Sebelum sekolah

Ini adalah simponi kata yang tersusun menjadi sebuah lantunan cerita. Pagi yang cerah untuk jiwa yang suram. Ku bangkit dari alam baka tempat tidur. Diawali dengan membuka kedua tirai kelopak mata nan berat ini. Semakin berat mata ini terkena kerasnya tembakkan angin dari kipas yang kotor dan berdebu. Terkadang lemahnya otakku membuat tidak tahu siapa dan dimana aku berada. Seakan-akan nyawa masih berada dialam mimpi.

Ku lepaskan seluruh tenagaku untuk bangkit dari tidur menuju dudukku. Semakin sakit lagi apabila terjadi kesalahan pada posisi tidurku. Terdengar suara gemuruh dengkuran orang yang masih terpaku dalam posisi tidurnya. Juga diiringi oleh lantunan orang tua bermental baja yang sudah berada di masjid sejak tadi. Hati kecilku seringkali berkata untuk menggantikan mereka suatu saat nanti. Kemudian aku lanjutkan dengan berdiri dan berjalan setapak demi setapak menuju kamar mandi.

Kala ku berjalan, dentumanku begitu keras sehingga membuat seisi rumah pun tersadar betapa mengganggunya diriku. Ku lanjutkan perjalananku, sampai berada tepat di depan kamar mandi dengan lantai keramik yang berhiaskan kerak air. Udara dingin terkadang berhembus. Terlihat pantulan sinar dari benda berkilau yang kami sebut cermin yang menghipnotisku sehingga membuatku datang untuk menghampirinya. Tampak gumpalan daging yang mengerikan disebut wajah yang semakin hari semakin tua. Dilanjutkan mandi yang begitu berat di pagi buta ini. Ku ambil gayung demi gayung air yang dingin bagai jarum yang menembus tulang ini.

Setelah selesai, dingin bekerja sama dengan angin alam untuk membuatku terkapar dan menyerah. Dengan terburu-buru, segera ku gunakan baju yang turun-temurun sejak lama gayanya tidak berubah. Tidak lain tidak bukan adalah seragam sekolah. Ku lanjutkan dengan ibadah di pagi hari sebelum terbit ini, dan seselesainya ku lanjutkan dengan aktivitas manusiawiku yang disebut makan. Makanan sejuta umat ini (nasi) sudah menjadi bagian dalam hidupku. Setelah selesai, ku gunakan perlengkapan yang sudah ku siapkan dari malam sebelumnya. Tak lupa ku gunakan benda yang menggantung di setiap punggung siswa. Di tutup dengan pemakaian sepatu nan kucel dan beraromakan neraka ini. Ku berangkat dari rumah menuju penjara rehabilitasi anak-anak yang kami sebut sebagai sekolah. Semua kejadian tadi satu persatu mulai terlupakkan. Otak pun mulai bangkit sehingga ketika aku, keluar alangkah terkejutnya kalau aku ingat ada PR yang belum dikerjakan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s