Abstruse

Kau menganggap jumlah uang dan penghasilanmu menunjukkan siapa dirimu?

Kau menganggap usiamu menunjukkan siapa dirimu?

Kau menganggap profesi orang tuamu menunjukkan siapa dirimu?

Kau menganggap riwayat pendidikan dan ranking-mu menunjukkan siapa dirimu?

Kau menganggap barang-barang yang kau miliki menunjukkan siapa dirimu?

Kau menganggap pekerjaan dan jabatanmu menunjukkan siapa dirimu?

Kau menganggap prestasimu menunjukkan siapa dirimu?

Kau menganggap tempat bepergianmu menunjukkan siapa dirimu?

Kau menganggap pakaian yang kau kenakan menunjukkan siapa dirimu?

Kau menganggap siapa kekasihmu dengan siapa kau menikah menunjukkan siapa dirimu?

Kau menganggap organisasi yang kau geluti menunjukkan siapa dirimu?

Kau menganggap kemewahan rumahmu menunjukkan siapa dirimu?

Kau menganggap apa yang tampak padamu — paras, suara, kekuatan otot, atau warna kulitmu menunjukkan siapa dirimu?

Bila kau menjawabnya iya. Kau bahkan tidak mengenali siapa dirimu!

Jadi, aku tak butuh itu semua saat kau berkenalan. Semua hal yang kau anggap dirimu itu akan hilang. Dan lucunya, kau membanggakan itu — memajangnya, menunjukkannya pada orang-orang, bahkan menjadikannya sebagai “sesembahan”. Bahkan sangat tidak tahu malu, bila ku tahu kau mengajak orang-orang untuk “menyembah” apa yang ada pada dirimu, baik walau hanya sebuah pujian sekalipun.

Lantas, siapa dirimu?

Kau hanyalah “cara”. Caramu memilih menunjukkan siapa dirimu.

Tidak peduli berapapun uangmu, caramu menggunakannya itulah yang menujukkan siapa dirimu.

Tidak peduli berapa usiamu, caramu menjalani rutinitasmulah  yang menujukkan siapa dirimu.

Tidak peduli siapa orang tuamu, caramu memperlakukan merekalah  yang menujukkan siapa dirimu.

Tidak peduli apapun riwayat pendidikanmu, caramu mengamalkan ilmu yang kau milikilah  yang menujukkan siapa dirimu

Tidak peduli apapun barang yang kau miliki, caramu menggunakannyalah yang menujukkan siapa dirimu.

Tidak peduli apapun pekerjaanmu, caramu untuk bersosialisasilah  yang menujukkan siapa dirimu.

Tidak peduli apapun prestasi yang kau capai, caramu mendapatkannyalah  yang menujukkan siapa dirimu.

Tidak peduli kemanapun tempat yang pernah kau kunjungi, caramu dalam menempuh perjalanannyalah  yang menujukkan siapa dirimu.

Tidak peduli siapapun kekasihmu, caramu mempersembahkan cintamulah  yang menujukkan siapa dirimu.

Tidak peduli apapun organisasimu, caramu mengabdilah  yang menujukkan siapa dirimu.

Tidak peduli semewah apapun rumahmu. caramu dalam merawatnyalah  yang menujukkan siapa dirimu.

Tidak peduli apa yang tampak pada dirimu, caramu dalam mensyukuri anugrah-Nyalah yang  yang menujukkan siapa dirimu.

Luka

Lupa

Beritahu aku bila kau tahu apa itu luka. Boleh jadi aku tidak tahu arti sebenarnya dari sebuah luka sehingga sebegitu mudahnya aku melukaimu.

Tapi jangan pernah beritahu aku apa itu sakit. Karena sebegitu benarnya sekalipun kamu menjelaskan tentang sakit. Itu hanya berasal dari pengetahuan dan yang kamu rasakan. Bukan yang orang lain rasakan. Bukan pula dari yang ku rasakan.

