Ketika Hujan

kehujanan

Terlahir kala hujan.

Dan terlahir kembali bila hujan datang.

Kerinduan.

Hujan, karena kau menghalangi penerangku

Hari ini kelabu, kawan.

Awan, mengapa kau membawa hujan?

Tuhan, mengapa Kau ciptakan awan?

Ku berbaring di Tanah lapang menatap apa yang tak terlihat

Kenangan.

Wahai hujan, kau tetap sama seperti saat ku lahir.

*mengusap wajah yang terbasahi*

dinginnya angin berhembus mematikan asa.

Lagi, lagi, gila

Kemudian hujan semakin deras. Pipi ini terbasahi air mata dan hujan.

Bersujud dalam isak.

Berusaha mencari perhatian Tuhan dalam bait-bait doa.

Air ini menenggelamkan wajah.

Aku hanya lelah memikirkan, Hujan.

Petir pun mulai berani unjuk diri.

aku semakin tak berdaya. Ketakutan ini merobek jantung

dengan mata yang terpejam serapat mungkin,

Tetapi memori masa itu justru

semakin jelas tampak.

Tuhan, kapan Kau memberhentikan?

Perkataanku hanya ucapan. Pikiranku hanyalah harapan.

Tubuh ini hanya titipan. Hati ini adalah ketidak-pastian.

Buatlah ini berakhir, berikan kenangan baru seselesainya hujan.

Kemudian berhenti.

Seketika air cepat surut. Pelangi berimprovisasi secukupnya.

Orang yang tadi berlindung di balik tembok dan atap

mulai kembali gagah menapaki bumi-Mu.

Aku pun bangkit.

Sedikit-sedikit melupakan peristiwa.

Raja siang telah pamer ternyata.

Hujan telah berhenti, kenangan di dalamnya masih berlanjut.

Tuhan, aku merindukan hujan.

 -Aris Gunawan, dalam Alam pun Mengenang-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s