Menyukai Merah

payung merah

Bagaimana kau membuatku menyukai warna merah, nona?

Aku benci merah. Aku lebih baik menukarnya dengan dua biru di dompet ketibang satu merah.

Aku benci merah. Aku lebih baik memilih bendera putih yang berarti suci walau arti lain yaitu menyerah.

Aku benci merah. Aku lebih baik memar biru ketibang tergores kemudian berdarah.

Aku benci merah. Aku lebih baik memutar jalan ketibang melihat lampu merah.

Aku benci merah. Aku lebih baik makan tahu dengan cabai hijau ketibang dengan strawberry merah.

Aku benci merah. Aku lebih baik remedial ditambah tugas daripada rapot merah.

Aku benci merah. Aku lebih baik lelah memucat daripada harus memerah marah.

Aku benci merah. Aku lebih baik memundurkan diri dari kesebelasan daripada kartu merah.

Aku benci merah. Aku lebih baik menggunakan sarung daripada kolor merah saat ibadah.

Apapun itu, aku tetap berdalih karena aku benci warna merah.

Aku benci merah. Aku lebih baik memilih mawar putih ini daripada yang merah.

Dan mawar putih ini untukmu dengan syarat kau harus membuatku menyukai merah bagaimanapun caranya.

Mengapa kau hanya diam? Mengapa kau tersenyum? Baik kau berhasil.

Aku menyukai wajahmu yang merah merona itu.

Aris Gunawan-

Aku yang Selalu Begitu

menyanyi kala hujan

Pertemanan adalah saksi nyata bagi sebuah kehidupan sekaligus juri yang unik dalam menilai perubahan diri sendiri.

-Aris Gunawan-

Sore seperti biasa di musim penghujan. Pemandangan orang berlalu-lalang yang terburu-buru atas dikejarnya oleh jam turun hujan mulai mewarnai. Agak aneh, dalam benakku sempat terpikir bukankah mereka sejak kecil merasakan hujan, mengapa harus takut?

Di selasar, seperti biasa aku lebih sering menatap langit ketika berawan. Hingga tak ku sadari seseorang yang ada di sebelahku sejak tadi merupakan kawan lama. Teman ketika mengenyam di bangku SMP. Tidak ada dua detik kami saling menatap sehingga akhirnya saling menyapa satu sama lain.

“Weh, Aris! Makin tua aja lu. Haha..” sapa temanku yang berinisial D ini.

“Dunia ini juga sudah tua,” jawabku sambil tersenyum.

“Berarti lu beneran Aris, tadinya gua ragu, tau. Tapi dari cara ngomong lu, sekarang gua yakin. Cara lu yang tua. Haha..” sambar D.

Mendengar apa yang ia katakan, sangat benar bila dahulu aku justru selalu menggunakan bahasa yang terkesan ‘tua‘, bahkan dalam pergaulan.

“Eh, gua beda kali kaya dulu. Selain dari muka, isi kantong, sama cara gaul juga beda,” bantahku.

“Udah jadi ustad belum lu?” tanya dia sedikit menduga.

“Aamiin.” jawabku sekenanya. Aku mungkin bisa berbohong tentang hari kemarin sampai saat ini kepadanya, namun orang ini tahu banyak tentang masa laluku. Masa-masa dimana saat itu aku lebih memiliki jiwa berperi-Ketuhanan dan ketaatan (InsyaAllah) ketimbang sekarang. Bisa dibilang ia seorang saksi yang mungkin berpikir bahwa kepribadianku masih seperti yang dulu.

Beberapa detik kami diam dan memandangi sekitar. Apa yang kami lihat bukanlah apa yang ada di kepala kami pastinya. Karena kami saling berpikir tentang bagaimana percakapan berikutnya atau memberhentikan percakapan ini. Saat itu rintik hujan pun sudah mulai turun.

“Ris, lu lagi ngapain emangnya?” tanya dia mematahkan kekakuan.

“Nunggu hujan.” jawabku.

“Lah, udah gede, Ris. Masa takut sama ujan. Lagian mau nunggu sampe kapan, coba? Kan udah sore.” sindir dia.

“Nunggu hujan, mbak. Bukan nunggu reda.” sahutku sambil merapihkan tas di bahu.

“Hujan itu ilusi. Kaya mesin waktu. Berada di tengah hujan bisa bikin lu kembali teringat sama hujan-hujan lu yang udah lalu. Termasuk hujan yang lu rasa ketika bahagia, sedih, capek atau mungkin lagi ribet. Gua cuma lagi pengen hujan ketika gua ketawa pas waktu kecil balik lagi. Gua kangen masa kecil. Hidup dalam cerita yang gampang. Imajinasi gua luas. Gua gak mau kehilangan imajinasi gua.” kataku dengan penuh keyakinan.

