Perahu Waktu

Entah kenapa saya suka dengan perumpamaan bahwa hidup ini layaknya berada di atas perahu. Dan lautan inilah dunianya.

Hanya Tuhan yang tahu seberapa besar ukuran perahu kita. Ada perahu besar yang bisa membawa banyak perbekalan, ada pula perahu kecil yang hanya sekadar menampung tubuh kita sendiri. Maka kadang tidak heran ada orang yang menaikkan ikan, harta, dan hal lainnya dari lautan tetapi ia tidak tenggelam. Meski hakikat apa yang dicari dari laut sebetulnya hanyalah sebatas untuk menyambung hidup. Itulah mengapa akan ada waktunya saat keserakahan akan menenggelamkan seseorang. Saat ia menaikkan hal yang seharusnya ke atas perahunya.

Perahu waktu terus membawa kita. Bisa saja kita berusaha mendayung yang notabene kita sendiri tahu bahwa ombak lebih kuat ketimbang otot. Agak lucu, seperti ikhtiarnya seseorang yang menentang takdir.

Dan disitulah bagaimana Tuhan berperan. Sebesar apapun upaya seseorang yang berada di tengah lautan, lautan tidak akan pernah bisa dikendalikan. Maka benar Imam Ghazali mengajarkan bahwa perumpamaan dalam berdoa seharusnya bagaikan seseorang yang berada di tengah lautan dengan terombang-ambing di atas sebuah kayu. Iya, tiada kekuatan lain yang dapat menolong selain Tuhan, maka berserah dirilah dalam kehidupan.

Saat kita merasa sendirian, percayalah kita memang sendirian. Perahu yang kita tumpangi sejatinya memang untuk kita sendiri. Terkecuali memang ada saatnya kita membangun bahtera rumah tangga. Ada saat-saat dimana kita mengarungi lautan tidak lagi sendirian. Tetapi ada saatnya kelak mungkin kita akan sendirian lagi. Saat anak-anak kita sudah tak bisa lagi kita tampung dalam bahtera sehingga agar tidak tenggelam, ia membangun perahunya sendiri. Dan dalam takdir yang telah ditentukan, pasangan kita pun bisa meninggalkan kita lebih dahulu. Atau mungkin kita yang lebih dulu.

Kalau begitu, siapa yang akan selamat?

Mereka yang selamat ialah mereka yang menjaga dirinya agar tidak tenggelam. Hingga pada akhirnya mereka sampai di tempat tujuan yang seharusnya tanpa harus tenggelam. Mungkin saja itu terjadi kepada kerabat kita yang lebih dahulu mendahului kita, mungkin pula pasangan kita, atau mungkin nanti kita bersamaan mereka.

***

Entahlah, tapi kali ini saya ingin mengarungi lautan ini sendiri. Mungkin dalam waktu yang cukup lama. Karena beberapa kali mencoba mengarungi bersama dengan orang yang diharapkan, yang didapat hanya kekecewaan dan keadaan dimana hampir tenggelam.

Karena Begitulah Lelaki

13782158_10201897274990999_1189968039369598390_n

Kadang hanya demi terlihat istimewa, seorang lelaki justru lupa akan jati dirinya.

Setiap lelaki adalah tulang punggung. Kelak nantinya akan mencari nafkah. Jati diri lelaki adalah bekerja. Laki-laki dinilai dari produktifitas dan kesibukannya. Seorang laki-laki sudah qodratnya untuk mencari uang dan wajib memberikannya kepada mereka yang memang berhak. Hal yang aneh bila seorang lelaki justru menghabiskan uangnya hanya untuk kepuasan diri mereka semata. Maka wajar bila seseorang mempertanyakan kepada lelaki akan kemana saja ia menggunakan uangnya. Ini bukan tentang besar-tidaknya penghasilan. Ini tentang prinsip lelaki yang berjuang mencari untuk memberi. Karena apalah guna penghasilan tinggi bila ia gunakan sendiri.

