Sunset Behind Book

image

Kurang lebih memasuki pekan ketiga setelah ayah tiada. Pada sebuah kondisi yang tidak bisa dijelaskan, saya adalah satu-satunya anggota yang justru tidak meneteskan air mata. Bukan berarti tak memiliki kesedihan, tetapi memang mungkin ekspresi kesedihan itu telah lelah menggerogoti saya jauh sebelum ayah meninggal. Katakanlah dulu saya yang sering menangis. Sehingga sepertinya air mata ini telah habis. Hanya bersisakan sebuah bayangan. Sebuah bayangan seakan sosok ayah yang telah meninggal itu hanyalah sedang pergi ke tempat yang tak terlalu jauh, dan sebentar lagi akan kembali pulang.

Ada kalanya bayang-bayang akan kematian justru bukan membuat saya merasa kehilangan, melainkan ketakutan. Bukan ketakutan terhadap siksa yang para pendahulu telah kisahkan. Melainkan takut untuk bertemu Tuhan. Mungkin agak sedikit aneh dan menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana mungkin ada seorang hamba yang meyakini bahwa Tuhan-nya adalah Maha Pengasih tetapi justru takut untuk menemui-Nya? Jawaban saya adalah takut untuk ditanya. Saya takut akan pertanyaan berupa alasan atau motif pada setiap perbuatan yang saya lakukan. Tuhan yang selama ini telah memberikan banyak titipan tetapi malah saya salah gunakan. Sejujurnya, saya takut untuk ditanya, melebihi takut daripada neraka-Nya.

Kenyataan yang saya hadapi sekarang adalah babak baru yang saya tulis pada sebuah buku catatan. Bilamana rencana hidup diibaratkan sebagai halaman berikutnya, mungkin ini seperti melongkap dua-tiga halaman, dan tiba pada halaman yang baru yang masih kosong. Saya memutuskan untuk menulis ulang kisah saya. Mungkin akan lebih banyak orang-orang baru yang saya cantumkan. Tentu saja beberapa tokoh memang, saya pertahankan untuk tetap saya tulis hingga hari tua. Hari-hari dimana hanya sedikit hal yang bisa dilakukan karena keterbatasan fisik. Dan di hari itu, buku ini akan kembali dibaca berulang-kali. Hingga akhirnya saya bertekat untuk tetap teguh, agar senja nanti kita tetap mengingat akan tulisan pada buku. Sebuah buku catatan amal.

Iklan