Intermezzo (Kami)

Bukan lagi catatan yang diper-lebay. Ini adalah sebuah karya hasil eksploitasi kemampuan otak yang menghasilkan sebuah kata-kata murni namun sok bijak. Hmm.. bisa dikatakan perundangan kekuatan yang baik di tengah pengaruh politik yang buruk. Inilah karya manusia terasing yang sering menggombal dikala molornya waktu acara.. Hahaha.

Kamilah otot-otot yang menggerakan tembok-tembok yang nantinya akan menjadi tempat yang nyaman. Namun akhirnya disalahgunakan oleh para atasan untuk kemaksiatan. (buruh bangunan)

Kamilah para pengendali rantai kehidupan untuk perut-perut bangsa. Dan pada akhirnya kamilah yang menjadi bahan hujatan kementrian. (petani)

Kamilah tangan-tangan penolong yang terus menyaksikan tangisan korban dengan luka bakarnya dan pada akhirnya kamilah yang selalu dilecehkan atas ketidakpuasan. (pemadam kebakaran)

Kamilah orang-orang tangguh yang pergi ketika bintang bersautan dengan cahaya kelap-kelipnya melawan terjangan dinding air. Namun terkadang nyawa dan kehidupan kami tak terlirik. (nelayan)

Kamilah orang dekat dengan kematian dan membuat jasad mereka terus dikenang. Tetapi kami bahkan tidak terpandang. (tukang gali kubur)

Kamilah orang yang terus menunggu dengan kokoh datangnya pertolongan pada gangguan perjalanan mereka. Sebagian dari kami memang tidak jujur. Tetapi setelah itu kami ditinggalkan dan terlupakan begitu saja. (tukang di bengkel)

Kamilah para pejuang Indonesia yang melahirkan seorang sosok presiden negara adi kuasa. Walau pada akhirnya nasib kami tetap sama. (tukang bakso, sate, nasi goreng dll)

Kami tidak mau memperlihatkan perjuangan kami, karena terlalu sulit untuk di jalaskan. Namun kamilah orang-orang yang terus menjaga adanya kebaikkan dan terus kami perjuangkan sampai ajal kami. (Sang Pencerah)

Kami terus menyusuri jalan-jalan dengan kendaraan sekilas yang kami tumpangi untuk terus mencari makan. Terkadang tembang dan syair kami di anggap menggangu. Sadarkah kalian, kami juga manusia? (pengamen)

Kami memang pengendara sejati. Selalu berada di tempat-tempat yang berbeda. Tujuan kami memang menolong, dan inilah apa yang kami kerjakan. (supir kendaraan umum)

Kamilah orang yang membuat dunia ini tidak terasa kaku, lebih berwarna dan penuh dengan bintang. Tetapi di zaman oleh para manusia modern ini. Kami dianggap sampah. (manusia alay)

Dan Pada Akhirnya

Kami bukan avatar. Kami bukan dewa. Kami orang yang menghasilkan roman untuk penyemangat kalian generasi yang menentukan kemana dunia ini akan arah. Kami melihat dan kami terus berkarya. Inilah kami. Orang-orang yang bermodalkan pena demi kata mutiara yang tak akan pernah pudar oleh waktu. Siapa kami? Siapa diriku? (Kamilah Pujangga)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s