Pulang Sekolah

Tragedi telah terjadi di tengah kesibukkan orang-orang yang dengan jaimnya melantunkan nyanyian syair ilmu yang membuat kepala siswa menjadi berat dan tertahan di atas sebuah meja. Sesekali ku menoleh ke arah jendela nan kotor. Tampak seseorang yang sedang berjalan dengan santainya di koridor membuat konsentrasi para penghuni kelas menjadi semakin tidak terarah. Celetukkan demi celetukkan mewarnai suasana nan rempong ini semakin meriah dan lebih berwarna. Terkadang manusia yang berada jauh di sudut ruangan tiba-tiba bangkit dari duduk dengan gagahnya mendatangi sang guru dan berkata “izin ke belakang bu/pak”.

Waktu berjalan seperti biasa namun anehnya terasa begitu lama. Terkadang emosi semakin meluap-luap terlebih jika sang guru begitu pasif. Ketika ku menoleh ke arah belakang, terkejutnya diriku ketika hanya akulah yang masih bertahan di medan perang ini dengan posisi duduk sempurnaku (yang lain telah tertidur bahkan ada yang benar-benar seperti mayit).

Akhirnya telah tiba..

Ledakkan bunyi bel pulang terdengar dari kutub sekolah. Para pelanggan tidur itu pun segera bangkit dari alam bawah sadar mereka dan berteriak-teriak bahagia namun bagai disiksa. Seluruh kelas dipenuhi rasa senang, bahagia, tangis, haru, galau, semangat. Dan hanya satu orang di antara kerumunan yang masih terpaku diam seribu bahasa dengan menjaga sikapnya. Tidak lain adalah guru yang sudah terlupakan keberadaannya.

Setelah itu, kelas pun kembali tenang dengan paksanya kemudian melakukan tradisi biasa sebelum meninggalkan ruang penjara tersebut. Tentu saja doa khitmat dan salam kita laturkan dengan lantangnya bagai prajurit. Seluruh pikiran kini tertuju kepada hal-hal apa yang akan dilakukan setelah keluar rehabilitasi ini. Di sinilah kelas berakhir, dan di sinilah hidup kami berawal..

Intermezzo (Kami)

Bukan lagi catatan yang diper-lebay. Ini adalah sebuah karya hasil eksploitasi kemampuan otak yang menghasilkan sebuah kata-kata murni namun sok bijak. Hmm.. bisa dikatakan perundangan kekuatan yang baik di tengah pengaruh politik yang buruk. Inilah karya manusia terasing yang sering menggombal dikala molornya waktu acara.. Hahaha.

Kamilah otot-otot yang menggerakan tembok-tembok yang nantinya akan menjadi tempat yang nyaman. Namun akhirnya disalahgunakan oleh para atasan untuk kemaksiatan. (buruh bangunan)

Kamilah para pengendali rantai kehidupan untuk perut-perut bangsa. Dan pada akhirnya kamilah yang menjadi bahan hujatan kementrian. (petani)

Kamilah tangan-tangan penolong yang terus menyaksikan tangisan korban dengan luka bakarnya dan pada akhirnya kamilah yang selalu dilecehkan atas ketidakpuasan. (pemadam kebakaran)

Kamilah orang-orang tangguh yang pergi ketika bintang bersautan dengan cahaya kelap-kelipnya melawan terjangan dinding air. Namun terkadang nyawa dan kehidupan kami tak terlirik. (nelayan)

Kamilah orang dekat dengan kematian dan membuat jasad mereka terus dikenang. Tetapi kami bahkan tidak terpandang. (tukang gali kubur)

Kamilah orang yang terus menunggu dengan kokoh datangnya pertolongan pada gangguan perjalanan mereka. Sebagian dari kami memang tidak jujur. Tetapi setelah itu kami ditinggalkan dan terlupakan begitu saja. (tukang di bengkel)