“Jadi ini alasan lu dari SMP selalu ujan-ujanan?”

“Yoii.. Bener. Malah gua seneng ujan-ujanan dari SD. Gua duluan ya!”

“Oh ya dah. Ris.” Sambil menggelengkan kepala “lu emang gak ada bedanya dari yang dulu. Haha”

Aku pun membalas hanya dengan senyuman. Sambil kemudian berjalan menuju parkiran, hujan langsung turun dengan derasnya. Senyum yang tersisa kemudian habis. Kubiarkan tubuh dan apa yang kukenakan terbasahi hujan dengan apa adanya. Karena yang ada di benakku saat itu bukan lagi hujan. Melainkan aku yang dahulu lebih baik ketimbang aku yang sekarang. Aku yang berjaya, aku yang budiman, aku yang berakhlak, aku yang sibuk mengingat Tuhan. Seharusnya aku seperti aku yang dulu. Seharusnya aku yang selalu begitu.

Bila — Jangan

dream-world-drug-free-zone-1800x2880

Bila kita tak mampu untuk mencari teman, janganlah coba untuk mencari musuh.

Bila kita tak mampu untuk memperbaiki, janganlah coba untuk memperburuk.

Bila kita tak mampu untuk menjadi juara, janganlah coba menjadi untuk pecundang.

Bila kita tak mampu untuk mencintai, janganlah coba untuk membenci.

Bila kita tak mampu untuk setia, janganlah coba untuk berbuat ingkar.

Bila kita tak mampu untuk sukses, janganlah coba untuk menyerah.

Bila kita tak mampu untuk membahagiakan, janganlah coba untuk menyakiti.

Bila kita tak mampu untuk menjadi sholih, janganlah coba untuk terus maksiat.

Bila kita tak mampu untuk jujur, janganlah coba untuk mendusta.

Bila kita tak mampu untuk menjalani hidup, janganlah coba untuk menginginkan kematian.

Angkot

img_0335

Keterpaksaan di suatu hari dewasa ini membuat saya harus bepergian menggunakan angkot. Entahlah… karena motor sudah menjadi kendaraan yang mendarah-daging, kini naik angkot rasanya bagaikan mendapatkan pengalaman baru. Mungkin pandangan sayalah yang membuatnya demikan. Dulu hanya sebatas duduk dan terangin-angin. Namun kini, saya mampu merasakan sensasi yang lain. Oh Tuhan, ternyata Engkau menyadarkanku ketika naik angkot bahwa aku sudah dewasa.

Angkutan kota, baik di desa atau di necropolis, tetap seperti itu namanya. Mungkin angkot adalah miniatur yang sengaja diciptakan sebagai gambaran dunia saat ini. Ya, semua unsur dan aspek, ada.

Bila Anda ingin menilai suatu kota, maka naiklah angkotnya

Bila suatu kota hancur, hancurlah angkotnya. Bila kota berisi dari orang-orang berpendidikan, supir angkotnya pasti menunjukkan ijazahnya. Bila multikultural, penumpangnya pasti berbeda-beda ras. Bila suatu kota amoral, lihatlah pengamennya. Dan bila suatu kota kumuh, lihatlah kebersihan angkotnya.

Hari ini semakin marak tindak kriminalitas yang terjadi di angkot. Maka tidak bisa kita pungkiri bahwa wilayah tersebut memang penuh tindak kriminal. Sebuah celetukkan tentang benahi angkotnya agar masyarakat naik angkot sepertinya merupakan sebuah kesalahan. Hmm.. Karena angkot merupakan gambaran masyarakat juga, seharusnya benahi dulu masyarakatnya, nanti angkotnya juga akan benar dengan sendirinya. Dari pendapat pribadi, bayangkan yang memiliki kesadaran untuk naik angkot adalah kalangan borjuis, pasti kualitas angkotnya akan naik. Haha..

Hanya ingin jawaban, Nona

pp baru

Nona, kudengar kau adalah sosok yang pintar, kata teman-temanmu. Dan sebagaimana kau tahu tentangku dari teman-temanmu, aku adalah orang yang banyak bicara dan berimajinasi. Tetapi kumohon, Nona. Luangkanlah waktumu kali ini untuk menjawab banyak pertanyaanku.

