Pasivis

179745_558524004215578_1917663233_n

Di suatu siang menjelang Dzuhur, kami yang kelelahan setelah usai membersihkan lantai kampus yang kotor akibat banjir yang melanda semalam, akhirnya duduk memandangi lantai bersih ini dengan sedikit kepuasan. Dari orang yang ada di sebelah saya saat itu terdengar celotehan “beginilah seharusnya mahasiswa.” Saya pun menoleh kepada wajah yang mengatakan itu. Ternyata ia merupakan seorang ketua lembaga yang cukup dikenal dikalangan para aktivis kampus.

“Oy, Ris. Sini, gabung lah!” Sapa dirinya yang melihat saya cenderung memisahkan diri. Sebagai respon baik, saya pun bangkit dan bergabung. Ternyata ia pun melanjutkan pembicarannya yang tadi sempat terhenti. “Mahasiswa tuh jangan cuma di kelas doang kerjanya, kupu-kupu — kuliah-pulang kuliah-pulang. Almamater kita juga mengandung pajak dari rakyat, makanya jelas kalau kita harus membela rakyat. Karena disana juga ada hak untuk rakyat. Kita tuh harus jadi aktivis. Jangan mau jadi pasivis, ”

Jangan mau jadi pasivis. Jangan mau jadi pasivis. Jangan mau jadi pasivis.

Kata-kata itu meng-echo di kepala. Seperti sebuah dzikir.

Ada “lagu” yang sering saya dengar di bangku kuliah. Walau didendangkan oleh orang yang berbeda, ada kesamaan pada setiap “lagunya” seperti pada lirik: aktivis, aksi, jalanan, almamater, organisasi, rapat, revolusi, pemuda, dan masih banyak lagi. Mungkin bagi para penikmat “nyanyian” yang satu ini, mereka bangga bila bersenandung lagu ini. Sedangkan lama-kelamaan saya justru takut. Karena orang yang senantiasa bersenandung dengan lagu yang sama terus-menerus biasanya adalah orang-orang fanatik yang tidak menyukai hal yang bertentangan dengan mereka. Awalnya mereka hanya menganggap bahwa hal tersebut adalah perbedaan selera. Lama kelamaan, ini malah jadi gerakan saling “mengkafirkan”.

Apa yang saya takutkan terjadi. Di tahun kedua kuliah, ada sebuah sekat yang tak terlihat. Mereka menyebutnya “aroma almamater”. Ada yang menyebut almamater mereka wangi, itulah mahasiswa yang sering ikut seminar dan dialog. Adapula yang bercucuran keringat dan debu, itulah mereka yang mengikuti aksi. Ada lagi yang mengklaim bahwa almamater mereka kotor oleh tanah, itulah mereka yang mengaku telah mengabdi di masyarakat. Dan adapula yang mengatakan bahwa almamater mereka penuh coretan tinta dan pensil warna, itulah mereka yang menjadi relawan pengajar. Namun yang saya takutkan bukanlah mengenai “aroma” mereka yang bercampur-aduk. Aroma mereka mungkin tidak tercium, tapi sikap mengharumkan diri mereka sendiri itulah yang kadang justru membuat suasana menjadi “beraroma tidak sedap” dan menyebabkan hawa permusuhan tersebar di seluruh penjuru kampus.

Dari semua mahasiswa yang menyatakan dirinyalah yang nantinya paling “harum”,
ada segolongan yang mungkin dianggap paling “bau” — padahal bau atau tidak adalah urusan mandi. Mereka itulah para pasivis. Dan saya sering mendengar mereka dicaci-maki sebagai mahasiswa yang tidak berdaya guna. Namun sampai sekarang tidak pernah seuntai katapun terucap dari mereka tentang kalimat-kalimat buruk kepada para aktivis. Bahkan saat para aktivis sedang berusaha dengan organisasinya, pasivis mengerjakan tugas yang seharusnya dikerjakan para aktivis. Saat para aktivis hendak “izin” dari kelas, para pasivis rela duduk menutupi aib temannya yang sedang pergi dengan memberikan absen agar namanya tetap baik dihadapan dosen. Saat aktivis kehilangan harapan pada tugas-tugas kuliahnya, para pasivis senantiasa memberikan bantuan bahkan dapat diandalkan.

Negeri ini memang butuh pejuang yang senantiasa berusaha melawan kezaliman dan kelaliman. Namun ternyata kita sering salah paham. Perihal aktivis-pasivis sering disamakan dengan perihal baik dan buruk. Semua aktivis dianggap benar, sedangkan semua pasivis dianggap salah. Padahal kita hanya perlu membuka mata lebih lebar. Bahwa kejahatan terbesar di negeri ini dilakukan oleh orang-orang yang dulunya aktivis. Bahkan dulu merekalah yang memegang posisi sebagai petinggi dari para aktivis kampus.

Mungkin kita perlu penyadaran. Tidak semua orang yang memikirkan orang lain itu baik. Pada dasarnya semua orang memikirkan orang lain. Namun ada tiga hal yang membedakan. Pertama, orang yang berpikir bagaimana bermanfaat bagi orang lain. Kedua, orang yang berpikir bagaimana terlihat hebat dihadapan orang lain. Dan yang terakhir, orang yang berpikir bagaimana memanfaatkan orang lain untuk kepentingannya sendiri.

Tidak masalah aktif atau pasif. Selama kita masih memegang ideologi kebenaran, kita berjalan pada tujuan yang sama. Omong-kosong para petinggi organisasi yang berkata bahwa menjadi pasivis merupakan kesalahan. Karena sangat banyak orang-orang besar dulunya adalah pasivis yang terbaik. Mungkin saya tidak punya contoh lain. Siapa sangka, pemuda pasivis yang dulunya hanya pengembala domba dan pedagang biasa ternyata nantinya disebut sebagai aktivis sejati dan orang paling berpengaruh di alam semesta. Dialah Rasulullah S.A.W.

Segera ubahlah pandangan kita yang menilai baik-buruknya seseorang hanya melihat dari aktif atau pasifnya mereka saat di kampus. Dunia ini tentang berpihak ke yang baik atau yang buruk. Akan menjadi hal yang lucu saat Hari Anti Korupsi, para aktivis menggelar aksi tetapi justru titip absen dengan teman sekelasnya. Di satu sisi, mereka menolak korupsi. Di sisi lain, mereka menjalankan praktek korupsi. Tidak heran banyak koruptor yang dulunya juga aktivis.

Tiada yang salah antara aktivis-pasivis. Yang salah adalah mereka yang memonopoli kebenaran dan lupa akan Tuhan.

By the way, posisi saya adalah ketua organisasi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s