Memang benar aku percaya bila mencegah lebih mudah daripada mengobati. Tetapi rasanya lebih sulit bila menahan untuk tidak tersakiti. Terlebih lagi, menahan untuk berpura-pura tidak sakit.

Ku tahu bahwa luka itu menyakitkan. Dan ada beberapa luka yang tak bisa hilang dan akan terus terasa sakit. Seseorang yang terluka tetapi tidak sakit adalah orang yang tidak sadar atau mungkin lupa. Lupa bahwa dirinya sedang terluka.

Apakah mustahil bagi kita untuk tidak saling melukai? Bila mustahil, mungkin lebih mudah bila kita bisa untuk saling melupakan.

Jangan beritahu aku apa itu lupa. Kamu hanya cukup mengajariku agar aku tahu bahwa sisi baikmu masih dapat menutupi sisimu yang senantiasa menyakitiku.

Jadi, ajari saja aku lupa. Agar aku bisa tertawa bahagia walau dengan luka yang menganga.

Kisah Nabi Daud dan Dua Orang Pemuda

Dahulu kala pada zaman Nabi Daud A.S., ada dua orang pemuda yang berdebat. Karena itulah akhirnya mereka menghadap kepada nabi Daud A.S., yang juga -sebagaimana kita ketahui bahwa beliau- merupakan seorang raja, untuk meminta jawaban atas pertanyaan mereka itu.

Salah seorang dari mereka berkata: “Yaa Nabi Allah Daud, kami meminta kepada paduka untuk menjawab suatu pertanyaan yang kami perdebatkan”.

“Apakah itu?” Nabi Daud A.S. balik bertanya.

“Seperti apakah akhir dari dunia ini?”

jawab mereka. “Sampai saat ini kami belum menemukan jawabannya.”

Setelah meminta petunjuk kepada Allah, nabi Daud A.S. pun menjawab: “Datanglah besok pagi, akan aku berikan jawabannya.”

Keesokkan paginya, kedua pemuda itu pun dating kembali. Nabi Daud A.S. menyerahkan kepada mereka masing-masing satu buah karung, dan memerintahkan mereka untuk pergi berlawanan arah. Yang satu kesuatu tempat di Timur, yang lainnya ke arah Barat.

Nabi Daud A.S. berpesan: “Apabila kalian telah sampai di tujuan, segeralah berbalik arah untuk kembali, dan masukkan seluruh batu yang kalian temui selama perjalanan.”

Setelah sekain lama kedua pemuda tersebut pergi, akhirnya mereka pun tiba. Nabi Daud A.S. melihat adanya perbedaan pada mereka. Satu pemuda terlihat kepayahan karena memanggul karung yang berisi batu yang banyak. Sedangkan pemuda lainnya tampak santai karena karungnya berisi batu yang sedikit.

Kemudian Nabi Daud A.S. meminta mereka untuk membuka karungnya. Dan alangkah terkejutnya mereka, ternyata isi karung mereka pun telah berubah menjadi emas.

Kemudian Nabi Daud A.S. bertanya kepada mereka: “Bagaimana perasaan kalian?”

“Yaa Nabi Allah Daud, aku sangat menyesal! Karena tadi aku sedikit sekali mengambil batu. Seandainya aku tahu bahwa batu itu akan berubah menjadi emas, tentulah aku akan memenuhi karungku!” jawab pemuda yang karungnya berisi sedikit.

Pemuda yang karungnya penuh menjawab : “Yaa Nabi Allah Daud, aku juga sangat menyesal! Seandainya aku tahu bahwa batu itu akan berubah menjadi emas, tentulah aku akan membawa gerobak dan membawa berkarung-karung batu”.

Akhirnya, Nabi Daud A.S. berkata : “Itulah jawaban pertanyaan kalian. Sesungguhnya akhir dunia adalah penyesalan, yang sedikit beramal baik, akan menyesal kenapa tidak lebih banyak beramal. Yang banyak beramal, akan menyesal kenapa tidak lebih banyak beramal lagi”.