Kelak lelaki adalah pemimpin keluarga. Jati diri lelaki adalah amanah yang diembannya. Jikalau amanahnya saja sering ia tinggalkan, bagaimana mungkin lelaki dapat dipercaya untuk mengemudi bathera rumah tangga? Setiap jiwa adalah amanah. Lelaki yang tidak mampu untuk menjaga dirinya sejatinya tidak akan mampu menjaga apapun. Berlaku pula lelaki yang tidak mampu menjaga perasaannya, maka ia tak akan mampu menjaga perasaan siapapun. Begitulah kodrat lelaki. Apalah arti lelaki rupawan jika itu hanyalah tumpuan untuk menyakiti setiap perempuan.

Harga diri lelaki adalah setiap kata-katanya. Seseorang teman pernah berkata “seorang lelaki dilihat dari kata-katanya. Jika kata-katanya saja tidak bisa dijadikan pegangan, lantas apalagi yang bisa dilihat darinya?” Seseorang perempuan mungkin akan berbohong demi menyelamatkan banyak orang. Tetapi seseorang lelaki yang berbohong justru akan menyakiti banyak perasaan. Saat seorang lelaki berubah menjadi lebih baik, maka apa yang diperbuat di masa lalunya mungkin tidaklah terlalu penting. Namun apa yang pernah dikatakan di masa lalunya tetap menjadi hal yang penting.

Suatu saat nanti, lelaki adalah pemegang keputusan dalam keluarga. Meski bukan seorang ulama, ucapan laki-laki adalah fatwa bagi keluarganya. Sedangkan sebuah keputusan butuh ilmu. Maka jati diri lelaki adalah dilihat dari apa yang ia ketahui. Apa yang seseorang ketahui berasal dari apa yang ia lihat dan dengar. Maka hal yang lumrah bila mempertanyakan kepada seorang lelaki atas perihal kepada siapa ia berguru, apa saja yang biasa ia tonton dan dengarkan, apa saja yang telah ia baca, dan apa saja yang telah ia pelajari. Ini bukan tentang gelar di perguruan tinggi. Ini tentang sejauh mana seseorang lelaki mengetahui apa yang ia perbuat.

Setiap lelaki adalah wakil keluarga dalam masyarakat. Maka jati diri lelaki adalah pergaulannya. Lelaki diukur dari loyalitasnya terhadap pergaulan. Terlebih lagi perihal dengan siapa ia bergaul. Karena pergaulan lelaki adalah sebagian dari imannya. Apalah arti sebuah ketenaran seorang lelaki yang sejatinya tidak memiliki sahabat-sahabat yang akan menolongnya saat dalam kesusahan. Loyalitas lelaki adalah harga dari seorang lelaki. Terutama loyalitasnya kepada ibunya.

Ternyata menjadi lelaki memang tidak mudah. Itulah mengapa Tuhan menciptakan perempuan. Tentu untuk menyempurnakan harga diri lelaki. Ketahuilah, seseorang lelaki yang menghargai perempuan bukan berarti harga dirinya akan jatuh. Justru boleh jadi kelak perempuan yang dihargai oleh lelaki itulah yang akan bersaksi kepada Tuhan bahwa lelaki tersebut memang layak untuk diberikan derajat dan harga diri yang tinggi.

Mantra

Biarlah samudra itu menunjukkan bahwa ia tak mampu menenggelamkan rasaku sebagaimana hatimu melakukannya.

Biarlah petir itu bersaksi bahwa ia tak mampu menyambar kesadaranku sebagaimana setiap panggilanmu melakukannya.

Biarlah gunung itu bersaksi bahwa ia tak mampu meluluhlantakkan egoku sebagaimana setiap rayuanmu melakukannya.

Jikalau hari ini ada karena kumpulan detik, maka detik-detik denganmu adalah kesempurnaan hariku.

Jikalau mentari itu adalah kumpulan masa hingga menjadikannya bercahaya, maka masa-masa yang kulalui denganmu ialah cahaya yang menerangiku di setiap lembaran usia.

Berpikir tentangmu kadang membuatku melakukan hal-hal aneh. Seperti tersenyum menatap jendela. Seakan seisi dunia ini tampak membuatku bahagia.

Berpikir tentangmu kadang membuatku melakukan hal-hal aneh. Seperti bernyanyi di hadapan cermin. Seakan seisi dunia ini sedang memujaku.

