Rowi

jam asa

Perintah orang tua kali ini membuat saya menjamah kembali barang-barang lama yang tersimpan apik dalam lemari. Satu demi satu saya keluarkanlemari yang sebelumnya digunakan untuk menyimpan berkas-berkas lama ini harus dikosongkan untuk keperluan lain. Ada hal yang membuat saya tersenyum. Benda-benda yang saya cari dulu, kini baru saya temukan di tempat yang tidak saya sangka ini. Entah mengapa tiba-tiba pikiran saya melayang pada percakapan Harry dan Luna saat mencari sepatu di akhir film Harry Potter and The Order of The Phoenix.

Beberapa barang yang saya temukan membuat saya bingung terhadap niatan di masa lalu kenapa-dulu-gua-beli-ini. Tapi ada rasa syukur yang saya panjatkan. Ternyata saya bisa move on dari masa-masa mengejar hasrat akan kebendaan. Paradoks terjadi, karena di lain sisi rasa syukur, saya menyesal karena barang-barang ini tak mampu dijual kembali di olx(dot)com.

“Kalo gak kepake, buang aja.” ujar Ibu. Saat itu Ibu saya sedang sakit dan hanya dapat bergerak terbatas dalam teritori kasurnya. Pada kondisi ini, seorang anak seperti saya rasanya ingin bertukar posisi. Lebih baik saya yang sakit, daripada harus melihat Ibu terbaring dan bangun hanya sebatas melaksanakan kewajiban dan ke kamar mandi.

Setelah sekian waktu, akhirnya semua barang tadi terapihkan (sebenarnya tidak cocok juga bila dikatakan rapih) dalam sebuah bungkus yang siap dibuang. Paling tidak, saya tidak boleh menyesal atas apa yang saya lakukan barusan. Mengingat beberapa barang memang sebenarnya membuat saya mampu mengenang dan bercerita panjang lebar akan sebuah riwayat.

Di hadapan saya akhirnya tinggal bersisakan tumpukan buku dan map. Saya terhenti untuk sebuah keputusan. Pertentangan antara membuang segelintir catatan ini atau menyimpannya kembali. Paling tidak, melihat kembali lembaran demi lembaran merupakan keputusan yang pasti. Dan terhenti pada buku berukuran sedang dengan cover hitam yang diwarnai oil pastel, bertuliskan “Catatan Hitam” ditulis dengan tinta putih. Ternyata ini catatan gado-gado lima-enam tahun yang lalu.

Entah mengapa saya sempat lupa pernah membuat buku ini. Isinya berupa puluhan kata-kata, entah itu nasihat atau apalah-itu yang bahkan tidak mampu otak saya (yang sekarang) mengerti. Satu demi satu, ingatan mulai tercerahkan. Sehingga saya tahu, ternyata dulu saya pernah lebih baik hari ini.

Tuhan menciptakan sebuah ketakutan pada diri manusia. Banyak manusia menggadaikan keyakinannya untuk menghindari ketakutan. Sungguh mereka telah salah, dan terjebak pada dimensi ketakutan abadi.

Aris Gunawan, 2008.

Bersahabatlah dengan diri sendiri. Maka kau tidak kehilangan orang untuk terus dinasihati. Di sisi lain, sendirimu tak akan membuahkan rasa kesendirian.

Aris Gunawan, 2008

*catatan: Hanya karena saya memberi judul “Rowi”, bukan berarti saya adalah perowi.

Iklan

Memperhatikanmu

Tiba-tiba aku begitu merindukanmu. Aku yang kini mulai kesepian dan ditinggalkan, ternyata masih mencintaimu. Aku yang dahulu tidak tahu-menahu, akhirnya memulai petualangan baru seakan Maha Tahu. Aku yang kini dapat terus memperhatikanmu sepanjang waktu.

Aku selalu memperhatikanmu, walau waktu menunjukkan bahwa ku tak lagi ada di sisimu. Aku masih seringkali memperhatikanmu menangis dalam kesendirianmu sembari memandangi foto yang ku berikan dulu. Bukankah artinya masih ada cinta untukku?

Lambat-laun kau bangkit dari keterpurukanmu, dari hari-hari tanpa keberadaanku. Keceriaan di wajahmu kembali terpancar. Teman-temanmu menyambut kehadiranmu dengan gembira karena kau telah kembali seperti dahulu.

Satu tahun telah berlalu. Orang-orang baru telah hadir di kehidupanmu. Saat itu ku sadar kau telah melupakanku. Siapa laki-laki itu? Ternyata dia kekasih barumu.

Sepertinya sudah tak tersisa asa. Saatnya aku pergi meninggalkanmu selamanya. Dan yang terakhir kalinya aku ingin melihatmu, kau sedang membawa bunga. Pastilah untuk dirinya.

Tunggu! Wajahmu murung tak seperti biasa. Mungkinkah dia telah menyakitimu? Langkahmu kini mulai meragu. Ku lihat kau berhenti sejenak di pintu pemakaman di desamu.

Sekarang aku tahu bahwa kau tidak melupakanku. Saat air matamu jatuh di atas bunga yang kau letakkan di atas makamku, sembari berdoa agar aku diberikan jalan yang terbaik untuk menuju surga-Nya.

Pria Terlupakan

Namanya Juga Pemilu

“Bagaimana pandangan Anda mengenai pemilu, Ris?”

