Ruang Tamu

kamar tua

Terpaku di sudut ruang tamu.

Berharap penantian ini usai bila pintu sudah terbuka.

Yang di dengar si anak hanya lagu sama sejak kemarin

sama dengan bayang-bayangnya.

Andai atapnya saat itu transparan

mungkin Bimasakti-lah yang dilihatnya,

bukan lampu redup tergerakan angin.

Dimana kelap-kelip hiasan dunia,

sekejap membuatnya tersenyum.

Masa, sama?

Biola dan piano berdebu diliriknya perlahan

berharap dulu ia hidup di masa lalu

 saat tangan-tangan ahli masih menjamahnya.

Winter for the four season.

Di balik jendelanya, banyak yang bertanya

“Apalah yang kurang dariku?”

suara lelaki. Yang demikian banyak

hingga akhirnya pergi.

Ia rasa semakin hening.

Lampu yang putih kini pudar cahayanya

Gadis kecil yang malang.

Tanah yang kokoh ini mulai berkerak

Dan ia masih terpaku di tempat yang sama.

“Ngah!”

ucap, tanpa ia kuasai sepenuhnya

dilihatnya jam yang berputar itu mulai tidak konsisten

kemudian mati.

Ia mulai memeluk diri dalam kesendiriannya.

dalam dinginnya, dalam gelapnya.

Ia terus menunggu. Seseorang membuka pintu

dalam penantian yang tak berujung demi menyambut tamu

terdiam dalam ruangnya, menahan buncahan sendu

kenapa kamu?

Sembari melihat kaca, ternyata aku sudah dewasa

tidak, tua senja

dan masih melakukan hal yang sama.

Menunggu sosok membuka dari balik pintu.

Menanti sosok yang justru tak akan pernah datang.

Menanti lelaki yang sempurna.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s