Satu alasan mengapa kau adalah yang terbaik ialah kau membuatku tak bisa lagi melirik bahkan kepada yang baik-baik!

Satu alasan mengapa kau adalah yang terindah ialah dengan mengingatmu saja segalanya tampak menjadi lebih indah!

***

Hai kamu, iya!

Setiap pagi dan sorenya menjelma doa

Agar kamu memimpin hati ini dengan tahta

Permaisuri dengan cipta dan cinta

Yang mengangkatku menjadi pemahat kata

Sekaligus Raja

Hai kamu, iya!

Setiap siangnya menjadi tenaga

Agar aku memiliki kuasa

Yang selalu memacu asa

Semangat dalam kerja

Hai kamu!

Setiap malamnya menjelma rindu

Sayangku

Ini tentang kamu, aku

Selalu

Bumi Itu Kamu

1607084

Sampai saat ini
Atmosfer itu hanya ada padamu
Hingga rasanya seperti sesak bila jauh darimu.
Cobalah sesekali melambai padaku
Bukankah gemulai tanganmu begitu ayu
Layaknya ukiran batu dan pasir di Arizona

Di tengah yang terang kau layaknya mutiara
Pada yang gelap, kau nampak layaknya aurora.
Selalu sejuk bagai oasis di tengah Sahara
Mengalihkan perhatianku bagai kompas yang selalu ke arah Utara

Senyummu mengingatkanku pada lengkungan di cakrawala
Sesekali tampak gigimu yang laksana permata
Kadang juga seperti matahari di kala senja
Inginkah kau menyapa?
Nanti aku terbang ke Antartika

Kau membuatku lupa akan setiap pendakianku
Wajahmu lebih cantik dari panorama yang ada
Tampaknya aku jatuh padamu
Ada gravitasi yang menyelimutimu
Bisakah kau menatapku
Agar aku tahu sepasang amethyst matamu itu?

Aku bingung, pakaianmu selalu serasi
Seperti danau tiga warna
Setiap untaian kata yang kau buat
Benar-benar menenggelamkanku bagai Niagara
Kadang juga menenangkan seperti Katatumbo
Tapi tetap indah layaknya Raja Ampat

Kau pasti wanita yang setegar Maunakea
Kau memiliki hati sedalam palung Mariana
Kesabaran seluas Eurasia
Pengetahuan setinggi dirgantara
Biarkan aku bernaung padamu
Karena Bumi itu kamu

*nb: Sedangkan aku hanyalah ampas jus mengkudu

Apa yang Kadang Mampu Saya Lihat

Godaan terbesar manusia adalah menjadi biasa saja. Dan bila masih tergoda, maka jadilah binasa.

Saat orang menganggap saya bodoh karena nilai saya yang buruk.
Saya pun terdiam.

Saat beberapa tahun kemudian saya mengukir prestasi, orang pun mulai memuji.
Saya pun terdiam.

Saat saya mendapatkan peringkat yang cukup buruk, semua orang menghujat.
Saya pun terdiam.

Saat nilai tryout saya tertinggi, semua orang pun tercengang.
Saya pun terdiam.

Saat nilai Ujian Nasional saya tidak terlalu bagus, semua orang tertawa.
Saya pun terdiam.

Saat orang mendapatkan berita bahwa saya masuk ke Perguruan Tinggi Negeri ternama, mereka memberikan selamat.
Saya pun terdiam.

Saat saya menolak untuk masuk ke PTN ternama dan lebih memilih PTN biasa saja, semua orang mengutuk.
Saya pun terdiam.

Saat mereka tahu saya mendapatkan beasiswa, mereka bangga.
Saya pun terdiam.

Saat saya mendapatkan nilai yang buruk di perkuliahan karena memilih organisasi, orang-orang mencaci.
Saya pun terdiam.

Saat saya menjadi ketua organisasi, mereka mulai bangga.
Saya pun terdiam.

Saat saya tidak lulus tepat waktu, orang-orang mulai menggunjing.
Saya pun terdiam.

Jadi tidak perlu angkat bicara. Cukup melihat saja. Beginipun saya suka.

Lagipula ada urusan apa sehingga seseorang mengomentari bahkan mengambil kesimpulan setiap nasib orang lain?