Siapapun kandidatnya, siapapun presidennya yang nantinya terpilih, sesungguhnya kitalah yang menang.

Sesungguhnya rakyatlah yang menang. Saat tim sukses pusing untuk mencari perhatian rakyat dan di satu sisi capres pusing atas tugasnya, sadarilah rakyat masih memiliki kebebasan beraktifitas dan beribadah sebagaimana biasanya.

Pemilu bukan hanya sekadar amanah dari negara, tetapi juga merupakan kesempatan kita sebagai perwujudan ikhtiar untuk menyelamatkan negara kita dari tangan-tangan yang ingin membawa negara kita pada jurang kehancuran.

Betapa indahnya menjadi rakyat Indonesia. Siapapun dan dari golongan manapun mereka, semua memiliki hak yang sama dalam memilih pemimpinnya.

“Tetapi kali ini calon pemimpinnya tidak ada yang sesuai harapan. Lantas bagaimana?”

Amanah tetaplah amanah, ya harus tetap dijalani. Tiada manusia yang sempurna. Tetapi kesempurnaan itu ada bagi mereka yang senantiasa berusaha membenahi diri mereka dari waktu ke waktu sejauh dari kemampuan yang mereka miliki. Serta menjalani penyesalan yang dibenarkan bilamana ia berbuat kesalahan.

Bila semua calonnya baik, pilihlah yang paling baik. Bila ada yang baik dan yang buruk, pilihlah yang baik. Dan bilamana semuanya buruk, maka pilihlah yang paling sedikit keburukannya.

Kita memilih sebagaimana harapan. Dan sang Pengabul Harapan ya hanya Allah Swt, bukan manusia. Jadi tidak perlu mengkultuskan calon bilamana calon tampak baik. Dan juga jangan terlalu mencap buruk hanya karena telah tampak keburukannya. Kita ‘bukan orang suci’.

“Bukankah sistem pemilihan ini asalnya dari Barat? Kalau kita ikuti dan jalani, dosa.”

Itulah enaknya jadi rakyat. Rakyat itu dipimpin dengan sistem yang diatur oleh pemimpin. Taatilah pemimpinmu. Yang menanggung dosanya InsyaAllah pemimpinnya. Karenalah dia yang memutuskan agar rakyatnya menjalankan yang haram.

Kita terlahir di negara ini dalam ‘keadaan begini’. Bilamana ingin mengubahnya, inilah kesempatan kita. Dengan harapan 10, 15, atau 20 tahun kelak sistemnya bisa berubah. Karena orang-orang baik mulai mengisi kepemimpinan dari sekarang. Dan seiring berjalannya waktu, harapan kita generasi yang semakin baik bisa menggantikan dan meneruskan perjuangan mereka.

Bayangkan bilamana dari sekarang sudah diisi oleh orang-orang tak bertanggung-jawab. Ke depannya justru semakin sulit untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Ada sebuah pernyataan yang jarang orang sadari. Sebenarnya pemilihan umum bisa menjadi ibadah yang bernilai 5 tahun. Ketika kita mengetahui seorang pemimpin kita memilki sisi baik dalam pengamalan, kemudian kita dukung dia sebagaimana harapan kita nantinya pengamalan itu akan terus berlangsung selama periode kepemimpinannya yaitu 5 tahun. Maka kita akan mendapatkan pahala terus-menerus selama pemimpin kita berbuat baik.

Kenapa bisa demikian? Pertama, kita telah mempermudah jalannya untuk berbuat baik dengan mendukungnya agar menjadi pemimpin. Kedua, kita memiliki niatan untuk menyelamatkan bangsa kita dari tangan-tangan yang zholim dengan memilih pemimpin yang kita percaya dapat melakukannya.

Hal sebaliknya pun terjadi, ketika kita memilih pemimpin yang memiliki pengamalan yang buruk dalam kesehariannya, dan ditambah lagi kita dukung ia dengan harapan bangsa ini semakin hancur dikarenakan kepentingan-kepentingan pihak-pihak tertentu, maka selama ia melakukan keburukannya, kita pun mendapatkan dosa.

“Lantas bagaimana ketika harapan kita baik tetapi sewaktu-waktu nantinya setelah menjabat, pemimpin yang kita pilih justru berbuat zholim?”

Berharap baik, maka kau dapati pahala untukmu. Berharap baik dengan cara yang baik, maka kau dapati lagi pahala untukmu. Berharap baik dengan cara yang baik agar orang yang kau harapkan akan berbuat baik, maka kau dapati lagi pahala untukmu. Namun ketika orang yang kau harapkan tidak sesuai dari apa yang kau harapkan dan kau tidak meridhoi perbuatannya, itulah dosa baginya.

Maka berharap baik dengan cara yang baik kepada orang yang baik. Bukan justru berhenti berharap. Ketika kau berhenti berharap baik dalam bentuk doa maupun ikhtiar, disitulah kau lupa bahwa dirimu adalah makhluk karena kesombonganmu yang memilki anggapan bahwa dialah yang paling benar. Dan barang siapa yang lupa bahwa dirinya makhluk, pastilah lupa pada Penciptanya. Dan siapa yang lupa pada penciptanya, bersiaplah untuk dilupakan oleh penciptanya.