Kamilah para pejuang Indonesia yang melahirkan seorang sosok presiden negara adi kuasa. Walau pada akhirnya nasib kami tetap sama. (tukang bakso, sate, nasi goreng dll)

Kami tidak mau memperlihatkan perjuangan kami, karena terlalu sulit untuk di jalaskan. Namun kamilah orang-orang yang terus menjaga adanya kebaikkan dan terus kami perjuangkan sampai ajal kami. (Sang Pencerah)

Kami terus menyusuri jalan-jalan dengan kendaraan sekilas yang kami tumpangi untuk terus mencari makan. Terkadang tembang dan syair kami di anggap menggangu. Sadarkah kalian, kami juga manusia? (pengamen)

Kami memang pengendara sejati. Selalu berada di tempat-tempat yang berbeda. Tujuan kami memang menolong, dan inilah apa yang kami kerjakan. (supir kendaraan umum)

Kamilah orang yang membuat dunia ini tidak terasa kaku, lebih berwarna dan penuh dengan bintang. Tetapi di zaman oleh para manusia modern ini. Kami dianggap sampah. (manusia alay)

Dan Pada Akhirnya

Kami bukan avatar. Kami bukan dewa. Kami orang yang menghasilkan roman untuk penyemangat kalian generasi yang menentukan kemana dunia ini akan arah. Kami melihat dan kami terus berkarya. Inilah kami. Orang-orang yang bermodalkan pena demi kata mutiara yang tak akan pernah pudar oleh waktu. Siapa kami? Siapa diriku? (Kamilah Pujangga)

Warung Maya

komputer tua

Ini adalah rangkaian dari puluhan kata yang berunding dan menentukkan jalan hidup mereka bersama sehingga menjadi sebuah catatan. Catatan yang di buat di tengah-tengah problematika hidup di Jakarta dengan sejuta kisah hidup remaja yang hidup di sebuah desa kota.

Ku lakukan aktivitas biasa yang begitu luar biasa. Di selimuti malam nan dingin dengan ditemani sebuah flashdisk yang sejak tadi menempel kelap-kelip di komputer dan mulai menghangat, juga didampingi client tetangga yang sedang asik di depan monitor dengan kesibukannya yang begitu penuh dengan rahasia.

Sesekali ku menoleh ke arah dompet nan kucel dan suram melihat kisah masa lalu dan berkata ‘kenapa kemarin uangnya sudah ku habiskan?’. Tak tergoda sedikit pun imanku mampir ke halaman kotor di tempat perkembang-biakkan iblis ini. Terkadang canda orang yang sedang bermain game online memecahkan suasana pinggiran jalan dengan jeritan penuh dengan kekesalan, tidak lupa dibuntuti dengan kata hewan yang sudah tidak tabu lagi (mereka menggonggong di malam hari). Sebuah tanda billing dengan nyamannya memainkan detik demi detik. Gangguan-gangguan yang menyelimuti, suasana malam yang semakin mencekam, di tambah bunyi cekikikan sang client jauh di seberang sana. Terlebih lagi, terkadang bulu kuduk berdiri ketika mencium aroma yang menghantui seluruh manusia di muka bumi. Tidak lain adalah gas buangan manusia yang entah datang darimana namun begitu memberatkan pengendalian diri dan kesabaran.

Mata semakin berat di depan layar yang begitu kecil berukuran 1024×768 pixel ini. Perih rasanya, kalian mungkin tak bisa merasakan sakitku ini.. uuhh.. sakit sekali.. sangat sakit dan mengantuk. Rasanya mata ini ingin aku hilangkan saja. Biarlah, itu semua akan berlalu.

