Celana

Mengapa dinamakan celana? Karena Dina terlalu lapar sampai berani mendobrak tradisi sebagai penganut aliran antimainstream. (Salah fokus). Entahlah, memang sejak dahulu celana adalah celana. Hari esok pun tetap disebut celana. Asal katanya yang jelas bukan kependekan dari “mencela dan menghina”, dan bukan juga dari bahasa Arab Betawi “cela ana” atau “celakalah ana”. Bukan pula dari ibu-ibu kita yang mengajari anaknya “nak, ini namanya celana”. Karena ibu saya menyebutnya “nana”, yang mungkin bila saya menuliskan itu sekarang, mungkin orang kira saya sedang bersenandung. Yap, begitulah celana. *kemudian menggaruk celana*

Suatu ketika saya meminta teman untuk berpendapat tentang penampilan saya yang terbilang monotone, sekadar ingin meminta saran untuk menghirup atmosfer baru dalam berpakaian. Karena teman yang sedari dulu mengenal saya pun ternyata memiliki titik jenuh melihat gaya berpakaian saya yang selalu mengenakan celana panjang bahan dalam situasi apapun. Dalam pembicaraan yang begitu ngelantur dan panjang, akhirnya saya pun bertanya.

“Ada yang perlu diganti dari cara berpakaian gua?”
“Ada, minimal jangan selalu item-item. Soalnya ngeri, Ris. Orang ngeliat lu kaya penganut aliran hitam gitu.” Sejenak berpikir, “orang” yang dimaksud teman saya itu ya bukan orang lain, melainkan teman saya sendiri yang berpikir seakan-akan menjadi orang lain.

“Trus ada lagi?” “Itu aja dulu. Oiya, coba lu pake jeans. Gua gak pernah liat lu pake jeans.”
“Gua pernah, sampai saat ini udah 3 kali seumur hidup.”

Seharusnya perkataan teman saya tadi tidak perlu ditanggapi dengan serius. Ya karena memang sudah watak asli saya yang memang selalu cari sensasi, akhirnya terbujuk juga.

Keesokan harinya, saya untuk yang ke-empat kalinya menggunakan celana jeans. Entah mengapa justru sayalah yang merasa risih sendiri. Padahal orang lain justru menanggapinya dengan positif, walau dominan dari mereka selalu mengawali perbincangan dengan kata “tumben”.

Saya baru teringat setelah memakai celana ini beberapa jam. Dulu saat memakai celana jeans yang ke-tiga kalinya, saya berpikir tidak akan menggunakannya lagi karena saya merasa tidak nyaman. Bukan karena bahan yang tidak biasa saya kenakan, tetapi lebih kepada “ini bukan diri saya” yang kesehariannya lebih sering bersarung-ria. Akhirnya saya pulang kuliah lebih awal. Sepanjang perjalanan pulang, mata saya terus memindai setiap celana teman saya dan orang-orang lainnya. Dan lucunya, saya menyadari bahwa setiap celana ternyata berkolerasi dengan karakteristik orangnya. Memang tidak pantas bila saya menyimpulkan sesuatu hanya dari luarnya. Tetapi bila sudah tau isinya, saya pun berani mengaitkan dengan cover-nya.

Jauh dalam ingatan, ternyata Tasawuf yang saya pelajari dahulu, seperti inilah gambarannya. Bagaimana karakter seseorang dengan pakaiannya memang saling terkait. Sehingga pertanyaan “mengapa lebaran harus berpakaian terbaik?”, “mengapa menutup aurat?”, dan mengapa-mengapa yang lainnya, ternyata akan berpengaruh dengan si-pemakainya. Karena pada dasarnya, pakaian bukan hanya melindungi tubuh, tetapi juga melindungi jiwa. (syalala~)

Kembali kepada persoalan celana. Setelah melihat, berpikir, dan merasakan apa yang telah terjadi, keesokan harinya saya pun kembali berpakaian seperti biasa. Namun ada pelajaran dari apa yang telah saya lalui.

Bila ingin melihat seseorang secara sederhana, cobalah lihat mulai dari celananya.

pants

Sing Cut

sing cut

Hidup

Tadinya tulisan ini memang hanya ingin berisi satu kata. Tapi ternyata tidak demikian, karena khawatir terlalu ambigu. Dan saya pun memilih untuk memanjangkan tulisan saya kali ini. Sebagaimana saya memanjangkan judul yang seharusnya “singkat” yang hanya tujuh karakter menjadi “sing cut” dengan delapan karakter.

Waktu memang ilusi. Detik, menit, hari, bahkan tahun hanyalah satuan yang disepakati. Waktu tidaklah sesempit itu—tidak terikat pada satuan. Tapi waktu saling mengikat dengan peristiwa. Sebagaimana waktu dapat terasa lambat atau cepat tergantung peristiwanya.

Kata pertama pada tulisan ini, “hidup”. Karena memang hal yang paling mudah untuk dibuat singkat ya hidup. Hidup-mati, hanya itu prosesnya. Singkat, bukan? Tapi kita bisa membuatnya lebih lama dengan ‘memilih’ serangkaian peristiwa apa saja yang akan kita hadapi. Seperti halnya saya memilih judul tulisan ini. Walaupun diucapkan dengan bunyi yang sama, waktu tempuh yang sama, dan pada tempat yang sama. Tapi antara “singkat” dan “sing cut” tentu berbeda makna. Begitu juga hidup.

Gara-gara Logika

otak

Gara-gara logika, cinta adalah hal nomor dua.

Gara-gara logika, perasaan dibilang penghambat.

Gara-gara logika, agama dikatakan candu.

Gara-gara logika, Tuhan itu tidak ada.

Gara-gara logika, aksi pun tidak jadi.

Gara-gara logika, gagasan akhirnya dihapuskan.

Gara-gara logika, otak pun dikultuskan.

Gara-gara logika, kemauan dianggap kebutuhan.

Gara-gara logika, hal yang lucu menjadi kaku.

Gara-gara logika, memang manusia dapat hidup.

Namun si hati terus dibohongi.

Aris Gunawan-