Kita sering melihat banyak sekali orang yang berani melakukan hal yang berbahaya namun hanya diberikan penghasilan yang pas-pasan. Misalkan saja tukang parkir tikungan. Setiap detik ketika bekerja selalu beresiko tertabrak kendaraan lain. Setiap kesalahan yang dia lakukan bisa mengakibatkan kecelakaan maupun bentrokan. Tetapi mengapa ada orang yang mau melakukannya, Nona? Aku butuh penjelasanmu karena kamu pintar. Aku hanya ingin jawaban, Nona.

Aku juga memperhatikan banyak orang yang rela berlelah-lelah namun mereka miskin. Seperti halnya tukang gali kubur. Mereka bersedia tinggal di tempat hunian terakhir itu. Padahal tempat itu cukup menyeramkan. Mereka rela bekerja kapanpun ketika diminta. Padahal mereka terlepas dengan dunia luar dan hanya bisa duduk diam mengamati nisan. Bukankah itu sangat melelahkan dan membosankan? Aku tahu kamu mudah menjawabnya. Aku hanya ingin jawaban, bukan senyuman, Nona.

Kemudian beberapa hari yang lalu aku melewati jalan baru yang biasa tidak aku lalui. Di sana aku melihat seseorang yang sudah tua sedang menyapu jalanan yang selalu kotor. Bukankah di usia yang tua seharusnya ia sudah tidak bekerja lagi? Kasihan keluarganya di rumah yang menantikan sosok kehadirannya. Bagaimana mengatasi semua itu? Nona, aku tahu kau yang sholehah itu dapat merasakan betapa sulitnya menjadi mereka. Aku hanya ingin jawaban, bukan mata yang tersenyum, Nona.

Namun yang lebih ironi lagi. Aku melihat seseorang yang tidak beradab, bekerja tidak sebesar dan sebanding mereka yang tadi kusebutkan. Tetapi justru mendapatkan penghasilan yang lebih. Bahkan keluarganya ditinggalkan, dan ia justru bersenang-senang dengan uang payah yang ia dapatkan. Ini sangat tidak masuk akal. Apakah itu adil, Nona? Aku tahu kecerdasanmu mengalahkan banyak orang dan aku yakin kau bisa menjawabnya. Aku hanya ingin jawaban, bukan wajahmu yang putih berseri-seri, Nona.

Kata orang, aku ini memang cerdas. Tetapi nalarku tak mampu menjawab semua pertanyaan tadi. Semua itu tidak  masuk akal, Nona. Aku butuh bantuan menjawab banyak pertanyaan dalam hidupku. Dan satu pertanyaan lagi yang pastinya tidak bisa ku jawab sendiri. Aku butuh jawaban, di hadapan guruku dan walimu kini, Nona.

Maukah kau menikah denganku?

Syalala~

Politik itu bagaikan racun

Politik itu bagaikan racun.

Membuat segala kenormalan yang terkena menjadi pusing, rumit, sakit, dan terkena gejala tergantung jenis racunnya.

Politik itu bagaikan racun.

Jangan pernah kau gunakan racun untuk diri sendiri, keluarga, dan orang-orang kau cintai serta orang-orang yang tak bersalah. Kau orang baik, jangan jadi orang yang beracun.

Politik itu bagaikan racun.

Kau bisa kalahkan musuhmu dengan racun. Kau bisa memenangkan kompetisi dengan racun. Kau bisa mendapatkan harta, tahta, maupun cinta. Tapi apakah itu benar? Tanyakan kepada hati yang kini jarang terpakai.

Politik itu bagaikan racun.

Sudah berapa banyak orang yang meninggal karena racun?
Sudah berapa biaya yang dikeluarkan demi membuat racun?
Sudah berapa banyak waktu yang terbuang hanya untuk bermain racun?

Politik itu bagaikan racun.

Kau bisa mempengaruhi orang banyak dengan racun agar akhirnya mengikutimu. Tetapi hakikatnya mereka sedang keracunan. Yang ada setelahnya adalah kematian, atau penyembuhan. Penyembuhan dari keracunan sehingga lepas dari pengaruh mengikuti kita.

Politik itu bagaikan racun.

Walaupun kau tidak menggunakannya untuk diri sendiri, namun harus tetap kau ketahui dan kau pelajari agar nantinya tidak terkena racun.

Politik itu bagaikan racun.

Dan apapun racunnya, pastilah ada penawarnya..

Lalu apa penawarnya?

Agamalah penawarnya.

Jadi jangan pernah bekerja, belajar, bahkan bermain-main dengan racun bila kau jauh dari penawarnya..

-Aris Gunawan-