Epiphanot

Rencana yang hebat adalah rencana yang tidak terlaksana.

Pagi ini saya dibangunkan dengan cara yang cukup berbeda – tertimpa helm di kepala. Dengan sekejap saya menoleh pada jam dinding yang menunjukkan pukul 02.10. Karena mengantuk, sakit akibat pukulan tadi rasanya tidak terlalu mengena, walaupun cukup efektif untuk membuat saya terjaga. Pandangan pun beralih pada helm yang masih bergoyang. Tidak seperti biasanya, helm yang diletakkan pada posisi aman di atas lemari bisa terjatuh. Mungkin tidur saya agresif hingga menggetarkan lemari. Agak lucu juga, saat mengingat fungsi helm yang seharusnya melindungi kepala kini justru kebalikannya. Mungkin ada pesan berharga dibalik ini semua – mungkin juga tidak.

Apabila diingat, ternyata kejadian seperti ini adalah yang kedua kali. Pertama, adalah saat tertidur di mushola saat sekolah dulu. Bisa-bisanya. Padahal kondisinya, tidak jauh dari tempat saya tidur, sedang ada grup diskusi yang cukup besar. Tentu hal yang akhirnya menarik perhatian dan memalukan saat akhirnya saya tertimpa helm. Rupanya sang mentor saat itu sedang berdiskusi tentang cita-cita. Dikiranya saya merupakan peserta diskusi, akhirnya di tengah-tengah tawa para peserta diskusi pun saya ditanya mengenai keinginan saya. Masih dalam kondisi setengah sadar, saya menjawab “cuma pengen makan Nasi Padang”. Jawaban saya justru membuat para peserta semakin terbahak-bahak. “Iya, saya pengen makan Nasi Padang di restoran milik sendiri yang berlokasi di Saudi bersama dengan para ulama dan para kaum dhuafa. Lagipula apalah arti sebuah cita-cita kalo lepas dari tanggung-jawab. Sejauh ini, kebanyakan keinginan seseorang buat jadi orang yang diimpikan kan hanya sebuah keinginan kosong, biar kedengeran keren. Padahal gak sama sekali. Atau mungkin jawaban singkat dari orang yang sempit inspirasi. Ingin menjawab supaya ada jawabannya, jadi akhirnya aman karena punya jawaban. Buktinya, banyak orang yang nyebutin cita-cita hebat tapi gak kesampean. Bukan mau nyindir, kalau mau diplomatis, tadi maunya sih jawab khusnul khotimah” Saya lanjut. Sejenak semuanya terdiam.

Kalau diingat-ngat, ternyata jawaban saya cukup kejam – efek benturan dari helm. Dan malam ini mengingatkan saya kembali pada kejadian itu. Mungkin Tuhan ingin saya mempertimbangkan apabila ditanya hal yang sama soal keinginan atau cita-cita di masa mendatang. Dan saya mengakui satu hal.

Ternyata saya salah. Rencana yang hebat itu bukan rencana yang tidak terlaksana. Tetapi rencana untuk membahagiakan orang lain.

Kalau boleh punya kesempatan untuk menjawab sekali lagi tentang keinginan, jawabannya

Aku ingin kita berdua bahagia bersama.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s