Keraguan

Bila suatu hari engkau bertemu seorang pelacur, kemudian ia berkata “aku melakukan ini demi menghidupi kebutuhan anak-anakku.” Kemudian engkau pun menjadi ragu untuk mengatakan bahwa prostitusi itu salah.

Bila suatu hari engkau bertemu seorang pedagang yang curang, kemudian berkata “aku melakukan ini demi menghidupi istri dan anak-anakku.” Kemudian engkau pun menjadi ragu untuk mengatakan bahwa ketidak-adilan itu salah.

Kemudian bila suatu hari engkau bertemu lesbian, kemudian berkata “cinta tak memandang apa pun”. Kemudian engkau pun menjadi ragu untuk mengatakan bahwa LGBT itu salah.

Dan bila suatu hari engkau melihat bila pemukiman kumuh digusur secara paksa dengan alasan “perbaikan sistem” dibalik kepentingan kaun borjuis, kemudian engkau pun menjadi ragu bahwa penindasan itu salah.

Maka saat itu sebenarnya aku pun mulai meragukanmu.

Bilamana suatu hari nanti aku melakukan kesalahan dan kau tak lagi menegurku karena terlalu banyak keraguan di kepalamu, maka aku akan sangat takut.

Karena boleh jadi Tuhan-lah yang akan langsung memberi teguran.

image

Iklan

Silent

Nasi yang sudah ada di hadapan saya sejak tadi ini belum juga mengajak diri ini memakannya. Bukan hal yang tidak biasa bagi saya untuk menunda makan meski memakan adalah hal semudah mengambil apa yang memang sudah siap untuk disantap. Kalau memang tidak niat, meski diberi kemudahan pun tetap rasanya tidak ada keinginan untuk berbuat.

Seperti kalau dimisalkan, bilamana saat saya tidak berniat untuk bertindak sementara harus memilih antara menjadi menyenangkan atau berdiam diri, maka saya memutuskan dengan menjawab “Aku adalah bagian dari senyap”. Mungkin keputusan yang mengecewakan.

Tapi kadang sebuah keputusan tak bisa diberi penilaian se-ego-is itu. Ya emang sih, kita bukanlah satu-satunya pemilik rasa kecewa – orang lain juga punya. Dan ada keharusan bagi setiap manusia untuk menghindari kekecewaan orang lain. Walau kadang kekecewaan bukanlah hal yang bisa dihindari, tetapi paling tidak kita tidak memilih untuk menjadi mengecewakan.

Dan seseorang yang baik memberikan nasi beserta lauk dan sayurnya ini kepada saya. Mungkin berharap besar agar saya memakannya dan berkata “enak”. Namun pengalaman membawa saya pada sebuah tindakan untuk tidak memakannya, justru membungkusnya dan memberikannya kepada pengemis di seberang sana. Kemudian saya berjalan menuju sudut yang hening dari kerumunan – menyatu dengan yang senyap dengan kesendirian. Dan berniat untuk melakukan hal lain lagi tanpa mengecewakan.

Kita adalah pemilik dari apa yang sejatinya tidak benar-benar kita miliki.

Hal yang indah dalam kesendirian adalah melepaskan sesuatu tanpa kehilangan sesuatu apapun

Cakrawala

Sewaktu kecil dulu, aku pernah bertanya-tanya kepada benak yang menjawab ala kadarnya itu, tentang apa yang menanti di ujung dunia. Sepertinya aku harus mulai berjalan untuk mencari jawaban itu. Dan rasanya yakin semudah menapaki jalan yang lurus saja hingga akhirnya menemukan apa yang ku mau. Terus berjalan sampai lupa akan siapa, kapan, dan dimana.

Hanya batas kemampuan diri yang menegur untuk berhenti untuk kembali melanjutkan. Dan semakin dikejar, semakin banyak kehilangan. Meski daratan dan lautan itu sudah kuarungi. Semua jerih payah ini sedikit demi sedikit mulai membuahkan penyesalan.

Dan kala saya telah lelah, ternyata dunia ini memang tiada ujungnya. Hanya sebuah perjalan panjang yang akhirnya kembali pada titik dimana kita memulai. Kemauan ini yang ku anggap sebagai ketidakpuasan. Seharusnya aku hanya perlu bersyukur.

Bisik hati yang terdalam, bukankah dunia memang seperti itu?
Semakin kita kejar, semakin tiada habisnya.
Semakin kita ingin lebih banyak, justru hal yang sudah kita dapatkan justru kita tinggalkan.
Semakin kita berjuang, yang kita dapat hanya lelah.

Aku pada akhirnya mengerti, dimanapun aku berdiri, maka aku ada di ujung dunia. Boleh jadi apa yang aku miliki adalah impian yang selama ini orang idam-idamkan, atau mungkin akulah impian itu.

Tempatku berdiri adalah dunia yang ingin oranglain tuju. Dan ia ada di belahan dunia yang lain – ujung dunia juga.

Dan sejujurnya, mengejar dunia itu melelahkan. Kalau boleh sekali lagi aku mengejar dunia, aku akan ke rumahmu saja.

Yang ku tahu, kamu sebaik-baiknya perhiasan dunia.

image

Questioning

image

Another art of Paul Kuczynski

Tidak perlu selalu menjawab pertanyaan yang diawali dengan “kenapa”. Memang sudah menjadi semestinya, ada beberapa persoalan yang tak perlu ditanya “kenapa”, perasaan misalnya. Seperti “kenapa aku suka membaca hal yang semacam ini?” #halah

Bila ungkapan “malu bertanya, sesat di jalan” adalah hal yang selalu menjadi dasar seseorang agar bertanya saat tidak tahu, ini merupakan kebodohan. Perlu dipahami, kebodohan juga bisa diketahui dari bagaimana seseorang bertanya, bukan hanya persoalan kapasitas seseorang dalam menjawab.

Mengetahui cara untuk bertanya sama pentingnya dengan mengetahui cara memberikan jawaban. Tidak semua pertanyaan akan mengantarkan kita pada pengetahuan. Beberapa pertanyaan justru akan menjebloskan kita pada ketidaktahuan yang berkepanjangan.

Cobalah beranalogi, ketika seseorang yang sedang tersesat di jalan padahal harus melanjutkan perjalanan, kemudian bertanya kepada wanita pedagang kaki lima yang sedang melayani pembeli.

“Mbak, numpang tanya. Mbak, mau gak sama saya?”

Do you understand?

Maka cobalah meningkatkan kualitas pertanyaan. Karena kualitas pertanyaan yang bagus akan mengantarkan pada jawaban yang hebat.

Terlepas dari cara bertanya, seseorang bisa dikatakan bijaksana bilamana selalu memiliki jawaban dari tiga pertanyaan dasar dalam setiap urusan.

Untuk siapa?
Untuk apa?
Untuk kapan?

Bila kita lebih jeli, perdebatan manusia berawal dari pertanyaan “kenapa” yang tidak perlu ditanyakan. Dan karena tidak perlu ditanya, maka tidak seharusnya dijawab. Itulah mengapa orang-orang bijak mengatakan bahwa diam adalah jawaban dari pertanyaan bodoh. Jadi, kenapa harus pusing bahkan sampai berkelahi memikirkan jawaban dari pertanyaan “kenapa”?

Jawabannya, kembali ke paragraf pertama.