Korelasi antara Bengong dan Kematian Ayam Tetangga

Melamun

Jangan bengong! Nanti ayam tetangga mati!

Sebut saja, mereka yang mengatakan -apalagi sampai berkeyakinan- mitos di atas, telah menganggap malaikat pencabut nyawa adalah kerabat orang-orang yang bengong. Padahal orang bengong lebih dekat dengan setan ketimbang malaikat. Lagipula apa urusannya antara orang yang suka bengong dengan ayam tetangga yang menjemput ajal?

***

Sebenarnya tidak ada definisi dari bengong itu sendiri. Selama ini, bengong diidentikan sebagai sebuah perilaku seseorang saat terlihat sedang berpikir atau berangan-angan sehingga tidak konsentrasi terhadap hal-hal yang ada di sekitar.

***

Kalaupun mau dipaksakan akan adanya korelasi antara bengong dan matinya ayam tetangga, ya boleh jadi alasannya adalah kelalaian. Seperti halnya orang bengong cenderung ceroboh. Seperti dalam kasus saat tetangga menitipkan ayamnya. Kelalaian akibat bengong dapat membuat ayam tetangga mati. Namun dalam hal ini, penyebab kematian ayam bukanlah bengong. Melainkan hal-hal seperti ayam yang kelaparan karena tidak diberi makan akibat lupa karena terlalu banyak bengong atau ayam yang kehabisan oksigen karena tercebur sumur karena si-penjaga sedang bengong. Tetapi akan berbeda dengan kasus bengong yang mengakibatkan pelakunya mengalami gejala disosiatif (baca: kerasukan). Sehingga dalam keadaan tidak sadar, si-pelaku memakan ayam tetangga hidup-hidup. Namun lagi-lagi ini bukan penyebab kematian ayam. Karena penyebab kematian ayam adalah kehabisan darah, bukan urusan pelaku.

Apabila kita senantiasa mengaitkan kematian ayam dengan perilaku tetangga, lebih masuk akal bila “berpikir mengakibatkan ayam tetangga mati.” Karena berpikir membutuhkan banyak energi. Tentu saja ini membuat seseorang mudah lapar. Manakala lauk di rumah habis, ayam tetangga tentu menjadi sasaran.

Jadi berhentilah menghubungkan hal-hal yang tidak ada hubungannya. Apalagi urusan bengong dan tugas dari malaikat maut. Bayangkan bila benar-benar ada orang yang percaya dengan mitos ini. Setiap ada ayam yang mati, pasti akan tersebar fitnah di muka bumi. #halah Benar-benar tidak rasional. Seperti marahnya seseorang kepada semua orang hanya disebabkan perilaku seorang teman yang menyebalkan. Ingatlah,

Jangan sampai hanya karena satu orang berlaku buruk kepada kita justru membuat pikiran kita keruh dan membuat kita gelap mata hingga menganggap bahwa semua orang di dunia ini buruk.

Loh, kok jadi kemana-mana??

Harap maklum, tulisan ini dibuat saat penulis sedang bengong dan berpikir secara bersamaan. Alhamdulillah-nya, ayam tetangga masih hidup sampai sekarang.

Redemption

 redemption

Ada pepatah yang sejak dulu saya kutuk karena (mungkin) menyesatkan.

Penyesalan selalu datang di akhir.

Dikarenakan pepatah inilah akhirnya banyak orang berpikir bahwa penyesalan merupakan tindakan akhir dalam menyelesaikan perkara apapun. Salah satu bentuk penyesalan adalah mengucapkan kata “maaf”. Sehingga sering kita jumpai, ketika seseorang melakukan kesalahan, ia akan berkata “maaf” karena beranggapan dengan berkata “maaf”, masalah pun selesai.

