Generasi Terburu-Buru

Di pagi harinya bangun dengan terburu-buru.

Ia bangun dengan mengerjakan rutinitas pagi dengan terburu-buru.

Agar bisa buru-buru berangkat menuju tempat yang dituju.

Diperjalanan, berkendara dengan terburu-buru.

Rambu-rambu pun tak lagi diindahkan demi tetap melaju cepat sambil terburu-buru.

Tak peduli akan ketidak-sengajaan orang yang menyerempet, langsung terburu-buru menghakimi.

Setelah babak-belur, kemudian ditinggalkannya orang itu dengan terburu-buru.

Sesampainya di tempat kerja, langsung buru-buru buka media sosial.

Melihat status yang menyindir, langsung buru-buru berkomentar.

Mengetahui ternyata sindiran itu tidak ditujukan kepadanya, seketika itu buru-buru dihapus.

Di tempat kerja, makan pun terburu-buru. Supaya waktunya produktif, katanya.

Waktu istirahat tiba, langsung terburu-buru meninggalkan tempat kerjanya.

Sesampainya di luar, buru-buru mencari teman untuk bersenda-gurau.

Saat waktu istirahat habis, langsung buru-buru kembali ke tempat kerja.

Tetapi saat sampai di tempat kerja, justru buru-buru ingin pulang.

Saat jam kerja telah selesai, lagi-lagi terburu-buru pulang meninggalkan tempat kerja.

Di perjalanan pulang pun terburu-buru. Hingga tak jarang keselamatan orang lain pun terancam.

Sesampainya di rumah, terburu-buru ingin istirahat. Waktu bicara dengan keluarga terasa singkat dan dingin.

Saat menunaikan sholat, dikerjakannya pun dengan terburu-buru.

Setelah selesai, tanpa berdoa langsung buru-buru berbaring ke tempat tidur.

Tiba saatnya tidur, maka ia pun berpikir.

“Entah kenapa hidupku terasa melelahkan.”

image

Iklan

Katarsis dalam Nasihat

Di sudut lapangan, dari kejauhan saya pandangi kerumunan berseragam batik sekolah Islam terpadu yang telah usai menerima berita di hari pengumuman kelulusan. Rasanya seperti sebuah de javu. Tiba-tiba terbesit ketika dahulu saya pun pernah merasakan euforia kelulusan. Namun tentunya bukan diiringi dengan canda-tawa, melainkan berpikir. Di era yang serba bablas, kiranya dimulai dari situlah saya lebih suka meng-alienasi diri dengan kembali membaca buku-buku pemikiran zaman kegelapan. Tidak ada alasan lain terkecuali isinya yang memang bagus dan relevan. Mungkin perjalanan spiritual saya memang harus begitu.

***

Sejenak rasanya seperti terhipnotis dan kembali terdengar suara diri sendiri yang sedang membacakan sebuah paragraf tentang nilai kebijaksanaan dan kharisma yang mulai hilang dari retorika. Kiranya nanti akan sering sekali kita dengar kembali para tokoh yang bicara mengenai religi, moral, maupun etika dihadapan sebuah bangsa yang terkagum-kagum akan kesusastraannya tetapi sejatinya mereka telah tertipu daya pada keindahan bahasanya. Sehingga lupa akan maksud dari kalimat yang disampaikan.

Seseorang bijak pernah berkata “Orang yang menasihati seharusnya takut akan keindahan kata-katanya. Karena manakala nanti ia tak lagi mengindahkan bahasanya, orang lain justru tak mau lagi mendengar nasihatnya”. Lagipula yang bagus di dengar belum tentu benar. Sekalipun benar, maka belum tentu baik. Sejatinya nasihat yang baik itu bukan yang bagus bahasanya, melainkan yang telah dikerjakan terlebih dahulu oleh orang yang menyampaikannya.

Retorika seharusnya hanya dipakai jika perlu – seperti menyanyi. Aneh saja rasanya bila ada orang yang setiap berbicara selalu dilagukan. Yang disebut sebagai Raja dangdut pun tidak sampai sebegitunya. Jadi retorika pun sama – tak perlu sampai begitu. Bila harus menanggapi jika bertemu yang seperti itu, mungkin saya akan berkata Mau banget sampe dibilang “Widih!” sama orang lain?

Mungkin ada kepuasan tersendiri bagi mereka yang mengindahkan bahasa dalam penyampaian nasihat. Seperti menambah bumbu ke dalam sebuah air yang jernih. Padahal tidak semua air jernih akan semakin nikmat bila ditambah bumbu. Air yang jernih punya manfaat yang lebih besar ketimbang dibumbui. Karena air yang jernih itulah air yang justru menyembuhkan dan menyucikan. Dan nasihat ibarat air jernih. Jadi untuk apa dibumbui?

