Dilema antara Tetap Konsisten atau Melakukan Resolusi

Sudah menjadi hal yang cukup latah bagi saya bilamana setelah usai sholat berjamaah di masjid, maka saya mundur menuju barisan paling belakang. Tak lain untuk mempersilakan bagi jamaah yang belum/ingin menunaikan sholat agar bisa melaksanakannya di barisan depan. Selain itu saya pun nyaman untuk melanjutkan berdoa tanpa harus khawatir mengganggu mereka yang sedang melaksanakan sholat. Lagipula, di barisan yang paling belakang ini saya justru punya kesempatan mengamati bagaimana cara para jamaah melaksanakan sholat. Bagi orang yang tahu banyak tentang saya, tatapan saya saat seperti ini merupakan hal yang cukup menyeramkan. Mungkin karena mereka tahu biasanya setelah ini saya pasti berkomentar.

“Tadi imamnya salah bacaannya.” tiba-tiba selentingan tersebut keluar dari jamaah yang ada di sebelah. Mendengar hal itu saya pun membenarkan hal yang ia katakan barusan, karena memang saya pun menyadarinya. Tapi tetap saya lanjutkan sholat sebagai bentuk menyempurnakan rukun.Memang benar dalam sholat berjamaah keputusan bisa diambil dengan mudah seperti demikian. Tetapi kadang dalam episode kehidupan, posisi seperti ini bisa diibaratkan sebuah dilema.

***

Pastinya seseorang pernah mengalami sebuah jebakan pikiran antara memilih ‘dikerjakan salah, tapi butuh’ atau ‘ditinggalkan mungkin benar, tapi sengsara’. Dalam kondisi lain yaitu dilema antara memilih untuk tetap konsisten atau melakukan resolusi. Atau seperti memilih antara yang terjamin tetapi sedikit atau yang berisiko terapi banyak. Dan masih banyak lagi kondisi senada yang sebenarnya memang tak akan lepas dari kodrat manusia.

Percayalah bahwa Tuhan Maha Adil, karena masih memberikan kesempatan bagi hambanya untuk memilih dan tidak harus melulu me-robot. Hanya saja dalam memilih kadang timbul keraguan. Keraguan itu datangnya dari ketakutan. Umumnya muncul dari ketakutan akan kehilangan apa yang telah dimiliki. Seperti kehilangan uang, teman, rasa aman, waktu luang, atau mungkin cinta.

Bilamana hidup diibaratkan sebuah buku, maka disinilah guna halaman sebelumnya. Yaitu agar kita bisa memahami apa yang ada pada halaman berikutnya. Sejatinya ketakutan adalah sebuah ilusi karena kita tidak mengerti akan mengatasi sebuah bahaya. Pada sebuah pilihan yang sulit, sebenarnya yang perlu dilakukan adalah belajar. Kita ragu karena kita belum banyak belajar. Maka tiada salahnya bila kita belajar terlebih dahulu sebelum memutuskan. Itulah mengapa belajar menjadi hal yang diwajibkan bagi setiap manusia. Agar kita tidak bingung, ragu, atau takut. Bukan untuk menjadikan pintar apalagi sombong.

Sebuah pilihan selalu punya risiko. Kadang juga butuh pengorbanan. Dan kadang juga memaksa kita untuk kehilangan. Tetapi mengapa harus merasa kehilangan bilamana kita sadar bahwa semua hanya sekadar titipan. Bila kita jeli, sesuatu yang dikorbankan adalah hal yang cenderung tergantikan. Memang benar, pada sebuah kondisi dimana seseorang telah konsisten selama bertahun-tahun pastinya membuat seseorang tersebut punya banyak keraguan untuk melangkah mengambil perubahan. Tetapi bila memang baik, mengapa tidak justru disegerakan. Belajarlah dari anak kelas 6 SD. Bila mereka takut masuk SMP karena khawatir kehilangan teman, guru, atau kebahagian masa kecilnya, maka mereka mungkin tidak akan menjadi apapun.

***

Sejujurnya bila saya tidak memahami bagaimana kaidah saat imam melakukan kesalahan saat sholat berjamaah, mungkin saat itu saya pun berada pada dilema antara ‘melanjutkan tapi takut gak sah’ atau ‘memisahkan diri tapi jadi gak dapet pahala berjamaah’. Disinilah contoh peran bagaimana ilmu menyelamatkan kegalauan seseorang. Untungnya, bagi saya, memilih kamu adalah bentuk menyelamatkan diri dari sebuah kegalauan.. Uhuk!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s