Bila pepatah di atas (saya anggap) salah, maka ada pendapat yang (saya anggap) benar.  Karena saya yakin, bahwa:

 Ada yang datang lebih akhir ketimbang sebuah penyesalan. Inilah yang disebut sebagai penebusan.

Ini diumpamakan seperti pertaubatan, diawali dengan penyesalan berupa istighfar dan mengikrarkan diri untuk tidak mengulangi, dan diakhiri dengan penebusan dengan melakukan tindakan perbaikan serta hal-hal yang lebih baik.

Lagipula, apalah guna sebuah penyesalan yang sesudahnya tiada upaya dalam memperbaiki apa yang telah diperbuat?

Menyesal itu urusan hati, sedangkan orang lain butuh daripada sekadar hati dan perasaan, yaitu tindakan. Ketahuilah bahwa kata “maaf” hanyalah sebuah ekspresi penyesalan, bukan sebuah tameng untuk melarikan diri saat bersalah.

Mengucapkan maaf memang perlu untuk menunjukkan bahwa kita menyesal dan berusaha untuk menahan keegoisan demi menjaga hati mereka yang terkena imbas dari kesalahan kita. Namun ingatlah, setelah penyesalan masih ada penebusan, sebuah upaya terhadap apa-apa yang harus kita perbaiki.

Mungkin penebusan tidak membuat semuanya kembali seperti semula, tetapi (semoga) kita bisa membuatnya lebih baik.

Pasivis

179745_558524004215578_1917663233_n

Di suatu siang menjelang Dzuhur, kami yang kelelahan setelah usai membersihkan lantai kampus yang kotor akibat banjir yang melanda semalam, akhirnya duduk memandangi lantai bersih ini dengan sedikit kepuasan. Dari orang yang ada di sebelah saya saat itu terdengar celotehan “beginilah seharusnya mahasiswa.” Saya pun menoleh kepada wajah yang mengatakan itu. Ternyata ia merupakan seorang ketua lembaga yang cukup dikenal dikalangan para aktivis kampus.

“Oy, Ris. Sini, gabung lah!” Sapa dirinya yang melihat saya cenderung memisahkan diri. Sebagai respon baik, saya pun bangkit dan bergabung. Ternyata ia pun melanjutkan pembicarannya yang tadi sempat terhenti. “Mahasiswa tuh jangan cuma di kelas doang kerjanya, kupu-kupu — kuliah-pulang kuliah-pulang. Almamater kita juga mengandung pajak dari rakyat, makanya jelas kalau kita harus membela rakyat. Karena disana juga ada hak untuk rakyat. Kita tuh harus jadi aktivis. Jangan mau jadi pasivis, ”

Jangan mau jadi pasivis. Jangan mau jadi pasivis. Jangan mau jadi pasivis.

Kata-kata itu meng-echo di kepala. Seperti sebuah dzikir.

Ada “lagu” yang sering saya dengar di bangku kuliah. Walau didendangkan oleh orang yang berbeda, ada kesamaan pada setiap “lagunya” seperti pada lirik: aktivis, aksi, jalanan, almamater, organisasi, rapat, revolusi, pemuda, dan masih banyak lagi. Mungkin bagi para penikmat “nyanyian” yang satu ini, mereka bangga bila bersenandung lagu ini. Sedangkan lama-kelamaan saya justru takut. Karena orang yang senantiasa bersenandung dengan lagu yang sama terus-menerus biasanya adalah orang-orang fanatik yang tidak menyukai hal yang bertentangan dengan mereka. Awalnya mereka hanya menganggap bahwa hal tersebut adalah perbedaan selera. Lama kelamaan, ini malah jadi gerakan saling “mengkafirkan”.