Artefak

 

 

Heart shaped tree on open book

Sesekali aku ini ingin menjadi malaikat, yang selalu patuh kepada Tuhan agar terus mendampingimu. Tapi apa asiknya bila dibandingkan menjadi orang yang mencintaimu meski tak selalu ada disampingmu.

***

Kamu terjebak dalam setiap neuron, setiap arteri, dan setiap syaraf yang aku punya. Dan cara aku mengeluarkanmu, adalah dengan menuliskan semua tentangmu.

***

Selama ini aku bertopeng keluguan, bukan sebagai seorang penipu. Melainkan agar berpura-pura tidak mengetahui kekuranganmu agar kamu tetap nyaman.

***

Ada alasan Tuhan menyembunyikan masa depan, agar kita tetap berusaha. Setiap masa memiliki ujian dan musibahnya masing-masing.

***

Sebuah keajaiban bukan ada sekadar untuk cinta atau dapatnya pujian manusia. Ia ada agar kita kembali kepada Tuhan.

***

Akan ada banyak pilihan agar dapat disebut rupawan. Tetapi cukup dengan satu pilihan agar dapat disebut setia.

***

Setiap orang pasti menghargai harta. Dan investasi yang paling berharga itu kepercayaan.

***

Hidup itu tentang pilihan. Dan sejatinya manusia hanya ingin memilih agar tidak menyesal.

***

Seorang ibu pasti menyukai anaknya apa adanya. Tubuhnya, jiwanya, tawanya, tangisnya, kelebihannya, maupun kekurangannya. Tidak ada ibu yang menyukai darah dagingnya dengan seperlunya. Belajarlah arti cinta dari seorang ibu.

***

Kelak selain di dunia, air mata tidaklah berharga. Menangislah sesukamu bila memang itu baik.

***

Aku akan selalu peduli kemanapun kau pergi. Selama kamu sadar bahwa aku adalah tempat kau pulang.

***.

Batasan keputusan untuk bertahan dapat dikatakan bodoh atau bijak hanyalah persoalan saat kita masih dihargai atau tidak.

***

Bila kelak kita menemukan orang yang pantas untuk dicintai seumur hidup, sejatinya kita telah mendapatkan sebuah pencapaian yang indah dalam hidup.

***

Musuh adalah guru yang mengajarkan bahwa hidup tak selalu tentang cinta.

***

Tidak perlu harus jauh mendaki sebuah puncak. Menatap dirimu saja sudah cukup.

***

Menyebut namamu adalah reflek yang sulit kukendalikan setelah menyebut Tuhan dan utusan-Nya dalam setiap doaku.

***

Jikalau mengingatmu membuatku mengingat Tuhan, aku pikir ini cinta.

***

Alasan dari munculnya rasa bosan manusia adalah karena tidak menghasilkan apapun. 

***

Buanglah apa yang membuatmu takut. Meski sulit, setidaknya itu tidak akan membuahkan penyesalan.

***

Cinta itu indah karena kesuciannya. Dan akan semakin indah bila kita sabar.

***

Sebuah “maaf” tak pernah salah meski diucapkan berulang-kali, apalagi untuk Tuhan. 

***

Hanya karena kamu mencintai langit karena tinggi dan indahnya, kamu sampai lupa daratan. Padahal bila kamu kenal langit, apa yang ada di atas sana jauh akan lebih berbahaya untukmu.

***

Cinta itu memang ada bagian pengorbanannya. Bila merasa menjadi korban, itu belum bisa disebut cinta.

***

Cinta itu seperti ekosistem. Ada yang harus tumbang untuk melindungi mereka yang harus bertahan.

***

Rindu itu duri yang digenggam. Sedangkan merindukan masa lalu itu seakan kita sedang menonjok sesuatu dengan tangan yang memegang duri itu.

***

Mengingat kematian itu membuat seseorang menjadi memiliki visi yang elegan.

***

Ada kalanya kita harus egois soal cinta. Karena cinta yang dibagi-bagi itu terlalu aneh. Kalaupun ingin selalu berbagi, berbagilah kebahagiaan.

***

Cinta adalah jawaban yang mengalahkan hal logis. Mirip seperti sihir. Yang membedakan adalah dalam cinta memiliki elemen harapan.

