Pro-Grammar

Semakin lama, facebook menjadi media yang semakin nonsense. Dulu ada masanya saat media sosial yang satu ini berlomba menarik simpati dengan status para penggunanya yang penuh dengan bumbu-bumbu menurunkan IQ (tidak mencerdaskan). Bila secara tinjauan kilat, kini mungkin agak terlihat bagus dengan “pencerdasan” berupa artikel yang dibagikan. Padahal isinya jauh dari kaidah dan rukun-rukun artikel. Secara keseluruhan semakin mendekati sebuah pasar, dengan suguhan permainan, iklan, dan para “penjual” yang masing-masing berteriak mempromosikan “dagangannya” masing-masing. Entahlah, pada tahap ini saya sendiri sebagai pengguna bahkan tak dapat membedakan antara mana yang moderat dan kumuh secara penyajian.

Layaknya pasar, unsur preman juga ternyata melekat erat pada kondisi media sosial yang selalu kekinian ini. Sang ahlul komentar yang kerjanya pindah dari status satu ke status lain untuk berucap hal-hal fetish. Tidak habis pikir, bagaimana orang-orang semacam ini menghabiskan waktunya di luar sana. Yang jelas bukan orang yang biasa sibuk di atas sajadah.

Beberapa waktu ini saya sering menyoroti status orang-orang baik termasuk teman sendiri yang ternyata juga tak lepas dari perangkap keomong-kosongan. “Hidup ini adalah kebahagiaan …” dan bla bla… . Percayalah, bahwa tanpa mengatakan hal semacam tadi pun, bumi ini tetap berotasi, dan manusia tetap akan melupakan. Mungkin bisa dicoba, dari seratus kata-kata sang motivator ternama, berapa banyak yang diingat? Dari sekian banyak yang diingat, berapa banyak yang terlaksana? Dari sekian yang terlaksana, masihkah tetap konsisten?

Baca lebih lanjut

Iklan

Tiga Jengkal

image

Peppermint Cookie with Paper Boat

Pengetahuan punya tiga kedalaman yang terdiri dari tiga jengkal.

Orang yang hanya sampai pada jengkal pertama, ia hanya akan menjadi orang sombong.

Orang yang hanya sampai pada jengkal kedua, ia akan memiliki kerendahan hati.

Dan orang yang sampai pada jengkal ketiga, ia akan sadar bahwa ia tidak berpengetahuan.

Kerena ia telah mengetahui bahwa pengetahuan ialah samudra yang begitu dalam, sedangkan tiga jengkal yang ia tempuh bukanlah apa-apa.

-Ibnu Tarmudi-

Epiphanot

Rencana yang hebat adalah rencana yang tidak terlaksana.

Pagi ini saya dibangunkan dengan cara yang cukup berbeda – tertimpa helm di kepala. Dengan sekejap saya menoleh pada jam dinding yang menunjukkan pukul 02.10. Karena mengantuk, sakit akibat pukulan tadi rasanya tidak terlalu mengena, walaupun cukup efektif untuk membuat saya terjaga. Pandangan pun beralih pada helm yang masih bergoyang. Tidak seperti biasanya, helm yang diletakkan pada posisi aman di atas lemari bisa terjatuh. Mungkin tidur saya agresif hingga menggetarkan lemari. Agak lucu juga, saat mengingat fungsi helm yang seharusnya melindungi kepala kini justru kebalikannya. Mungkin ada pesan berharga dibalik ini semua – mungkin juga tidak.

Apabila diingat, ternyata kejadian seperti ini adalah yang kedua kali. Pertama, adalah saat tertidur di mushola saat sekolah dulu. Bisa-bisanya. Padahal kondisinya, tidak jauh dari tempat saya tidur, sedang ada grup diskusi yang cukup besar. Tentu hal yang akhirnya menarik perhatian dan memalukan saat akhirnya saya tertimpa helm. Rupanya sang mentor saat itu sedang berdiskusi tentang cita-cita. Dikiranya saya merupakan peserta diskusi, akhirnya di tengah-tengah tawa para peserta diskusi pun saya ditanya mengenai keinginan saya. Masih dalam kondisi setengah sadar, saya menjawab “cuma pengen makan Nasi Padang”. Jawaban saya justru membuat para peserta semakin terbahak-bahak. “Iya, saya pengen makan Nasi Padang di restoran milik sendiri yang berlokasi di Saudi bersama dengan para ulama dan para kaum dhuafa. Lagipula apalah arti sebuah cita-cita kalo lepas dari tanggung-jawab. Sejauh ini, kebanyakan keinginan seseorang buat jadi orang yang diimpikan kan hanya sebuah keinginan kosong, biar kedengeran keren. Padahal gak sama sekali. Atau mungkin jawaban singkat dari orang yang sempit inspirasi. Ingin menjawab supaya ada jawabannya, jadi akhirnya aman karena punya jawaban. Buktinya, banyak orang yang nyebutin cita-cita hebat tapi gak kesampean. Bukan mau nyindir, kalau mau diplomatis, tadi maunya sih jawab khusnul khotimah” Saya lanjut. Sejenak semuanya terdiam.

Kalau diingat-ngat, ternyata jawaban saya cukup kejam – efek benturan dari helm. Dan malam ini mengingatkan saya kembali pada kejadian itu. Mungkin Tuhan ingin saya mempertimbangkan apabila ditanya hal yang sama soal keinginan atau cita-cita di masa mendatang. Dan saya mengakui satu hal.

Ternyata saya salah. Rencana yang hebat itu bukan rencana yang tidak terlaksana. Tetapi rencana untuk membahagiakan orang lain.

Kalau boleh punya kesempatan untuk menjawab sekali lagi tentang keinginan, jawabannya

Aku ingin kita berdua bahagia bersama.