Cakrawala

Sewaktu kecil dulu, aku pernah bertanya-tanya kepada benak yang menjawab ala kadarnya itu, tentang apa yang menanti di ujung dunia. Sepertinya aku harus mulai berjalan untuk mencari jawaban itu. Dan rasanya yakin semudah menapaki jalan yang lurus saja hingga akhirnya menemukan apa yang ku mau. Terus berjalan sampai lupa akan siapa, kapan, dan dimana.

Hanya batas kemampuan diri yang menegur untuk berhenti untuk kembali melanjutkan. Dan semakin dikejar, semakin banyak kehilangan. Meski daratan dan lautan itu sudah kuarungi. Semua jerih payah ini sedikit demi sedikit mulai membuahkan penyesalan.

Dan kala saya telah lelah, ternyata dunia ini memang tiada ujungnya. Hanya sebuah perjalan panjang yang akhirnya kembali pada titik dimana kita memulai. Kemauan ini yang ku anggap sebagai ketidakpuasan. Seharusnya aku hanya perlu bersyukur.

Bisik hati yang terdalam, bukankah dunia memang seperti itu?
Semakin kita kejar, semakin tiada habisnya.
Semakin kita ingin lebih banyak, justru hal yang sudah kita dapatkan justru kita tinggalkan.
Semakin kita berjuang, yang kita dapat hanya lelah.

Aku pada akhirnya mengerti, dimanapun aku berdiri, maka aku ada di ujung dunia. Boleh jadi apa yang aku miliki adalah impian yang selama ini orang idam-idamkan, atau mungkin akulah impian itu.

Tempatku berdiri adalah dunia yang ingin oranglain tuju. Dan ia ada di belahan dunia yang lain – ujung dunia juga.

Dan sejujurnya, mengejar dunia itu melelahkan. Kalau boleh sekali lagi aku mengejar dunia, aku akan ke rumahmu saja.

Yang ku tahu, kamu sebaik-baiknya perhiasan dunia.

image

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s