Silent

Nasi yang sudah ada di hadapan saya sejak tadi ini belum juga mengajak diri ini memakannya. Bukan hal yang tidak biasa bagi saya untuk menunda makan meski memakan adalah hal semudah mengambil apa yang memang sudah siap untuk disantap. Kalau memang tidak niat, meski diberi kemudahan pun tetap rasanya tidak ada keinginan untuk berbuat.

Seperti kalau dimisalkan, bilamana saat saya tidak berniat untuk bertindak sementara harus memilih antara menjadi menyenangkan atau berdiam diri, maka saya memutuskan dengan menjawab “Aku adalah bagian dari senyap”. Mungkin keputusan yang mengecewakan.

Tapi kadang sebuah keputusan tak bisa diberi penilaian se-ego-is itu. Ya emang sih, kita bukanlah satu-satunya pemilik rasa kecewa – orang lain juga punya. Dan ada keharusan bagi setiap manusia untuk menghindari kekecewaan orang lain. Walau kadang kekecewaan bukanlah hal yang bisa dihindari, tetapi paling tidak kita tidak memilih untuk menjadi mengecewakan.

Dan seseorang yang baik memberikan nasi beserta lauk dan sayurnya ini kepada saya. Mungkin berharap besar agar saya memakannya dan berkata “enak”. Namun pengalaman membawa saya pada sebuah tindakan untuk tidak memakannya, justru membungkusnya dan memberikannya kepada pengemis di seberang sana. Kemudian saya berjalan menuju sudut yang hening dari kerumunan – menyatu dengan yang senyap dengan kesendirian. Dan berniat untuk melakukan hal lain lagi tanpa mengecewakan.

Kita adalah pemilik dari apa yang sejatinya tidak benar-benar kita miliki.

Hal yang indah dalam kesendirian adalah melepaskan sesuatu tanpa kehilangan sesuatu apapun

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s