Warung Maya

komputer tua

Ini adalah rangkaian dari puluhan kata yang berunding dan menentukkan jalan hidup mereka bersama sehingga menjadi sebuah catatan. Catatan yang di buat di tengah-tengah problematika hidup di Jakarta dengan sejuta kisah hidup remaja yang hidup di sebuah desa kota.

Ku lakukan aktivitas biasa yang begitu luar biasa. Di selimuti malam nan dingin dengan ditemani sebuah flashdisk yang sejak tadi menempel kelap-kelip di komputer dan mulai menghangat, juga didampingi client tetangga yang sedang asik di depan monitor dengan kesibukannya yang begitu penuh dengan rahasia.

Sesekali ku menoleh ke arah dompet nan kucel dan suram melihat kisah masa lalu dan berkata ‘kenapa kemarin uangnya sudah ku habiskan?’. Tak tergoda sedikit pun imanku mampir ke halaman kotor di tempat perkembang-biakkan iblis ini. Terkadang canda orang yang sedang bermain game online memecahkan suasana pinggiran jalan dengan jeritan penuh dengan kekesalan, tidak lupa dibuntuti dengan kata hewan yang sudah tidak tabu lagi (mereka menggonggong di malam hari). Sebuah tanda billing dengan nyamannya memainkan detik demi detik. Gangguan-gangguan yang menyelimuti, suasana malam yang semakin mencekam, di tambah bunyi cekikikan sang client jauh di seberang sana. Terlebih lagi, terkadang bulu kuduk berdiri ketika mencium aroma yang menghantui seluruh manusia di muka bumi. Tidak lain adalah gas buangan manusia yang entah datang darimana namun begitu memberatkan pengendalian diri dan kesabaran.

Mata semakin berat di depan layar yang begitu kecil berukuran 1024×768 pixel ini. Perih rasanya, kalian mungkin tak bisa merasakan sakitku ini.. uuhh.. sakit sekali.. sangat sakit dan mengantuk. Rasanya mata ini ingin aku hilangkan saja. Biarlah, itu semua akan berlalu.

Di tengah keasikkanku menikmati sisa hari ini. Tiba-tiba ada sesosok yang menyambar di monitor. Jantung pun terasa ditarik keluar dari tubuh yang mungil ini. Ketika kotak yang berisikan bahasa aneh yang sudah ditafsirkan singkat, artinya “waktu anda tinggal 10 menit lagi. Silahkan menghubungi operator untuk menambah waktu”. Semakin sakit hati ini. Ujian pun datang, menguji keikhlasan untuk memisahkan aku dan komputer. Rasanya ingin menangis saja ketika melihat dompet yang tinggal bersisakan Patimura dan Imam Bonjol. Tapi paling tidak, ketika ku meninggalkan 7 langkah dari tempat ini ku akan melupakkan semua. Itulah gambaran beberapa jam aku di warung maya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s