Di tengah keasikkanku menikmati sisa hari ini. Tiba-tiba ada sesosok yang menyambar di monitor. Jantung pun terasa ditarik keluar dari tubuh yang mungil ini. Ketika kotak yang berisikan bahasa aneh yang sudah ditafsirkan singkat, artinya “waktu anda tinggal 10 menit lagi. Silahkan menghubungi operator untuk menambah waktu”. Semakin sakit hati ini. Ujian pun datang, menguji keikhlasan untuk memisahkan aku dan komputer. Rasanya ingin menangis saja ketika melihat dompet yang tinggal bersisakan Patimura dan Imam Bonjol. Tapi paling tidak, ketika ku meninggalkan 7 langkah dari tempat ini ku akan melupakkan semua. Itulah gambaran beberapa jam aku di warung maya.

Sebelum sekolah

Ini adalah simponi kata yang tersusun menjadi sebuah lantunan cerita. Pagi yang cerah untuk jiwa yang suram. Ku bangkit dari alam baka tempat tidur. Diawali dengan membuka kedua tirai kelopak mata nan berat ini. Semakin berat mata ini terkena kerasnya tembakkan angin dari kipas yang kotor dan berdebu. Terkadang lemahnya otakku membuat tidak tahu siapa dan dimana aku berada. Seakan-akan nyawa masih berada dialam mimpi.

Ku lepaskan seluruh tenagaku untuk bangkit dari tidur menuju dudukku. Semakin sakit lagi apabila terjadi kesalahan pada posisi tidurku. Terdengar suara gemuruh dengkuran orang yang masih terpaku dalam posisi tidurnya. Juga diiringi oleh lantunan orang tua bermental baja yang sudah berada di masjid sejak tadi. Hati kecilku seringkali berkata untuk menggantikan mereka suatu saat nanti. Kemudian aku lanjutkan dengan berdiri dan berjalan setapak demi setapak menuju kamar mandi.

Kala ku berjalan, dentumanku begitu keras sehingga membuat seisi rumah pun tersadar betapa mengganggunya diriku. Ku lanjutkan perjalananku, sampai berada tepat di depan kamar mandi dengan lantai keramik yang berhiaskan kerak air. Udara dingin terkadang berhembus. Terlihat pantulan sinar dari benda berkilau yang kami sebut cermin yang menghipnotisku sehingga membuatku datang untuk menghampirinya. Tampak gumpalan daging yang mengerikan disebut wajah yang semakin hari semakin tua. Dilanjutkan mandi yang begitu berat di pagi buta ini. Ku ambil gayung demi gayung air yang dingin bagai jarum yang menembus tulang ini.

Setelah selesai, dingin bekerja sama dengan angin alam untuk membuatku terkapar dan menyerah. Dengan terburu-buru, segera ku gunakan baju yang turun-temurun sejak lama gayanya tidak berubah. Tidak lain tidak bukan adalah seragam sekolah. Ku lanjutkan dengan ibadah di pagi hari sebelum terbit ini, dan seselesainya ku lanjutkan dengan aktivitas manusiawiku yang disebut makan. Makanan sejuta umat ini (nasi) sudah menjadi bagian dalam hidupku. Setelah selesai, ku gunakan perlengkapan yang sudah ku siapkan dari malam sebelumnya. Tak lupa ku gunakan benda yang menggantung di setiap punggung siswa. Di tutup dengan pemakaian sepatu nan kucel dan beraromakan neraka ini. Ku berangkat dari rumah menuju penjara rehabilitasi anak-anak yang kami sebut sebagai sekolah. Semua kejadian tadi satu persatu mulai terlupakkan. Otak pun mulai bangkit sehingga ketika aku, keluar alangkah terkejutnya kalau aku ingat ada PR yang belum dikerjakan.

Aku Lupa

brain

Aku lupa hari itu.

Saat aku tak lagi ada di hari ini.

Aku lupa hari itu.

Aku bukan hidup di masa lalu.

Aku lupa hari itu.

Karena aku sudah tidak melihat saat terpejam.

Aku lupa hari itu.

Halaman terakhir buku yang dulu penuh itu kini telah lama kosong.

Aku lupa hari itu.

Kenangan pahit itu telah mulai pudar

Aku lupa hari itu.

Hari ini malaikatlah yang memelukku

Aku lupa hari itu.

