Karena Begitulah Lelaki

13782158_10201897274990999_1189968039369598390_n

Kadang hanya demi terlihat istimewa, seorang lelaki justru lupa akan jati dirinya.

Setiap lelaki adalah tulang punggung. Kelak nantinya akan mencari nafkah bagi keluarga. Maka jati diri lelaki adalah bekerja. Laki-laki dinilai dari produktifitas dan kesibukannya. Seorang lelaki sudah kodratnya untuk mencari uang dan wajib memberikannya kepada mereka yang memang berhak. Hal yang aneh bila seorang lelaki justru menghabiskan uangnya hanya untuk kepuasan diri mereka semata. Dalam hal ini tentu wajar bila seseorang mempertanyakan kepada lelaki akan kemana saja ia gunakan uangnya. Ini bukan tentang besar-tidaknya penghasilan. Ini tentang prinsip lelaki yang berjuang “mencari untuk memberi”. Karena apalah guna penghasilan tinggi bila ia gunakan sendiri dengan rakus?

Kelak laki-laki adalah pemimpin keluarga. Maka jati diri lelaki adalah amanah yang diembannya. Jikalau amanahnya saja sering ia tinggalkan, bagaimana mungkin lelaki dapat dipercaya untuk mengemudi bathera rumah tangga? Memang betul setiap jiwa manusia adalah amanah. Tetapi laki-laki juga punya amanah sebagai orang yang mengayomi keluarga. Maka lelaki yang tidak mampu menjaga dirinya, sejatinya tidak akan mampu menjaga apapun. Berlaku pula lelaki yang tidak mampu menjaga perasaannya, maka ia tak akan mampu menjaga perasaan siapapun. Apalah arti lelaki rupawan jika itu hanyalah tumpuan untuk menyakiti setiap perempuan?

Harga diri laki-laki adalah setiap kata-katanya. Seseorang teman pernah berkata “seorang lelaki dilihat dari kata-katanya. Jika kata-katanya saja tidak bisa dijadikan pegangan, lantas apalagi yang bisa dilihat darinya?” Seseorang perempuan mungkin akan berbohong demi menyelamatkan banyak orang. Tetapi seseorang lelaki yang berbohong justru akan menyakiti banyak perasaan orang. Saat seorang lelaki telah berubah menjadi lebih baik, maka apa yang diperbuat di masa lalunya mungkin tidaklah terlalu penting. Namun apa yang pernah dikatakan di masa lalunya tetap menjadi hal yang penting.

Harga diri laki-laki adalah pendidikannya. Suatu saat nanti, lelaki adalah pemegang keputusan dalam keluarga. Meski bukan seorang ulama, ucapan laki-laki adalah fatwa bagi keluarganya. Sedangkan sebuah keputusan butuh ilmu. Maka jati diri lelaki adalah dilihat dari apa yang ia ketahui. Apa yang seseorang ketahui berasal dari apa yang ia pelajari. Maka hal yang lumrah bila mempertanyakan kepada seorang lelaki atas perihal kepada siapa ia berguru, apa saja yang biasa ia saksikan dan dengarkan dalam keseharian, apa saja yang telah ia baca, dan apa saja yang telah ia pelajari dalam kehidupannya. Ini bukan tentang gelar di perguruan tinggi. Ini tentang sejauh mana seseorang lelaki mengetahui apa yang ia perbuat.

Setiap laki-laki adalah wakil keluarga dalam masyarakat. Maka jati diri lelaki adalah pergaulannya. Laki-laki diukur dari loyalitasnya terhadap pergaulan. Terlebih lagi perihal dengan siapa ia bergaul. Karena pergaulan lelaki adalah sebagian dari imannya. Apalah arti sebuah ketenaran seorang lelaki yang sejatinya tidak memiliki sahabat-sahabat yang akan menolongnya saat dalam kesusahan. Itulah kenapa loyalitas lelaki adalah harga dari seorang lelaki. Terutama loyalitasnya kepada ibunya.

Ternyata menjadi lelaki memang tidak mudah. Itulah mengapa Tuhan menciptakan perempuan. Tentu untuk menyempurnakan kekurangan pada diri lelaki. Ketahuilah, seseorang lelaki yang menghargai perempuan bukan berarti harga dirinya akan jatuh. Justru boleh jadi kelak perempuan yang dihargai oleh lelaki itulah yang akan bersaksi kepada Tuhan bahwa lelaki tersebut memang layak untuk diberikan derajat dan harga diri yang tinggi. Seseorang lelaki yang memperlakukan perempuan sebagai ratu, maka dialah sang raja.

Iklan