***

Suara kerumunan itu pun menyadarkan saya. Tampak adanya kelegaan di raut wajah mereka. Sepertinya hari pengumuman kelulusan sekolah itu merupakan hari baik bagi mereka. Tentunya sebelum mereka benar-benar sadar bahwa sistem telah mengatur kelulusan sekolah hanyalah awal dari bersekolah lagi di satuan pendidikan yang baru.

image

How media take your act

Harga Sebuah Pengertian

image

Andai setiap orang saling mengerti. Terbebas dari kalimat “tidak peka” pada sebuah dimensi sosial. Seandainya jauh di sana ada dunia pararel dimana setiap orang dapat langsung mengetahui setiap masalah yang orang lain hadapi hanya dengan memandang wajah. Mungkin seseorang tak perlu duduk menghabiskan tenaga dan waktu berharganya untuk memberikan penjelasan agar dimengerti oleh orang banyak. Karena kita telah sama-sama saling mengerti akan kekurangan satu sama lain.

Tapi disebelah manakah indahnya dunia saat mungkin kita tak perlu saling bicara – tak ada tabayyun atau sekadar mencurahkan isi hati? Di sebelah manakah indahnya pengertian bila kita bisa saling mengerti tanpa harus saling berbicara? Bukankah keindahan dari sebuah pengertian adalah saat kita berbicara dan diperhatikan oleh orang yang sejatinya benar-benar peduli kepada kita?

Ya, itulah keindahan sebuah bicara. Agar saling mengerti satu dengan yang lainnya. Tapi dewasa ini orang yang pengertian menjadi langka. Karena sejatinya butuh empati untuk dapat mengerti. Empati yang timbul karena berbagi kisah hidup yang berharga dan dibentuk menjadi cerita yang sederhana. Dan sesuatu bisa dikatakan langka bilamana banyak yang membutuhkan tetapi sedikit yang tersedia. Bukankah ini merupakan hal yang mendasar dalam sebuah kehidupan? Lantas sungguh tidaklah bersyukur bila ada orang yang meninggalkan orang yang pengertian kepadanya.

Sebuah pengertian tak muncul dengan sendirinya. Dalam kondisi apapun, seseorang tak akan pernah mengerti bila ia tidak belajar. Entah dari pengalamannya sendiri atau diajari. Maka tentulah aneh bilamana seseorang justru meminta pengertian kepada seseorang yang pada dasarnya belum belajar atau tidak pernah diajarkan bagaimana cara agar mengerti. Mengapa seseorang menggunakan jalan yang teramat sulit untuk akhirnya memilih menggunakan “kode-kode” bila pada akhirnya tujuan daripada diciptakannya lisan adalah sebagai indera output manusia untuk memberikan penjelasan? Bukankah lebih baik untuk mempermudah sesuatu, bukan mempersulit termasuk pada urusan penjelasan?!

Jangan mempersulit diri bila ingin dimengerti, orang empati tak semurahan itu. Mereka sedikit dan akan selalu dicari, bisa lelah dan bisa menyerah. Maka adakah riwayat orang-orang baik terdahulu bila ditanya justru dijawab dengan “kode”? Jikalau tidak ada, lantas mengapa harus menjadikan orang-orang yang peduli terhadap kita sebagai “mainan tebak kode”?

Mungkin orang-orang sejatinya tidak paham akan hakikat berbicara sehingga tak menjadikan orang yang mendengarkannya semakin peduli. Mungkin orang-orang telah lelah untuk peduli hingga akhirnya orang-orang yang ingin pengertian justru semakin sedikit. Sebenarnya orang-orang pengertian tidaklah sedikit, kitalah yang selama ini membunuh kepedulian mereka.

Harga dari sebuah pengertian sangatlah mahal. Buktinya, kehilangan orang yang pengertian akanlah menyakitkan dan tak pernah tergantikan oleh harta benda. Namun pada sebuah realita, sesuatu tidak dapat disebut mahal bila orang-orang tidak menghargainya.

Teruntuk hati yang sedang belajar.

Bila memang seseorang ingin mengerti, tanpa banyak penjelasan pun ia akan tetap mencoba memahami.

Bila memang seseorang tak ingin mengerti, sebanyak apapun penjelasannya ia akan tetap tak peduli.

Rasa

Yang kaya buang-buang harta. Yang miskin buang-buang air mata.

Yang jujur makin makin menderita. Yang zholim makin membabi-buta.

Yang tahu malah meragu. Yang bodoh malah mengganggu.

Yang berparas begitu sombong. Yang jelek begitu songong.

Yang rajin semakin futur. Yang malas semakin hancur.

Ini Dunia. Mirip Neraka. Kata si-Surga.