Harga Sebuah Pengertian

image

Andai setiap orang saling mengerti. Terbebas dari kalimat “tidak peka” pada sebuah dimensi sosial. Seandainya jauh di sana ada dunia pararel dimana setiap orang dapat langsung mengetahui setiap masalah yang orang lain hadapi hanya dengan memandang wajah. Mungkin seseorang tak perlu duduk menghabiskan tenaga dan waktu berharganya untuk memberikan penjelasan agar dimengerti oleh orang banyak. Karena kita telah sama-sama saling mengerti akan kekurangan satu sama lain.

Tapi disebelah manakah indahnya dunia saat mungkin kita tak perlu saling bicara – tak ada tabayyun atau sekadar mencurahkan isi hati? Di sebelah manakah indahnya pengertian bila kita bisa saling mengerti tanpa harus saling berbicara? Bukankah keindahan dari sebuah pengertian adalah saat kita berbicara dan diperhatikan oleh orang yang sejatinya benar-benar peduli kepada kita?

Ya, itulah keindahan sebuah bicara. Agar saling mengerti satu dengan yang lainnya. Tapi dewasa ini orang yang pengertian menjadi langka. Karena sejatinya butuh empati untuk dapat mengerti. Empati yang timbul karena berbagi kisah hidup yang berharga dan dibentuk menjadi cerita yang sederhana. Dan sesuatu bisa dikatakan langka bilamana banyak yang membutuhkan tetapi sedikit yang tersedia. Bukankah ini merupakan hal yang mendasar dalam sebuah kehidupan? Lantas sungguh tidaklah bersyukur bila ada orang yang meninggalkan orang yang pengertian kepadanya.

Sebuah pengertian tak muncul dengan sendirinya. Dalam kondisi apapun, seseorang tak akan pernah mengerti bila ia tidak belajar. Entah dari pengalamannya sendiri atau diajari. Maka tentulah aneh bilamana seseorang justru meminta pengertian kepada seseorang yang pada dasarnya belum belajar atau tidak pernah diajarkan bagaimana cara agar mengerti. Mengapa seseorang menggunakan jalan yang teramat sulit untuk akhirnya memilih menggunakan “kode-kode” bila pada akhirnya tujuan daripada diciptakannya lisan adalah sebagai indera output manusia untuk memberikan penjelasan? Bukankah lebih baik untuk mempermudah sesuatu, bukan mempersulit termasuk pada urusan penjelasan?!

Jangan mempersulit diri bila ingin dimengerti, orang empati tak semurahan itu. Mereka sedikit dan akan selalu dicari, bisa lelah dan bisa menyerah. Maka adakah riwayat orang-orang baik terdahulu bila ditanya justru dijawab dengan “kode”? Jikalau tidak ada, lantas mengapa harus menjadikan orang-orang yang peduli terhadap kita sebagai “mainan tebak kode”?

Mungkin orang-orang sejatinya tidak paham akan hakikat berbicara sehingga tak menjadikan orang yang mendengarkannya semakin peduli. Mungkin orang-orang telah lelah untuk peduli hingga akhirnya orang-orang yang ingin pengertian justru semakin sedikit. Sebenarnya orang-orang pengertian tidaklah sedikit, kitalah yang selama ini membunuh kepedulian mereka.

Harga dari sebuah pengertian sangatlah mahal. Buktinya, kehilangan orang yang pengertian akanlah menyakitkan dan tak pernah tergantikan oleh harta benda. Namun pada sebuah realita, sesuatu tidak dapat disebut mahal bila orang-orang tidak menghargainya.

Teruntuk hati yang sedang belajar.

Bila memang seseorang ingin mengerti, tanpa banyak penjelasan pun ia akan tetap mencoba memahami.

Bila memang seseorang tak ingin mengerti, sebanyak apapun penjelasannya ia akan tetap tak peduli.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s