***

Rasanya aku ingin sekali pergi ke tanah lapang. Meneriakkan namamu. Hingga aku sadar bahwa kamu tidak ada. 

***

Aku ingin benar-benar ingin berhenti bila mencintai itu sakit. Paling tidak, aku bisa berhenti sejenak untuk beristirahat kemudian kembali mencintai lagi.

***

Kenangan itu manis saat kau tidak bisa menggapainya dikarenakan waktulah yang membuatnya tidak bisa, bukan karena pernah ada kebencian di dalamnya.

***

Tuhan memberikan waktu kesendirian untuk memperbaiki diri. Bukan untuk meratapi apa yang memang tidak diberikan Tuhan kepadamu.

***

Aku ini seperti berada di sebuah panggung “pura-pura kuat” dalam sebuah acara bertajuk “kesabaran menghadapi kenyataan”.

***

Kadang ada masa saat aku ditinggalkan seseorang. Itulah saatnya mengejar ketertinggalan, bukan mengejar ia yang meninggalkan.

***

Mencintai ajaran Tuhan dan diri sendiri adalah dua cinta yang selalu terbalas.

***

Untuk menjadi sadar, perjalanannya cukup panjang. Dari mulai merendah, bersabar, bersyukur, beribadah, bergaul, berkarya, bahkan sampai pergi ketempat yang sangat jauh. Hingga akhirnya aku mengetahui betul bahwa karunia terindah adalah apa yang diperjuangkan kemudian disyukuri.

Yang Tidak Berubah

Sampai pada jam pasir ini telah habis seluruhnya

Sampai pelangi ini pun usai dilukis

Sampai akhirnya usia ini pun mulai terkikis

Darahmu ini tetap menyakitimu

Tulangmu ini terus memebanimu

Jemari ini pun bahkan belum selesai menodaimu

Dan engkau selalu sama saja

Balasan sayang masih tetap terasa sama

Meskipun kini keriput itu mulai mencoba menutupinya

Senyumanmu tetap yang terbaik

Ibu

Butuh Cermin

Seorang senior pernah menyampaikan hal yang cukup membuat saya tersenyum. “Perowi bukan membohongi kucing. Saat tangan seorang perowi memberikan isyarat kepada seekor kucing agar kemudian si-kucing menghampirinya, itu memang sedari awal sang perowi ingin bermain dengan kucing. Tapi malah perowi dianggap bohong dengan alasan si-kucing menganggap bahwa isyarat tangan yang dimaksud adalah ingin memberinya makan. Dan saat menyadari di tangan perowi tidak ada makanan, merasa dibohongi. Padahal perowi gak PHP, ya memang kucingnya saja yang geer.

***

Kenyataan kadang memang sulit untuk dipahami. Terutama di zaman modern ini muncul istilah-istilah yang sejatinya mengabu-abukan empati.

Orang takut peduli karena takut dibilang kepo.

Orang takut tersakiti karena takut dibilang baper.

Orang takut ramah karena takut dibilang sok asik.

Orang takut kreatif karena takut dibilang alay.

Orang takut empati karena takut dibilang modus.

Orang takut diam karena takut dibilang kaku.

Orang takut menasihati karena takut dibilang sok iya.

Orang takut bijak karena takut dibilang sok suci.

Atau

Orang takut berkenalan lebih jauh karena takut dibilang PHP.

Dan takut merespon lebih jauh karena takut dibilang geer.

Terlalu banyak rambu-rambu yang mengatur manusia. Sehingga lama-kelamaan orang jadi malas hidup di dunia nyata. Kemudian menciptakan kepribadian idealnya sendiri di media sosial yang seolah lahir tanpa cacat. Dengan rupa yang dibuat sebagus mungkin dan kalimat yang disusun seindah mungkin. Berikutnya energi untuk saling merasa bahwa dirinya sempurna pun tumbuh. Sehingga bila menemukan teman sosial medianya salah sedikit, akhirnya dihujat, dicaci, bahkan dimusuhi.

Dan akhirnya muncul sebuah energi negatif baru yang belum pernah ada pada zaman sebelumnya. Inilah ilusi kebencian. Kebencian yang hadir meski sejatinya tidak ada sebab yang benar-benar pasti. Kebencian kepada sosok yang sebenarnya tidak pernah ada.