Apa yang saya takutkan terjadi. Di tahun kedua kuliah, ada sebuah sekat yang tak terlihat. Mereka menyebutnya “aroma almamater”. Ada yang menyebut almamater mereka wangi, itulah mahasiswa yang sering ikut seminar dan dialog. Adapula yang bercucuran keringat dan debu, itulah mereka yang mengikuti aksi. Ada lagi yang mengklaim bahwa almamater mereka kotor oleh tanah, itulah mereka yang mengaku telah mengabdi di masyarakat. Dan adapula yang mengatakan bahwa almamater mereka penuh coretan tinta dan pensil warna, itulah mereka yang menjadi relawan pengajar. Namun yang saya takutkan bukanlah mengenai “aroma” mereka yang bercampur-aduk. Aroma mereka mungkin tidak tercium, tapi sikap mengharumkan diri mereka sendiri itulah yang kadang justru membuat suasana menjadi “beraroma tidak sedap” dan menyebabkan hawa permusuhan tersebar di seluruh penjuru kampus.

Dari semua mahasiswa yang menyatakan dirinyalah yang nantinya paling “harum”,
ada segolongan yang mungkin dianggap paling “bau” — padahal bau atau tidak adalah urusan mandi. Mereka itulah para pasivis. Dan saya sering mendengar mereka dicaci-maki sebagai mahasiswa yang tidak berdaya guna. Namun sampai sekarang tidak pernah seuntai katapun terucap dari mereka tentang kalimat-kalimat buruk kepada para aktivis. Bahkan saat para aktivis sedang berusaha dengan organisasinya, pasivis mengerjakan tugas yang seharusnya dikerjakan para aktivis. Saat para aktivis hendak “izin” dari kelas, para pasivis rela duduk menutupi aib temannya yang sedang pergi dengan memberikan absen agar namanya tetap baik dihadapan dosen. Saat aktivis kehilangan harapan pada tugas-tugas kuliahnya, para pasivis senantiasa memberikan bantuan bahkan dapat diandalkan.

Negeri ini memang butuh pejuang yang senantiasa berusaha melawan kezaliman dan kelaliman. Namun ternyata kita sering salah paham. Perihal aktivis-pasivis sering disamakan dengan perihal baik dan buruk. Semua aktivis dianggap benar, sedangkan semua pasivis dianggap salah. Padahal kita hanya perlu membuka mata lebih lebar. Bahwa kejahatan terbesar di negeri ini dilakukan oleh orang-orang yang dulunya aktivis. Bahkan dulu merekalah yang memegang posisi sebagai petinggi dari para aktivis kampus.

Mungkin kita perlu penyadaran. Tidak semua orang yang memikirkan orang lain itu baik. Pada dasarnya semua orang memikirkan orang lain. Namun ada tiga hal yang membedakan. Pertama, orang yang berpikir bagaimana bermanfaat bagi orang lain. Kedua, orang yang berpikir bagaimana terlihat hebat dihadapan orang lain. Dan yang terakhir, orang yang berpikir bagaimana memanfaatkan orang lain untuk kepentingannya sendiri.

Tidak masalah aktif atau pasif. Selama kita masih memegang ideologi kebenaran, kita berjalan pada tujuan yang sama. Omong-kosong para petinggi organisasi yang berkata bahwa menjadi pasivis merupakan kesalahan. Karena sangat banyak orang-orang besar dulunya adalah pasivis yang terbaik. Mungkin saya tidak punya contoh lain. Siapa sangka, pemuda pasivis yang dulunya hanya pengembala domba dan pedagang biasa ternyata nantinya disebut sebagai aktivis sejati dan orang paling berpengaruh di alam semesta. Dialah Rasulullah S.A.W.

Segera ubahlah pandangan kita yang menilai baik-buruknya seseorang hanya melihat dari aktif atau pasifnya mereka saat di kampus. Dunia ini tentang berpihak ke yang baik atau yang buruk. Akan menjadi hal yang lucu saat Hari Anti Korupsi, para aktivis menggelar aksi tetapi justru titip absen dengan teman sekelasnya. Di satu sisi, mereka menolak korupsi. Di sisi lain, mereka menjalankan praktek korupsi. Tidak heran banyak koruptor yang dulunya juga aktivis.

