Namanya Juga Pemilu

“Bagaimana pandangan Anda mengenai pemilu, Ris?”

Siapapun kandidatnya, siapapun presidennya yang nantinya terpilih, sesungguhnya kitalah yang menang.

Sesungguhnya rakyatlah yang menang. Saat tim sukses pusing untuk mencari perhatian rakyat dan di satu sisi capres pusing atas tugasnya, sadarilah rakyat masih memiliki kebebasan beraktifitas dan beribadah sebagaimana biasanya.

Pemilu bukan hanya sekadar amanah dari negara, tetapi juga merupakan kesempatan kita sebagai perwujudan ikhtiar untuk menyelamatkan negara kita dari tangan-tangan yang ingin membawa negara kita pada jurang kehancuran.

Betapa indahnya menjadi rakyat Indonesia. Siapapun dan dari golongan manapun mereka, semua memiliki hak yang sama dalam memilih pemimpinnya.

“Tetapi kali ini calon pemimpinnya tidak ada yang sesuai harapan. Lantas bagaimana?”

Amanah tetaplah amanah, ya harus tetap dijalani. Tiada manusia yang sempurna. Tetapi kesempurnaan itu ada bagi mereka yang senantiasa berusaha membenahi diri mereka dari waktu ke waktu sejauh dari kemampuan yang mereka miliki. Serta menjalani penyesalan yang dibenarkan bilamana ia berbuat kesalahan.

Bila semua calonnya baik, pilihlah yang paling baik. Bila ada yang baik dan yang buruk, pilihlah yang baik. Dan bilamana semuanya buruk, maka pilihlah yang paling sedikit keburukannya.

Kita memilih sebagaimana harapan. Dan sang Pengabul Harapan ya hanya Allah Swt, bukan manusia. Jadi tidak perlu mengkultuskan calon bilamana calon tampak baik. Dan juga jangan terlalu mencap buruk hanya karena telah tampak keburukannya. Kita ‘bukan orang suci’.

“Bukankah sistem pemilihan ini asalnya dari Barat? Kalau kita ikuti dan jalani, dosa.”

Itulah enaknya jadi rakyat. Rakyat itu dipimpin dengan sistem yang diatur oleh pemimpin. Taatilah pemimpinmu. Yang menanggung dosanya InsyaAllah pemimpinnya. Karenalah dia yang memutuskan agar rakyatnya menjalankan yang haram.

Kita terlahir di negara ini dalam ‘keadaan begini’. Bilamana ingin mengubahnya, inilah kesempatan kita. Dengan harapan 10, 15, atau 20 tahun kelak sistemnya bisa berubah. Karena orang-orang baik mulai mengisi kepemimpinan dari sekarang. Dan seiring berjalannya waktu, harapan kita generasi yang semakin baik bisa menggantikan dan meneruskan perjuangan mereka.

Bayangkan bilamana dari sekarang sudah diisi oleh orang-orang tak bertanggung-jawab. Ke depannya justru semakin sulit untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Ada sebuah pernyataan yang jarang orang sadari. Sebenarnya pemilihan umum bisa menjadi ibadah yang bernilai 5 tahun. Ketika kita mengetahui seorang pemimpin kita memilki sisi baik dalam pengamalan, kemudian kita dukung dia sebagaimana harapan kita nantinya pengamalan itu akan terus berlangsung selama periode kepemimpinannya yaitu 5 tahun. Maka kita akan mendapatkan pahala terus-menerus selama pemimpin kita berbuat baik.

Kenapa bisa demikian? Pertama, kita telah mempermudah jalannya untuk berbuat baik dengan mendukungnya agar menjadi pemimpin. Kedua, kita memiliki niatan untuk menyelamatkan bangsa kita dari tangan-tangan yang zholim dengan memilih pemimpin yang kita percaya dapat melakukannya.

Hal sebaliknya pun terjadi, ketika kita memilih pemimpin yang memiliki pengamalan yang buruk dalam kesehariannya, dan ditambah lagi kita dukung ia dengan harapan bangsa ini semakin hancur dikarenakan kepentingan-kepentingan pihak-pihak tertentu, maka selama ia melakukan keburukannya, kita pun mendapatkan dosa.

“Lantas bagaimana ketika harapan kita baik tetapi sewaktu-waktu nantinya setelah menjabat, pemimpin yang kita pilih justru berbuat zholim?”

Berharap baik, maka kau dapati pahala untukmu. Berharap baik dengan cara yang baik, maka kau dapati lagi pahala untukmu. Berharap baik dengan cara yang baik agar orang yang kau harapkan akan berbuat baik, maka kau dapati lagi pahala untukmu. Namun ketika orang yang kau harapkan tidak sesuai dari apa yang kau harapkan dan kau tidak meridhoi perbuatannya, itulah dosa baginya.

Maka berharap baik dengan cara yang baik kepada orang yang baik. Bukan justru berhenti berharap. Ketika kau berhenti berharap baik dalam bentuk doa maupun ikhtiar, disitulah kau lupa bahwa dirimu adalah makhluk karena kesombonganmu yang memilki anggapan bahwa dialah yang paling benar. Dan barang siapa yang lupa bahwa dirinya makhluk, pastilah lupa pada Penciptanya. Dan siapa yang lupa pada penciptanya, bersiaplah untuk dilupakan oleh penciptanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s