Lu Jual, Gua Pergi

Alasan kuat bagi saya untuk meninggalkan seseorang atau kelompok yaitu ketika mereka mulai memperjual-belikan keyakinan.

Perjalanan hidup akhirnya membawa saya untuk menimba ilmu di perguruan tinggi. Dan begitu beruntungnya saya karena sedari awal masuk kuliah, sudah diayomi oleh orang-orang serta lembaga yang baik agar tidak terpengaruh oleh pemikiran yang kebablasan. Mengingat bahwa pasca-reformasi, kampus merupakan wadah yang paling “merdeka” dalam mengutarakan pemikiran dan pendapat.

Tahun demi tahun saya lalui. Semua dilakukan dari mulai mengabdi sebagai anggota hingga pernah juga diamanahkan menjadi ketua lembaga. Walaupun setiap ditanya, pasti jawabnya “biasa saja”. Tetapi anehnya itu justru menjadi hal yang luar biasa di mata mahasiswa. Ada apa? Memangnya apa istimewanya? Dan jawaban yang paling sering saya terima adalah karena anggapan mengenai adanya korelasi positif antara keyakinan dan posisi jabatan.

Ternyata masih banyak yang berpikir bahwa sesuatu yang terlihat adalah sesuatu yang bisa diyakini.
Orang yang kelihatan sering bicara baik adalah orang baik, agamanya bagus.
Orang yang kelihatan jadi pembicara adalah orang yang baik, agamanya bagus.
Orang yang menjadi tokoh adalah orang yang baik, agamanya bagus.
Orang yang menjadi ketua lembaga adalah orang baik, agamanya bagus.

Sejujurnya ada dua hal yang saya takuti akan menjangkit orang-orang sekitar saya.

Pertama, saya takut bilamana “cara meyakini sesuatu” seperti ini menjangkit orang-orang yang berada di sekitar saya. Yaitu baru meyakini sesuatu bila terlihat atau dianggap bernilai di mata orang banyak. Bukankah keyakinan adalah hal yang tak boleh disandarkan pada penglihatan? Kalau boleh, bagaimana cara meyakini sesuatu yang tak terlihat? Bukankah keyakinan tidak boleh disandarkan kepada pendapat manusia? Kalau boleh, bagaimana mungkin meyakini pendapat manusia saat manusia sendiri memiliki pendapat yang berbeda-beda?

Kedua, saya khawatir dengan pola pikir bahwa orang yang bertahta adalah orang yang baik dalam beragama. Agama bahkan bukan hal yang dibonsai sebatas “bila dia rajin ibadah – maka agamanya bagus.” Ada hal yang lebih utama daripada ibadah beserta tata-caranya. Yaitu perihal “kepada siapa ibadah kita ditujukan?”. Bukankah pertanyaan pertama setelah kita meninggal adalah tentang siapa Tuhan kita, siapa pemimpin kita, dan beberapa pertanyaan lain yang akhirnya barulah sampai pada pertanyaan bagaimana waktu dan harta kita dihabiskan? Dan bukankah hal itu tidak bisa dinilai dari satu orang ke orang lain? Bila memang kita tahu bahwa hal itu tidak bisa dilakukan, maka berhentilah menilai keyakinan dan agama seseorang sebatas dari amalnya.

Dan satu lagi, ada yang lebih saya khawatirkan daripada itu semua. Yaitu, saya takut kalau pada akhirnya ibadah yang saya lakukan selama ini ternyata sia-sia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s