Tiada yang salah antara aktivis-pasivis. Yang salah adalah mereka yang memonopoli kebenaran dan lupa akan Tuhan.

By the way, posisi saya adalah ketua organisasi.

Chance and Change

Kita sering lupa akan adanya kesempatan sebagaimana:

Sesuatu yang habis pun bisa terisi

Sesuatu yang rusak pun bisa diperbaiki

Sesuatu yang putus pun bisa disambung kembali

Sesuatu yang menyakitkan pun bisa terobati

Sesuatu yang hilang pun suatu saat akan muncul kembali

Bahkan sesuatu yang lenyap pun akan berganti

Semua itu menunjukkan

Bahwa kesempatan memang selalu ada

***

Tentang sebuah kesempatan, perlu diketahui bersama bahwa — selama masih ada di dunia — kesempatan akan selalu ada. Dan yang selama ini berbicara “kesempatan hanya datang sekali”, yang mereka maksud adalah kesempatan untuk mencapai hal dengan cara yang sama demi mendapat hasil yang sama.

Sebagaimana change dan chance ditulis dengan banyak kesamaan, kesempatan memiliki makna yang “harmoni” dengan perubahan. Kesempatan ada untuk perubahan — kesempatan menghasilkan perubahan. Manakala tiada kesempatan, selalu ada harapan. Manakala harapan telah hilang, itulah penyesalan.

***

Lantas mengapa kita bisa lupa?

Mungkin karena kita terlalu fokus berharap dan berputus asa jawabnya

Karena sesuatu yang senantiasa diingat pun bisa dilupakan pula

-Ibnu Tarmudi-

 

 

 

Error

Beberapa kalimat yang saya ucapkan tampak salah. Kemudian penafsiran orang pun pada akhirnya ikut salah. Berujung pada perdebatan yang saling menyalahkan. Benar-benar serba salah.

Suatu hari saya bertemu orang yang selalu menyalahkan saya. Maka perkelahian pun terjadi. Bukan antara saya dan dia, tapi antara saya dengan pikiran saya sendiri. Pikiran untuk memutuskan bahwa sebenarnya dia, saya, keduanya, atau tiada yang salah. Dan saya cenderung memilih tiada yang salah antara kami berdua. Ini hanya perihal dua orang benar yang bertemu di saat waktu, tempat, atau suasananya kurang tepat. Sebagaimana saya teringat bahwa saya hanya seorang manusia, jawaban yang saya lontarkan pada akhirnya hanya sebatas kata “Iya, maaf. Saya salah.”

Jadi, siapa yang salah antara dia yang merasa benar dan yang merasa bersalah? Jawabannya, bukan antara si- benar dan si-salah. Ini tentang waktu. Ada banyak hal benar oleh orang benar yang tidak perlu disampaikan di waktu yang salah. Dan ada banyak kesalahan-kesalahan dari orang salah yang perlu diutarakan di waktu yang benar.

Sungguh mulia, orang-orang yang mengingat ruang-waktu sebelum mengutarakan benar-salah. Karena setiap orang benar pun punya masa lalu. Dan orang salah pun punya masa depan. Setiap orang dapat menjadi benar manakala seiring waktu berjalan, hidupnya berubah ke arah yang benar.

Saling menghargai. Itulah yang benar.

Namun ada dua tipe manusia yang saya anggap salah di dunia ini. Yang pertama adalah mereka yang selalu merasa bersalah. Dan yang lainnya adalah mereka yang selalu merasa tidak pernah salah. Karena orang pertama merasa seakan tidak ada Tuhan. Sedangkan orang kedua merasa seakan dirinya Tuhan.

Cukup Tahu

Tidak Tahu

Di dunia ini, ada dua jenis ketidaktahuan.

