. Mungkin dalam waktu yang cukup lama. Karena beberapa kali mencoba mengarungi bersama dengan orang yang diharapkan, yang didapat hanya kekecewaan dan keadaan dimana hampir tenggelam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s