Kompulsif

Maggie Taylor - Garden

Maggie Taylor – Garden

Sampai dengan saat ini, Tuhan masih merahasiakan perihal masa depan setiap orang. Karena boleh jadi, bilamana seseorang dapat melihat masa depannya, ia tidak akan mendapatkan ketenangan dalam hidup.

-Ibnu Tarmudi-


Jodoh – sebuah kata sederhana yang dapat membuat seseorang menjadi kerdil dalam berpikir akan kehidupan. Jika ungkapan bahwa jodoh merupakan belahan jiwa, bukankah masih ada belahan jiwa lain yang diamanahkan pada kita, yaitu jiwa kita sendiri?

Gara-gara banyak disajikan mengenai artikel tentang pertemuan dengan jodoh, orang-orang lupa bahwa pertemuan dengan setiap orang dalam kehidupan kita sebenarnya telah diperhitungkan.

Dengan kalkulasi perumusan kehidupan yang tidak bisa kita pahami secara utuh, pada akhirnya hidup kita pun mengarah kepada hal-hal baru. Bertemu dengan lingkungan, rutinitas, dan sistem baru. Bahkan pendidikan yang kita tempuh, pekerjaan yang hari ini kita jalani, dan orang-orang yang kita temui, semua sangat tertata sangat rapih. Dan kita tidak perlu banyak menghitung-hitung akan soal ini – ini bukan tingkat kita. Cukup sadari, syukuri, dan jalani. Seperti umpamanya kita tidak perlu bertanya “bagaimana cara membuat laptop yang bagus?” Tinggal pakai dan gunakan sebaik mungkin.  Dan bersyukur kepada Tuhan karena menciptakan orang-orang yang mampu membuat laptop, serta orang-orang yang mau memberikan kredit laptop. Hehe..

Hmm.. mengajari orang-orang untuk mendapatkan jodohnya bagi saya sama halnya seperti mengajari orang normal untuk dapat bernafas. Gak guna! Karena semua itu merupakan hal yang otomatis. Daripada mengajari orang-orang untuk mendapatkan jodoh, lebih baik bila mengajarkan kepada orang-orang untuk menggunakan ratio dan perasaannya dalam mengambil sebuah tindakan, bukan sekadar semau selera. Mungkin mirip seperti halnya orang-orang di hari ini lebih butuh arahan akan bagaimana cara memilih “buku” yang bagus daripada sekadar bagaimana cara menemukan “buku”. Karena “buku” tuh ada dimana-mana. Dan seseorang yang mampu menemukan buku bagus, berarti cara berpikirnya juga sudah bagus.

Ingat bahwa kegalauan hidup ini panjang urusannya. Masih ada urusan segala regulasi dan ekonomi. Tidak perlu jauh-jauh urusan bangsa dan negara. Perihal “hukum relativitas” membahagiakan orangtua saja sepertinya sudah cukup menjadi pembahasan tak bertepi.

Bijaksanalah soal urusan cinta. Bacalah buku-buku petuah orang-orang terdahulu tentang jodoh. Karena yang pernah galau soal cinta bukan hanya orang-orang di hari ini saja. Selain itu hari ini nasihat-nasihat juga sudah cukup banyak. Misalnya untaian kata dari Mario Teguh. Tetapi perlu diingat juga bahwa hidup ini bukan hanya urusan cinta. Jadi mendengar petuah Mario Teguh saja tidak cukup. Masih perlu Mario Tegar, Mario Tabah, dan Mario-Mario lain.

Belakangan dan mungkin seterusnya media sosial tampak semakin tidak berbobot bilamana membicarakan mengenai jodoh. Entah berupa keluhan, curahan hati, atau hanya sebatas sensasi – cari perhatian untuk mendapat simpati. Apalagi sok-sok menggurui untuk bagaimana cara mencari dan mendapatkan jodoh dengan dibumbui frase menurut agama – padahal agama bukan aturan yang “dibonsai” hanya untuk hal-hal seperti ini. Lagipula, konsepnya (menurut agama) itu salah kaprah. Karena setiap orang pada dasarnya bukan mencari, tetapi memantaskan, dipertemukan, kemudian memantapkan.


Mungkin jodoh sebenarnya amatlah dekat. Namun Allah tidak menjadikan mereka peka satu sama lain sampai waktunya tiba.

-Ibnu Tarmudi-

Iklan