Mungkin dimulai saat aku tidak dihantui lagi.

Aku lupa hari itu.

Aku punya ‘hari itu’ yang lain.

Aku lupa hari itu.

Karena aku mau.

Melupakan hari itu.

Ruang Tamu

kamar tua

Terpaku di sudut ruang tamu.

Berharap penantian ini usai bila pintu sudah terbuka.

Yang di dengar si anak hanya lagu sama sejak kemarin

sama dengan bayang-bayangnya.

Andai atapnya saat itu transparan

mungkin Bimasakti-lah yang dilihatnya,

bukan lampu redup tergerakan angin.

Dimana kelap-kelip hiasan dunia,

sekejap membuatnya tersenyum.

Masa, sama?

Biola dan piano berdebu diliriknya perlahan

berharap dulu ia hidup di masa lalu

 saat tangan-tangan ahli masih menjamahnya.

Winter for the four season.

Di balik jendelanya, banyak yang bertanya

“Apalah yang kurang dariku?”

suara lelaki. Yang demikian banyak

hingga akhirnya pergi.

Ia rasa semakin hening.

Lampu yang putih kini pudar cahayanya

Gadis kecil yang malang.

Tanah yang kokoh ini mulai berkerak

Dan ia masih terpaku di tempat yang sama.

“Ngah!”

ucap, tanpa ia kuasai sepenuhnya

dilihatnya jam yang berputar itu mulai tidak konsisten

kemudian mati.

Ia mulai memeluk diri dalam kesendiriannya.

dalam dinginnya, dalam gelapnya.

Ia terus menunggu. Seseorang membuka pintu

dalam penantian yang tak berujung demi menyambut tamu

terdiam dalam ruangnya, menahan buncahan sendu

kenapa kamu?

Sembari melihat kaca, ternyata aku sudah dewasa

tidak, tua senja

dan masih melakukan hal yang sama.

Menunggu sosok membuka dari balik pintu.

Menanti sosok yang justru tak akan pernah datang.

Menanti lelaki yang sempurna.

Ketika Hujan

kehujanan

Terlahir kala hujan.

Dan terlahir kembali bila hujan datang.

Kerinduan.

Hujan, karena kau menghalangi penerangku

Hari ini kelabu, kawan.

Awan, mengapa kau membawa hujan?

Tuhan, mengapa Kau ciptakan awan?

Ku berbaring di Tanah lapang menatap apa yang tak terlihat

Kenangan.

Wahai hujan, kau tetap sama seperti saat ku lahir.

*mengusap wajah yang terbasahi*

dinginnya angin berhembus mematikan asa.

Lagi, lagi, gila

Kemudian hujan semakin deras. Pipi ini terbasahi air mata dan hujan.

Bersujud dalam isak.

Berusaha mencari perhatian Tuhan dalam bait-bait doa.

Air ini menenggelamkan wajah.

Aku hanya lelah memikirkan, Hujan.

Petir pun mulai berani unjuk diri.

aku semakin tak berdaya. Ketakutan ini merobek jantung

dengan mata yang terpejam serapat mungkin,

Tetapi memori masa itu justru

semakin jelas tampak.

Tuhan, kapan Kau memberhentikan?

Perkataanku hanya ucapan. Pikiranku hanyalah harapan.

Tubuh ini hanya titipan. Hati ini adalah ketidak-pastian.

Buatlah ini berakhir, berikan kenangan baru seselesainya hujan.

Kemudian berhenti.

Seketika air cepat surut. Pelangi berimprovisasi secukupnya.

Orang yang tadi berlindung di balik tembok dan atap

mulai kembali gagah menapaki bumi-Mu.

Aku pun bangkit.

Sedikit-sedikit melupakan peristiwa.

Raja siang telah pamer ternyata.

Hujan telah berhenti, kenangan di dalamnya masih berlanjut.

Tuhan, aku merindukan hujan.

 -Aris Gunawan, dalam Alam pun Mengenang-