Ketidaktahuan yang pertama, adalah ketidaktahuan yang akan menyelamatkan. Ketidaktahuan ini dimiliki orang-orang yang butuh pengetahuan. Dalam ketidaktahuannya, mereka mengetahui apa yang tidak mereka ketahui. Dari kesadaran akan ketidaktahuannya itulah mereka akhirnya memahami bahwa pengetahuan mereka terbatas. Dan tidak sebatas mengetahui apa yang tidak mereka ketahui saja, mereka juga mencari tahu apa yang belum mereka ketahui. Pada akhirnya, merekalah orang-orang yang bertambah pengetahuannya dan terlepas dari ketidaktahuan. Maka ketahuilah, bahwa ketidaktahuan seperti ini yang dimaafkan.

Sedangkan ketidaktahuan yang kedua, adalah ketidaktahuan yang akan mencelakakan. Ketidaktahuan ini dimiliki oleh orang-orang yang selalu merasa bahwa diri mereka telah mengetahui. Dan dari rasa telah mengetahuinya itulah akhirnya mereka mengingkari pengetahuan yang sebenarnya tidak mereka ketahui. Sehingga sebanyak apapun pemberitahuan dan pengetahuan yang disampaikan, mereka akan terus menolaknya — seakan lebih tahu — padahal hakikatnya mereka tidak mengetahui apa yang tidak mereka ketahui. Pada akhirnya, merekalah orang-orang yang tidak bertambah pengetahuannya dan akan terus terjebak dalam ketidaktahuan. Maka ketahuilah, bahwa ketidaktahuan seperti ini tidaklah dimaafkan.

-Ibnu Tarmudi-

Sand of Life

pantai sawarna

Pagi di Pantai Sawarna. Matahari yang biasa. Di atas ayunan, ku duduk masih menggenggam tasbih yang sama. Menghadap laut Selatan yang penuh dengan “katanya”. Bagiku tiada alam yang istimewa, semua yang ku ingat hanya Dia. Sang Pencipta. Durhaka rasanya bila hanya menikmati ciptaannya saja tanpa ingat Yang Menguasainya.

Bosan di ayunan, mataku tertuju pada pepasir. Beberapa langkah berjalan, tiba-tiba kepala memberat — jadi ku sujud saja — sembari mengingat bahwa aku hanya hamba — bisa mati kapan saja, makanya aku “baca-baca”. Setelah lama, mata yang terpejam tiba-tiba terbuka. Ada beberapa semut di sana. Satu diantara mereka yang tak bergerak, diangkat oleh temannya. Di situlah aku malu! Melihat mereka menolong kawannya, manusia pun mungkin tak akan sebegitu pedulinya. Lagipula kita memang harus banyak belajar dari mereka. Tapi lucunya, serangga mana yang belajar dari manusia? Tidak ada. Bilamana ada, adakan studi banding.

Lelah bersujud, kemudian terduduklah — di atas pasir putih, sembari ditiup angin. Dan tetiba tangan kiri mencoba menggenggam pasir. Semakin digenggam, semakin habis di tangan. Mungkin benar. Ada beberapa hal di dunia ini yang semakin kita coba tuk pertahan justru lama kelamaan semakin hilang. Pasir misalnya. Atau contoh lain, cinta misalnya. Lalu bagaimana? Ya lepaskanlah! Kemudian beristirahat, tidur, lalu pejamkan mata — rasakan segala yang menyentuh kulit dan jiwa. Dan biarkan diri ini lama-kelamaan terkubur oleh pasir. Laksana beberapa cinta memang perlu dilepas, agar kita dapat menemukan cinta yang lebih besar dan menyatu dengannya.