Sepertinya kita perlu bercermin untuk melihat bahwa diri kita adalah ciptaan Tuhan yang sudah sempurna dengan kadar kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Sehingga kesadaran ini akan menimbulkan rasa saling menghargai, empati, dan memunculkan sebuah energi semangat perdamaian yang baru.

***

Betul-betul sulit memberikan batasan agar tidak terjebak PHP dan geer. Tetapi bila kita tarik garis lurus, selama ini memang perowi yang disalahkan. Karena sudah qodratnya makhluk hidup memiliki sifat untuk selalu berharap. Jikalau memang tidak mau kucingnya geer, ya jangan dibuat berharap.

Meskipun begitu, saya adalah orang yang cukup mudah untuk dibuat geer. Dan sudah puas untuk terus-terusan dicaci karena ke-geer-an. Rasanya ingin bertobat saja. Sehingga bila suatu malam saya harus melewati sebuah lokasi pemakaman umum, kemudian terdengar suara panggilan menyebut nama saya. Maka saya tidak perlu takut, tidak perlu menoleh, dan abaikan saja! Karena kalau saya merespon, mungkin lagi-lagi saya akan disebut geer!

Imaji, Nona

fishy_love_by_monika_es-d5yl3oo

Aku bingung bagaimana cara romantis. Meski begitu, aku benar-benar masa bodo, Nona.

Meski marmut mampu belly dance, anak kucing menyanyi qosidah, atau pinguin bermain Catur Jawa. Wajahmu itu tetap yang paling imut.

Andai bumi memang datar, mata Illuminati kemudian belekan, atau Pokémon artinya “aku baper”. Maka memikirkanmu itu lebih penting.

Walau suatu saat kuntilanak pakai bikini, pocong terkena obesitas, dan tuyul jadi dosen matematika. Maka kehilangan dirimu itu tetap lebih kutakuti.

Sampai Einstein pakai bocoran UN, Donald Trump ngefans sama Jarwo, Mr. Krab jadi karyawan Bank Indonesia. Tertawamu itu lebih kunantikan.

Meskipun nanti Ichigo jadi wakil Kurapika dalam pemilu Turki. Atau Cucu Sasuke jadi bintang sinetron Uttaran. Kabar tentangmu ialah tetap yang utama.

Pada hari dimana Saitama bertarung melawan Ipman, ninja Hatori dilantik jadi Hokage, dan Annabelle berhijab syar’i. Menyaksikanmu tetap jauh lebih istimewa.

Jika nanti Harry Panca ternyata ayahnya Upin dan Ipin, atau Stephen Hawking ternyata korban vaksin palsu. Maka itu tak lebih penting daripada membuatmu ceria.

Sampai semua hiu dibehel, semua ular kena pholio, dan semua sapi jadi anoreksia. Maka mencintaimu belum bisa kuhentikan.

Hingga nanti test TOEFL dijadikan ujian chunin, Detective Conan main kuda reot, dan Spiderman bunuh diri pakai Baygon. Biarkan aku tetap memujamu.

Meski Kim Jong Un buka bimbingan belajar, Mark Zuckerberg buka Biro Jasa STNK, dan Putin buka kedai seblak. Aku lebih tertarik dengan pesona dan aktivitasmu.

Masa bodo dulunya Valak pernah main Tamiya, Superman pakai celana dalam di kepala, atau Ariana Grande menge-chat pribadi. Apa yang kita lalui nanti adalah kenangan yang membuat orang lain iri.

Tetapi, sekalipun aspartame dan detergen dipadukan air laut dan cuka untuk kujadikan obat tetes mata, maka air mata ini jelas tak akan lebih banyak ketimbang mengetahui bahwa aku telah menyakitimu, Nona.

