Katarsis dalam Nasihat

Di sudut lapangan, dari kejauhan saya pandangi kerumunan berseragam batik sekolah Islam terpadu yang telah usai menerima berita di hari pengumuman kelulusan. Rasanya seperti sebuah de javu. Tiba-tiba terbesit ketika dahulu saya pun pernah merasakan euforia kelulusan. Namun tentunya bukan diiringi dengan canda-tawa, melainkan berpikir. Di era yang serba bablas, kiranya dimulai dari situlah saya lebih suka meng-alienasi diri dengan kembali membaca buku-buku pemikiran zaman kegelapan. Tidak ada alasan lain terkecuali isinya yang memang bagus dan relevan. Mungkin perjalanan spiritual saya memang harus begitu.

***

Sejenak rasanya seperti terhipnotis dan kembali terdengar suara diri sendiri yang sedang membacakan sebuah paragraf tentang nilai kebijaksanaan dan kharisma yang mulai hilang dari retorika. Kiranya nanti akan sering sekali kita dengar kembali para tokoh yang bicara mengenai religi, moral, maupun etika dihadapan sebuah bangsa yang terkagum-kagum akan kesusastraannya tetapi sejatinya mereka telah tertipu daya pada keindahan bahasanya. Sehingga lupa akan maksud dari kalimat yang disampaikan.

Seseorang bijak pernah berkata “Orang yang menasihati seharusnya takut akan keindahan kata-katanya. Karena manakala nanti ia tak lagi mengindahkan bahasanya, orang lain justru tak mau lagi mendengar nasihatnya”. Lagipula yang bagus di dengar belum tentu benar. Sekalipun benar, maka belum tentu baik. Sejatinya nasihat yang baik itu bukan yang bagus bahasanya, melainkan yang telah dikerjakan terlebih dahulu oleh orang yang menyampaikannya.

Retorika seharusnya hanya dipakai jika perlu – seperti menyanyi. Aneh saja rasanya bila ada orang yang setiap berbicara selalu dilagukan. Yang disebut sebagai Raja dangdut pun tidak sampai sebegitunya. Jadi retorika pun sama – tak perlu sampai begitu. Bila harus menanggapi jika bertemu yang seperti itu, mungkin saya akan berkata Mau banget sampe dibilang “Widih!” sama orang lain?

Mungkin ada kepuasan tersendiri bagi mereka yang mengindahkan bahasa dalam penyampaian nasihat. Seperti menambah bumbu ke dalam sebuah air yang jernih. Padahal tidak semua air jernih akan semakin nikmat bila ditambah bumbu. Air yang jernih punya manfaat yang lebih besar ketimbang dibumbui. Karena air yang jernih itulah air yang justru menyembuhkan dan menyucikan. Dan nasihat ibarat air jernih. Jadi untuk apa dibumbui?

***

Suara kerumunan itu pun menyadarkan saya. Tampak adanya kelegaan di raut wajah mereka. Sepertinya hari pengumuman kelulusan sekolah itu merupakan hari baik bagi mereka. Tentunya sebelum mereka benar-benar sadar bahwa sistem telah mengatur kelulusan sekolah hanyalah awal dari bersekolah lagi di satuan pendidikan yang baru.

image

How media take your act

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s