Sand of Life

pantai sawarna

Pagi di Pantai Sawarna. Matahari yang biasa. Di atas ayunan, ku duduk masih menggenggam tasbih yang sama. Menghadap laut Selatan yang penuh dengan “katanya”. Bagiku tiada alam yang istimewa, semua yang ku ingat hanya Dia. Sang Pencipta. Durhaka rasanya bila hanya menikmati ciptaannya saja tanpa ingat Yang Menguasainya.

Bosan di ayunan, mataku tertuju pada pepasir. Beberapa langkah berjalan, tiba-tiba kepala memberat — jadi ku sujud saja — sembari mengingat bahwa aku hanya hamba — bisa mati kapan saja, makanya aku “baca-baca”. Setelah lama, mata yang terpejam tiba-tiba terbuka. Ada beberapa semut di sana. Satu diantara mereka yang tak bergerak, diangkat oleh temannya. Di situlah aku malu! Melihat mereka menolong kawannya, manusia pun mungkin tak akan sebegitu pedulinya. Lagipula kita memang harus banyak belajar dari mereka. Tapi lucunya, serangga mana yang belajar dari manusia? Tidak ada. Bilamana ada, adakan studi banding.

Lelah bersujud, kemudian terduduklah — di atas pasir putih, sembari ditiup angin. Dan tetiba tangan kiri mencoba menggenggam pasir. Semakin digenggam, semakin habis di tangan. Mungkin benar. Ada beberapa hal di dunia ini yang semakin kita coba tuk pertahan justru lama kelamaan semakin hilang. Pasir misalnya. Atau contoh lain, cinta misalnya. Lalu bagaimana? Ya lepaskanlah! Kemudian beristirahat, tidur, lalu pejamkan mata — rasakan segala yang menyentuh kulit dan jiwa. Dan biarkan diri ini lama-kelamaan terkubur oleh pasir. Laksana beberapa cinta memang perlu dilepas, agar kita dapat menemukan cinta yang lebih besar dan menyatu dengannya.

Dua detik tidur terpejam, kemudian mata pun terbuka. Kini langit yang dilihat. Tapi perhatianku tertuju kepada burung yang terbang melawan angin. Aku kasihan kepadanya. Bersusah payah mengepakkan sayap dengan cepat, tapi tak beranjak dari posisi. Akhirnya ia pun mengubah arah. Terbangnya kini lebih bebas. Lalu ku berkata “dia benar”. Sebagaimana kebenarannya merupakan pelajaran bahwa dalam memilih arah kehidupan, ada kalanya usaha yang kita lakukan sia-sia. Boleh jadi karena kita telah melawan arus yang salah. Sehingga disibukkan oleh perdebatan yang membuat kita tak beranjak dari manapun — sia-sia. Sungguh, yang hanya perlu kita lakukan adalah berbelok, mencari jalan lain, dan menggapai kebebasan. Sembari mengambil pelajaran dan menemukan jalan kebenaran.

Terik matahari membuatku tak mampu berlama-lama menatap langit. Jadi, ku bangkit duduk saja — sembari membersihkan pasir-pasir yang menempel. Sial, terlalu banyak pasir! Akhirnya aku berdiri dan mengibaskan pakaian agar terbebas dari pasir. Saatku perhatikan, ternyata kakiku pun banyak pasirnya. Ku bersihkan kakiku dari pasir yang menempel. Namun saat aku melangkah, pasir lain menempel lagi di kakiku. Aku bersihkan lagi, dan saat aku melangkahkan kaki lagi, pasir lain justru menempel lagi. Di sini aku tersenyum. Aku sadar, bahwa kehidupan bagaikan berjalan menyusuri hamparan pasir. Sedangkan pasir adalah dosa-dosa kecil — sulit kita hindari. Bahkan tiadalah orang yang dapat terbebas daripadanya. Namun pada akhirnya, pasir-pasir tersebut memang harus dibersihkan. Karena untuk masuk ke tempat baik (surga), kita tidak mungkin masuk dalam keadaan kotor. Namun perlu diingat, orang bersih bukan orang yang tak pernah menempel kotoran padanya. Tapi orang bersih adalah orang yang saat ada kotoran menempel padanya, ia akan langsung membersihkannya.

Sembari berjalan, beberapa pasir masih menempel pada telapak tangan. Ternyata setelah kuamati, setiap butir pasir punya ciri yang berbeda. Dan ada satu yang berwarna agak berbeda. “Mungkin yang ini kamu,” bisikku dalam hati sembari melihat sebutir pasir berwarna merah berkilap.

Ku sadar akan sebuah hal. Milyaran pasir yang ada di sini tidak akan ada yang sama. Iya, seperti halnya manusia saja — dengan segala perbedaannya. Dan dari semua pasir itu, yang menempel di tubuhku hanya seberapa. Mungkin itulah orang-orang yang ku lihat. Dan dari seberapa yang menempel, hanya beberapa yang bertahan. Mungkin itulah orang-orang yang kukenal. Dan dari beberapa yang bertahan, hanya beberapa yang ku perhatikan, mungkin itu keluarga, sahabat, dan orang-orang istimewa dalam hidupku. Dan dari beberapa yang ku perhatikan, hanya ada satu menarik. Mungkin itu kamu. Bilamana kekasihku — yang masih dirahasiakan Tuhan sampai sekarang — mengerti akan hal ini, sungguh kamu tak perlu bertanya “Mengapa engkau memilihku? Padahal masih banyak yang lain” suatu hari nanti. Duhai sayang, jawabannya adalah karena Tuhan membimbingku untuk memilihmu.

Saat aku tersenyum. Aku mendengar temanku berkata “Aris mulai ketawa-ketawa sendiri.” Aku yang sadar sedang dibicarakan pun menoleh kepadanya. “Tuh. Lu lagi ngapain, Ris?” tanya temanku. Bilamana mereka mengenalku dengan baik, mereka tahu bahwa aku selalu menghindari penjelasan panjang lebar dengan berkata “Gak ngapa-ngapain. Iseng-iseng aja. Haha”.

Benar-benar dua menit yang kunikmati bersama duniaku sendiri.

-Pantai Sawarna, Banten. 26 April 2015-

-Ibnu Tarmudi-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s