Dilema antara Tetap Konsisten atau Melakukan Resolusi

Sudah menjadi hal yang cukup latah bagi saya bilamana setelah usai sholat berjamaah di masjid, maka saya mundur menuju barisan paling belakang. Tak lain untuk mempersilakan bagi jamaah yang belum/ingin menunaikan sholat agar bisa melaksanakannya di barisan depan. Selain itu saya pun nyaman untuk melanjutkan berdoa tanpa harus khawatir mengganggu mereka yang sedang melaksanakan sholat. Lagipula, di barisan yang paling belakang ini saya justru punya kesempatan mengamati bagaimana cara para jamaah melaksanakan sholat. Bagi orang yang tahu banyak tentang saya, tatapan saya saat seperti ini merupakan hal yang cukup menyeramkan. Mungkin karena mereka tahu biasanya setelah ini saya pasti berkomentar.

“Tadi imamnya salah bacaannya.” tiba-tiba selentingan tersebut keluar dari jamaah yang ada di sebelah. Mendengar hal itu saya pun membenarkan hal yang ia katakan barusan, karena memang saya pun menyadarinya. Tapi tetap saya lanjutkan sholat sebagai bentuk menyempurnakan rukun.Memang benar dalam sholat berjamaah keputusan bisa diambil dengan mudah seperti demikian. Tetapi kadang dalam episode kehidupan, posisi seperti ini bisa diibaratkan sebuah dilema.

***

Pastinya seseorang pernah mengalami sebuah jebakan pikiran antara memilih ‘dikerjakan salah, tapi butuh’ atau ‘ditinggalkan mungkin benar, tapi sengsara’. Dalam kondisi lain yaitu dilema antara memilih untuk tetap konsisten atau melakukan resolusi. Atau seperti memilih antara yang terjamin tetapi sedikit atau yang berisiko terapi banyak. Dan masih banyak lagi kondisi senada yang sebenarnya memang tak akan lepas dari kodrat manusia.

Percayalah bahwa Tuhan Maha Adil, karena masih memberikan kesempatan bagi hambanya untuk memilih dan tidak harus melulu me-robot. Hanya saja dalam memilih kadang timbul keraguan. Keraguan itu datangnya dari ketakutan. Umumnya muncul dari ketakutan akan kehilangan apa yang telah dimiliki. Seperti kehilangan uang, teman, rasa aman, waktu luang, atau mungkin cinta.

Bilamana hidup diibaratkan sebuah buku, maka disinilah guna halaman sebelumnya. Yaitu agar kita bisa memahami apa yang ada pada halaman berikutnya. Sejatinya ketakutan adalah sebuah ilusi karena kita tidak mengerti akan mengatasi sebuah bahaya. Pada sebuah pilihan yang sulit, sebenarnya yang perlu dilakukan adalah belajar. Kita ragu karena kita belum banyak belajar. Maka tiada salahnya bila kita belajar terlebih dahulu sebelum memutuskan. Itulah mengapa belajar menjadi hal yang diwajibkan bagi setiap manusia. Agar kita tidak bingung, ragu, atau takut. Bukan untuk menjadikan pintar apalagi sombong.

Sebuah pilihan selalu punya risiko. Kadang juga butuh pengorbanan. Dan kadang juga memaksa kita untuk kehilangan. Tetapi mengapa harus merasa kehilangan bilamana kita sadar bahwa semua hanya sekadar titipan. Bila kita jeli, sesuatu yang dikorbankan adalah hal yang cenderung tergantikan. Memang benar, pada sebuah kondisi dimana seseorang telah konsisten selama bertahun-tahun pastinya membuat seseorang tersebut punya banyak keraguan untuk melangkah mengambil perubahan. Tetapi bila memang baik, mengapa tidak justru disegerakan. Belajarlah dari anak kelas 6 SD. Bila mereka takut masuk SMP karena khawatir kehilangan teman, guru, atau kebahagian masa kecilnya, maka mereka mungkin tidak akan menjadi apapun.

***

Sejujurnya bila saya tidak memahami bagaimana kaidah saat imam melakukan kesalahan saat sholat berjamaah, mungkin saat itu saya pun berada pada dilema antara ‘melanjutkan tapi takut gak sah’ atau ‘memisahkan diri tapi jadi gak dapet pahala berjamaah’. Disinilah contoh peran bagaimana ilmu menyelamatkan kegalauan seseorang. Untungnya, bagi saya, memilih kamu adalah bentuk menyelamatkan diri dari sebuah kegalauan.. Uhuk!