Pro-Grammar

Semakin lama, facebook menjadi media yang semakin nonsense. Dulu ada masanya saat media sosial yang satu ini berlomba menarik simpati dengan status para penggunanya yang penuh dengan bumbu-bumbu menurunkan IQ (tidak mencerdaskan). Bila secara tinjauan kilat, kini mungkin agak terlihat bagus dengan “pencerdasan” berupa artikel yang dibagikan. Padahal isinya jauh dari kaidah dan rukun-rukun artikel. Secara keseluruhan semakin mendekati sebuah pasar, dengan suguhan permainan, iklan, dan para “penjual” yang masing-masing berteriak mempromosikan “dagangannya” masing-masing. Entahlah, pada tahap ini saya sendiri sebagai pengguna bahkan tak dapat membedakan antara mana yang moderat dan kumuh secara penyajian.

Layaknya pasar, unsur preman juga ternyata melekat erat pada kondisi media sosial yang selalu kekinian ini. Sang ahlul komentar yang kerjanya pindah dari status satu ke status lain untuk berucap hal-hal fetish. Tidak habis pikir, bagaimana orang-orang semacam ini menghabiskan waktunya di luar sana. Yang jelas bukan orang yang biasa sibuk di atas sajadah.

Beberapa waktu ini saya sering menyoroti status orang-orang baik termasuk teman sendiri yang ternyata juga tak lepas dari perangkap keomong-kosongan. “Hidup ini adalah kebahagiaan …” dan bla bla… . Percayalah, bahwa tanpa mengatakan hal semacam tadi pun, bumi ini tetap berotasi, dan manusia tetap akan melupakan. Mungkin bisa dicoba, dari seratus kata-kata sang motivator ternama, berapa banyak yang diingat? Dari sekian banyak yang diingat, berapa banyak yang terlaksana? Dari sekian yang terlaksana, masihkah tetap konsisten?

Berkatalah yang baik atau diam. Karena yang bagus belum tentu baik. Cobalah sesekali berjalan ke ladang, beristirahat bersama petani, meluangkan menit-menit dengan menyuguhkan makanan kepadanya sembari bencengkrama dan mengutip perkataan ulama. Daripada harus berusaha mencari ketenangan di puncak gunung tetapi menimbulkan ketidak-tenangan kepada sanak-saudara dan keluarga yang ditinggalkan. Hanya karena doktrin pecinta alam, lantas kita lupa bahwa keluarga dan rumah juga merupakan bagian dari alam. Belajarlah untuk tidak beromong-kosong.

Namun dari sekian banyak pengguna, hal yang paling nonsense ialah para komentator yang selalu mempermasalahkan hal kecil terlebih dalam penggunaan frase. Seakan manusia merupakan sebuah robot dengan qodrat-Nya harus sebegitu apik dalam menyusun kalimat tanpa sebuah kesalahan. Padahal perubahan yang mereka sarankan pun tak lebih dari sekadar membuat mereka lebih memahami secara profesional secara tata bahasa. Mereka juga seringkali memberikan komentar yang menjadi kontra dari artikel yang dibagikan. Sampai pada tingkat merasa benar bila telah melakukan perlawanan opini. Kemudian terjadi debat kusir yang berujung pada saling blokir. Bagaimana mungkin pengguna yang notabennya berumur 15 tahun ke atas justru tak lebih kekanakkan dari usia play stage. Itulah nonsense-nya media sosial saat ini.

Daripada terjebak di pasar yang tak berujung, segeralah berwudhu dan bukalah sebuah buku. Sesekali membuka artikel, maka ada beberapa peraturan tentang membaca sebuah komentar, antara lain:

1. Sebutlah nama Tuhanmu.
2. Pahamilah maksud artikel.
3. Bacalah literasi lain yang bersangkutan dengan artikel. Sebagai pembanding yang dapat dipertanggung-jawabkan.
4. Jangan baca komentar.

image

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s