Aku yang Selalu Begitu

menyanyi kala hujan

Pertemanan adalah saksi nyata bagi sebuah kehidupan sekaligus juri yang unik dalam menilai perubahan diri sendiri.

-Aris Gunawan-

Sore seperti biasa di musim penghujan. Pemandangan orang berlalu-lalang yang terburu-buru atas dikejarnya oleh jam turun hujan mulai mewarnai. Agak aneh, dalam benakku sempat terpikir bukankah mereka sejak kecil merasakan hujan, mengapa harus takut?

Di selasar, seperti biasa aku lebih sering menatap langit ketika berawan. Hingga tak ku sadari seseorang yang ada di sebelahku sejak tadi merupakan kawan lama. Teman ketika mengenyam di bangku SMP. Tidak ada dua detik kami saling menatap sehingga akhirnya saling menyapa satu sama lain.

“Weh, Aris! Makin tua aja lu. Haha..” sapa temanku yang berinisial D ini.

“Dunia ini juga sudah tua,” jawabku sambil tersenyum.

“Berarti lu beneran Aris, tadinya gua ragu, tau. Tapi dari cara ngomong lu, sekarang gua yakin. Cara lu yang tua. Haha..” sambar D.

Mendengar apa yang ia katakan, sangat benar bila dahulu aku justru selalu menggunakan bahasa yang terkesan ‘tua‘, bahkan dalam pergaulan.

“Eh, gua beda kali kaya dulu. Selain dari muka, isi kantong, sama cara gaul juga beda,” bantahku.

“Udah jadi ustad belum lu?” tanya dia sedikit menduga.

“Aamiin.” jawabku sekenanya. Aku mungkin bisa berbohong tentang hari kemarin sampai saat ini kepadanya, namun orang ini tahu banyak tentang masa laluku. Masa-masa dimana saat itu aku lebih memiliki jiwa berperi-Ketuhanan dan ketaatan (InsyaAllah) ketimbang sekarang. Bisa dibilang ia seorang saksi yang mungkin berpikir bahwa kepribadianku masih seperti yang dulu.

Beberapa detik kami diam dan memandangi sekitar. Apa yang kami lihat bukanlah apa yang ada di kepala kami pastinya. Karena kami saling berpikir tentang bagaimana percakapan berikutnya atau memberhentikan percakapan ini. Saat itu rintik hujan pun sudah mulai turun.

“Ris, lu lagi ngapain emangnya?” tanya dia mematahkan kekakuan.

“Nunggu hujan.” jawabku.

“Lah, udah gede, Ris. Masa takut sama ujan. Lagian mau nunggu sampe kapan, coba? Kan udah sore.” sindir dia.

“Nunggu hujan, mbak. Bukan nunggu reda.” sahutku sambil merapihkan tas di bahu.

“Hujan itu ilusi. Kaya mesin waktu. Berada di tengah hujan bisa bikin lu kembali teringat sama hujan-hujan lu yang udah lalu. Termasuk hujan yang lu rasa ketika bahagia, sedih, capek atau mungkin lagi ribet. Gua cuma lagi pengen hujan ketika gua ketawa pas waktu kecil balik lagi. Gua kangen masa kecil. Hidup dalam cerita yang gampang. Imajinasi gua luas. Gua gak mau kehilangan imajinasi gua.” kataku dengan penuh keyakinan.

“Jadi ini alasan lu dari SMP selalu ujan-ujanan?”

“Yoii.. Bener. Malah gua seneng ujan-ujanan dari SD. Gua duluan ya!”

“Oh ya dah. Ris.” Sambil menggelengkan kepala “lu emang gak ada bedanya dari yang dulu. Haha”

Aku pun membalas hanya dengan senyuman. Sambil kemudian berjalan menuju parkiran, hujan langsung turun dengan derasnya. Senyum yang tersisa kemudian habis. Kubiarkan tubuh dan apa yang kukenakan terbasahi hujan dengan apa adanya. Karena yang ada di benakku saat itu bukan lagi hujan. Melainkan aku yang dahulu lebih baik ketimbang aku yang sekarang. Aku yang berjaya, aku yang budiman, aku yang berakhlak, aku yang sibuk mengingat Tuhan. Seharusnya aku seperti aku yang dulu. Seharusnya aku yang selalu begitu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s