Dua detik tidur terpejam, kemudian mata pun terbuka. Kini langit yang dilihat. Tapi perhatianku tertuju kepada burung yang terbang melawan angin. Aku kasihan kepadanya. Bersusah payah mengepakkan sayap dengan cepat, tapi tak beranjak dari posisi. Akhirnya ia pun mengubah arah. Terbangnya kini lebih bebas. Lalu ku berkata “dia benar”. Sebagaimana kebenarannya merupakan pelajaran bahwa dalam memilih arah kehidupan, ada kalanya usaha yang kita lakukan sia-sia. Boleh jadi karena kita telah melawan arus yang salah. Sehingga disibukkan oleh perdebatan yang membuat kita tak beranjak dari manapun — sia-sia. Sungguh, yang hanya perlu kita lakukan adalah berbelok, mencari jalan lain, dan menggapai kebebasan. Sembari mengambil pelajaran dan menemukan jalan kebenaran.

Terik matahari membuatku tak mampu berlama-lama menatap langit. Jadi, ku bangkit duduk saja — sembari membersihkan pasir-pasir yang menempel. Sial, terlalu banyak pasir! Akhirnya aku berdiri dan mengibaskan pakaian agar terbebas dari pasir. Saatku perhatikan, ternyata kakiku pun banyak pasirnya. Ku bersihkan kakiku dari pasir yang menempel. Namun saat aku melangkah, pasir lain menempel lagi di kakiku. Aku bersihkan lagi, dan saat aku melangkahkan kaki lagi, pasir lain justru menempel lagi. Di sini aku tersenyum. Aku sadar, bahwa kehidupan bagaikan berjalan menyusuri hamparan pasir. Sedangkan pasir adalah dosa-dosa kecil — sulit kita hindari. Bahkan tiadalah orang yang dapat terbebas daripadanya. Namun pada akhirnya, pasir-pasir tersebut memang harus dibersihkan. Karena untuk masuk ke tempat baik (surga), kita tidak mungkin masuk dalam keadaan kotor. Namun perlu diingat, orang bersih bukan orang yang tak pernah menempel kotoran padanya. Tapi orang bersih adalah orang yang saat ada kotoran menempel padanya, ia akan langsung membersihkannya.

Sembari berjalan, beberapa pasir masih menempel pada telapak tangan. Ternyata setelah kuamati, setiap butir pasir punya ciri yang berbeda. Dan ada satu yang berwarna agak berbeda. “Mungkin yang ini kamu,” bisikku dalam hati sembari melihat sebutir pasir berwarna merah berkilap.

Ku sadar akan sebuah hal. Milyaran pasir yang ada di sini tidak akan ada yang sama. Iya, seperti halnya manusia saja — dengan segala perbedaannya. Dan dari semua pasir itu, yang menempel di tubuhku hanya seberapa. Mungkin itulah orang-orang yang ku lihat. Dan dari seberapa yang menempel, hanya beberapa yang bertahan. Mungkin itulah orang-orang yang kukenal. Dan dari beberapa yang bertahan, hanya beberapa yang ku perhatikan, mungkin itu keluarga, sahabat, dan orang-orang istimewa dalam hidupku. Dan dari beberapa yang ku perhatikan, hanya ada satu menarik. Mungkin itu kamu. Bilamana kekasihku — yang masih dirahasiakan Tuhan sampai sekarang — mengerti akan hal ini, sungguh kamu tak perlu bertanya “Mengapa engkau memilihku? Padahal masih banyak yang lain” suatu hari nanti. Duhai sayang, jawabannya adalah karena Tuhan membimbingku untuk memilihmu.

Saat aku tersenyum. Aku mendengar temanku berkata “Aris mulai ketawa-ketawa sendiri.” Aku yang sadar sedang dibicarakan pun menoleh kepadanya. “Tuh. Lu lagi ngapain, Ris?” tanya temanku. Bilamana mereka mengenalku dengan baik, mereka tahu bahwa aku selalu menghindari penjelasan panjang lebar dengan berkata “Gak ngapa-ngapain. Iseng-iseng aja. Haha”.

Benar-benar dua menit yang kunikmati bersama duniaku sendiri.

-Pantai Sawarna, Banten. 26 April 2015-

-Ibnu Tarmudi-