Apa yang Penting?

image

Kegilaan itu banyak macamnya. Salah satunya mencoba menemukan kebahagiaan yang sejatinya diciptakan, bukan justru dicari.

Kurang lebih memasuki tahun ketiga untuk melakukan pembiasaan diri menggunakan sepeda sebagai alat transportasi. Kini bukannya menjadi terbiasa justru malah jadi candu. Untungnya kecanduan yang seperti ini masih tergolong hal yang bisa ditolelir, karena masih bisa berdalih penghematan. Mengingat dewasa ini kebutuhan manusia bukanlah hanya sandang, papan, dan pangan yang sejak dahulu menjadi doktrin guru kepada anak sekolah dasar.

Cobalah kita membuka mata. Ada beberapa hal lain yang tak kalah penting. Kadang orang senantiasa lupa apa yang sebenarnya penting dan apa yang sepatutnya diabaikan. Dengan menganggap bahwa sandang, pangan, dan papan merupakan satu-satunya kebutuhan utama manusia, orang pun akhirnya beranggapan bahwa memiliki rumah mewah itu lebih baik dibandingkan bertindak jujur. Atau pakaian glamour itu lebih penting ketimbang menutup aurat. Atau bahkan hidangan lezat dan mahal itu lebih penting dibandingkan sekadar mengeluarkan kocek untuk bersedekah.

Kebutuhan hanyalah alasan klasik dalam menetapkan standar sesuatu menjadi penting atau tidak. Karena butuh, maka penting. Memang ada benarnya, tetapi cobalah jawab pertanyaan berikutnya “Emangnya butuh banget? Kalo gak begitu, mati? Lebih milih harta berlimpah tapi sakit-sakitan atau kesederhanaan tapi hidup sehat?”

Lantas apa yang penting?

Tidak penting mewah atau tidaknya sebuah rumah. Yang penting adalah cara mendapatkannya, apa kegunaannya, dan ketenangan bagi yang tinggal di dalamnya. Bukankah rumah adalah tempat dimana kita disambut oleh orang-orang yang peduli di dalamnya, bisa tertawa selebar-lebarnya, menangis sejadi-jadinya, atau beribadah sebanyak-banyaknya?

Tidak penting enak atau tidaknya makanan. Yang penting adalah baik atau tidaknya, sehat atau tidaknya, serta kepada siapa hendaknya kita berbagi. Bukankah selalu ada kisah di setiap berbagi makanan?

Tidak penting apa yang kamu pakai. Yang penting adalah cara memakainya. Itulah makna dari sebuah pakaian, bukan “jenisnya” tapi “cara pakainya”. Kalau lebih mementingkan jenisnya, namanya “jenisan” bukan “pakaian”. Apalah arti gaya pakaian “terbuka” dengan dalih hak asasi kalau ujungnya kriminalitas diawali dari hal-hal semacam ini? Hak asasi mana yang dibela? Suruh ibumu gunakan bikini, barulah kau teriakan hak asasi! Engkau yang terlalu banyak bicara di televisi adalah kebanyakan orang-orang yang jarang menziarahi makam orangtuanya sendiri. Sehingga lupa bahwa saat mati, kain kafan sesungguhnya adalah pakaian yang tertutup.

Tidak penting kendaraan apa yang kau naiki. Yang penting adalah kemana kamu pergi, untuk apa, dan apa yang kamu lakukan ketika perjalanan.

Kembali kepada urusan sepeda. Kenapa saya malah jadi candu? Pertama, hemat. Kedua, lebih banyak waktu untuk berpikir sembari bepergian. Ketiga, sehat (asal tidak memaksa tubuh). Keempat, lebih memperhatikan sekeliling. Kelima, penting.

Bukankah hidup hemat, sehat, peduli sekitar, dan banyak berpikir untuk mengambil keputusan adalah hal yang penting?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s