Hanya ingin jawaban, Nona

pp baru

Nona, kudengar kau adalah sosok yang pintar, kata teman-temanmu. Dan sebagaimana kau tahu tentangku dari teman-temanmu, aku adalah orang yang banyak bicara dan berimajinasi. Tetapi kumohon, Nona. Luangkanlah waktumu kali ini untuk menjawab banyak pertanyaanku.

Kita sering melihat banyak sekali orang yang berani melakukan hal yang berbahaya namun hanya diberikan penghasilan yang pas-pasan. Misalkan saja tukang parkir tikungan. Setiap detik ketika bekerja selalu beresiko tertabrak kendaraan lain. Setiap kesalahan yang dia lakukan bisa mengakibatkan kecelakaan maupun bentrokan. Tetapi mengapa ada orang yang mau melakukannya, Nona? Aku butuh penjelasanmu karena kamu pintar. Aku hanya ingin jawaban, Nona.

Aku juga memperhatikan banyak orang yang rela berlelah-lelah namun mereka miskin. Seperti halnya tukang gali kubur. Mereka bersedia tinggal di tempat hunian terakhir itu. Padahal tempat itu cukup menyeramkan. Mereka rela bekerja kapanpun ketika diminta. Padahal mereka terlepas dengan dunia luar dan hanya bisa duduk diam mengamati nisan. Bukankah itu sangat melelahkan dan membosankan? Aku tahu kamu mudah menjawabnya. Aku hanya ingin jawaban, bukan senyuman, Nona.

Kemudian beberapa hari yang lalu aku melewati jalan baru yang biasa tidak aku lalui. Di sana aku melihat seseorang yang sudah tua sedang menyapu jalanan yang selalu kotor. Bukankah di usia yang tua seharusnya ia sudah tidak bekerja lagi? Kasihan keluarganya di rumah yang menantikan sosok kehadirannya. Bagaimana mengatasi semua itu? Nona, aku tahu kau yang sholehah itu dapat merasakan betapa sulitnya menjadi mereka. Aku hanya ingin jawaban, bukan mata yang tersenyum, Nona.

Namun yang lebih ironi lagi. Aku melihat seseorang yang tidak beradab, bekerja tidak sebesar dan sebanding mereka yang tadi kusebutkan. Tetapi justru mendapatkan penghasilan yang lebih. Bahkan keluarganya ditinggalkan, dan ia justru bersenang-senang dengan uang payah yang ia dapatkan. Ini sangat tidak masuk akal. Apakah itu adil, Nona? Aku tahu kecerdasanmu mengalahkan banyak orang dan aku yakin kau bisa menjawabnya. Aku hanya ingin jawaban, bukan wajahmu yang putih berseri-seri, Nona.

Kata orang, aku ini memang cerdas. Tetapi nalarku tak mampu menjawab semua pertanyaan tadi. Semua itu tidak  masuk akal, Nona. Aku butuh bantuan menjawab banyak pertanyaan dalam hidupku. Dan satu pertanyaan lagi yang pastinya tidak bisa ku jawab sendiri. Aku butuh jawaban, di hadapan guruku dan walimu kini, Nona.

Maukah kau menikah denganku?

Syalala~

Iklan

One thought on “Hanya ingin jawaban, Nona

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s